Galang nama lelaki itu. Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengelana. Tidak kulihat ransel gemuk besar seperti para backpacker pada umumnya. Ia bukan jurnalis. Bukan pula seorang turis. Sebenarnya, aku tak peduli siapa sebenarnya lelaki berkucir di sebelahku ini. Sama halnya ia pun tak peduli siapa sebenarnya gadis kecil bergaun merah itu.
Tapi ternyata, sejak itulah kupasrahkan diriku pada Natuna. Kutulis banyak artikel berita dan esai tentang kepulauan ini. Kutulis kisah apa pun tentang Natuna. Yang tak pernah kutulis justru gerimis panjang setelah feri berlabuh di Sedanau.
Gerimis sore itu tak henti-henti merembesi hatiku yang tengah memiliki banyak lubang. Gerimis yang mengacaukan kenikmatan pejalan kaki sore hari di Sedanau. Gerimis yang menghantarkan sepotong kehangatan yang tak disangka-sangka, yang berhasil menjejalkan tubuhku pada jelaga malam di Sedanau.
Lelaki berkucir itu mengajakku bergabung untuk duduk-duduk menunggu hujan reda di kedai kopi di pinggir pelabuhan bersama temannya, seorang lelaki Medan. Kami mengobrol banyak ditemani tiga cangkir kopi dan kudapan khas Natuna, Kernas dan Lempa yang berbahan dasar ikan tongkol.
Sepekan kemudian, Galang mengirimiku surel dengan foto dua butir kelapa yang bersandar pasrah pada garis tepi pantai di depan kedai kopi. Tunas muda menyembul segar dari kelapa tersebut, berlatar belakang air laut yang tenang dengan lembah hijau Sedanau yang diwarnai barang sebatang dua batang cerobong asap pabrik.
Ia menulis; Kau tahu, Naya, kepulauan itu seperti dua butir kelapa yang sengaja kufoto tanpa maksud awalnya. Tua namun punya harapan untuk kembali muda. Asal kau tanam atau kau biarkan tumbuh sebebasnya. Ancaman selalu ada di sana. Selamat beradaptasi dengan Natuna.
Topic
#fiksifemina, #cerpenfemina


