Fiction
Novelet: Esperansa (3)

21 Jul 2018


Seketika aku membungkam mulut. Tubuhku berkeringat. Apa Papa sejahat itu? Oh, Tuhan. Jika benar begitu yang terjadi, tentu wanita itu tak bisa sepenuhnya disalahkan jika tak mau menerimaku hadir dalam hidupnya. Tuhan… bagaimana bisa Papa seperti itu? Dan kami, kami semua, menjadi korbannya? Kami terbelah bukan karena sejarah negeri kami, tapi karena sejarah kehidupan Papa.

Malam itu aku kembali menimbang dan berpikir panjang hingga larut. Paginya aku memutuskan kembali ke Timor Leste. Kali ini tidak ada yang mencegah. Mama memelukku sangat lama.

“Esperansa,” ucap Mama.

“Tetaplah berharap pertolongan dari Tuhan.”

Carolin menggenggam tanganku kuat-kuat. Dan Antoni mengantar sampai Bali. Sesungguhnya dia ingin menemaniku sampai Dili, tapi dia tidak sempat bikin paspor. Seperti waktu kecil, Antoni mengusap kepalaku saat akan berpisah. Sepanjang penerbangan berbagai pertanyaan dan jawaban memenuhi kepalaku. Begitu pesawat mendarat di Bandara Comoro, Abilio sudah menunggu di sana. Lelaki itu menepuk bahuku.

“Siap?”

Aku mengangguk. Belum pernah aku merasa gugup seperti ini untuk bertemu seseorang, apalagi orang itu adalah papaku sendiri. “Emili?” Papa tampak terkejut dengan kedatanganku. “Kau tidak memberi kabar.”
Hanya beberapa hari aku meninggalkannya. Tetapi Papa tampak lebih tua. Matanya cekung dan merah. Aku yakin Papa memikirkan bagaimana pertemuanku dengan Mama. Atau justru pertemuannya denganku?

“Papa mengkhawatirkanmu.” Aku tidak menjawab.

“Papa minta maaf.”

Aku masih diam.

“Kau boleh menghukumku apa saja.” Suara itu serak dan dalam. “Aku memang layak dihukum.”

“Apakah aku bisa bertemu dengannya?” Ucapan itu meluncur begitu saja, seperti bukan suaraku.

“Helen?”

Jadi namanya Helen?

“Setelah kau baca ini.”

Papa membuka kotak kecil di sampingnya. Sepertinya dia sudah menyiapkan itu sebelum aku datang. “Helen titip ini. Dia memintaku memberikan kepadamu, kapan pun kau siap.” Surat. Aku lelah mendapat pesan secara tidak langsung seperti ini.setelah Papa, lalu wanita bernama Helen. Apakah rasa bersalah memang membuat orang tak berani bicara secara langsung?

Didorong rasa panasaran, aku menerima surat bersampul cokelat yang disodorkan Papa. Kulepas pengaitnya, lalu menarik isinya. Aku menghela napas panjang, membuka lipatan itu dan menemukan tulisan tangan tegak bersambung.  

Emilia

Sesungguhnya aku tidak tahu harus memulai surat ini dari  mana. Tetapi, kalau waktu bisa diulang, tentu aku tak akan melakukan hal bodoh dalam hidupku. Aku kelas tiga SMA ketika jatuh hati pada Faustino.

Kami bertemu di pesta pernikahan saudaraku. Ada alkohol dalam pesta itu. Dan dari sana kesalahan bermula. Kesalahan memalukan yang akhirnya kau yang harus menerima akibatnya.

Aku memang salah. Kehadiranmu kuanggap sebagai hukuman dari Tuhan atas norma yang kulanggar. Kujalani sembilan bulan dalam pengasingan. Semua demi keluarga besar yang kehormatannya telah tercoreng karena ulahku.

Setelah kau lahir, aku tidak diizinkan melihatmu. Sama sekali tidak. Aku memohon untuk mendekapmu sekali saja, tapi keluargaku melarang. Lagi-lagi, aku menerima itu sebagai hukuman.

Empat bulan berikutnya, aku harus kembali sekolah. Aku masuk asrama. Kami sekeluarga pindah ke Surabaya.

Aku ke Dili awal ‘99. Mencarimu. Saat itu aku ingin membesarkanmu. Aku ingin menebus kesalahanku. Tapi, Faustino melarang. Dia tidak ingin menyakitimu. Faustino membawamu bertemu denganku dengan syarat, aku hanya boleh melihatmu dari jauh.

Beberapa waktu lalu Emilia, aku kembali lagi. Ternyata Faustino belum mau membuka rahasia perihal dirimu. Tapi, dia mengizinkan aku menemuimu di toko bukumu. Tentu saja aku datang sebagai pembeli.
Kau ingat, wanita dari Indonesia yang meminta foto denganmu sebagai bukti persatuan dua negara? Itu aku.


Aku mengalihkan pandangan dari surat itu.

"Toko buku?” tanyaku.

“Hampir setahun lalu,” jawab Papa.

Meski aku dan Abilio kerja sama untuk toko buku itu, kesibukan mengajar membuatku jarang bisa ke sana. Aku mengingat-ingat, kapan ada seseorang yang mengajakku berfoto?

Lalu sekelebat adegan hadir di ingatanku. Tidak begitu jelas wajahnya. Tapi, aku ingat seorang wanita tersenyum, dan memintaku foto bersama. Aku sama sekali tidak berpikir apa pun. Jadi, wanita itu tempat aku mendekam selama sembilan bulan, sebelum hadir ke dunia?

Aku tidak tahu, apakah aku pantas mendapat maafmu. Tetapi, jika suatu hari kau mau bertemu denganku, itu sebuah kemewahan dan hadiah besar bagiku. Tidak peduli kau memandang bagaimana, dan memanggilku apa. Aku berharap, kesempatan itu masih ada.

Kapan pun itu, kau bisa menghubungi e-mailku….

 


Topic

#fiksi, #fiksifemina, #cerber, #novelet

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?