“Lima tahun yang lalu, aku adalah instruktur renang untuk anak-anak TK dan SD. Selain cara berenang, aku juga selalu mengajarkan uitemate ini. Sampai kemudian aku menikah dan suamiku melarangku untuk mengajar lagi.”
Kami berjajar di pinggir kolam. Aku bertumpu pada pinggir kolam, berusaha meluruskan dan meregangkan tubuhku sambil mengayunkan kakiku bergantian. Geta mungkin berpikir kemampuan renangku tidak lebih baik dari murid-murid TK dan SD-nya.
“Al tidak suka aku mengajar murid-murid pria. Ia pria pencemburu dan sangat posesif,” Geta melanjutkan ceritanya.
“Maksudmu, suamimu cemburu pada pria-pria kecil?”
Geta tertawa. Tidak salah lagi. Ada sesuatu dalam nada tawanya. Satir? Takut? Kemarahan?
Aku buru-buru mencatat di kepalaku. Suami pencemburu dan posesif. Sudah bisa kubayangkan jalan cerita yang akan kutulis nanti.
“Tidak hanya pria-pria kecil. Tiap aku berada di kolam renang, akan selalu ada pria-pria besar yang meminta waktu ekstraku untuk mengajari mereka berenang. Al membenci itu.” Geta bergidik, seperti teringat sesuatu. “Pernah ada seorang pria setengah baya yang agak memaksaku. Kebetulan, Al ada di sana. Ia langsung menghampiri pria itu. Membuat hidungnya patah dan lenganku terkilir. Sehingga kami berdua harus dibawa ke rumah sakit.”
Kami lalu terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Al tidak pernah mengizinkanku berenang lagi sejak itu.”
“Sekarang?”
“Aku kabur.” Geta tertawa. Getir. “Tiap Al pergi ke luar kota, aku bisa bermain-main sebentar saat kolam sepi. Tapi, yah, bisa dibilang itu jarang terjadi.”
Aku jatuh iba kepada perempuan itu. Bisa kubayangkan hari-hari yang dilewati Geta dalam pengawasan ketat suaminya.
Topic
#FiksiFemina


