"Komala menyukaimu," ucap Anumbar ketika mereka berteduh di bawah pohon manggis.
Galang, lelaki itu tersenyum sembari mengusap rambut Komala. Anak kecil itu terlelap karena capek berlarian. Layang-layangnya masih tertambat di sebuah ranting.
"Dia hanya butuh teman bermain selagi kamu termenung," sahut Galang. Anumbar menoleh cepat.
"Aku tidak memata-matai kamu. Pokok manggis ini tempat aku biasa melukis. Dan hari-hari berikutnya terpaksa aku pindah ke tepi sungai kecil itu. Aku tidak mau mengganggu kalian. Komala malah memergoki aku."
"Aku merasa tidak diterima di tempat ini," kata Anumbar.
"Datanglah ke unitku. Ibuku akan senang menerima tamu seperti kalian," Galang menyahut cepat.
"Bagaimana dengan Komala?"
"Kau tidak boleh menyembunyikannya terus-menerus. Dia punya hak untuk berbahagia seperti anak lainnya."
"Komala kesalahanku."
"Kau bisa menebusnya dengan lebih mencintainya."
Galang menganggukkan kepala dengan senyumnya yang menawan, meyakinkan Anumbar. Dia menatap kaki kanannya yang lebih kecil. Kruknya tergeletak di sebelahnya. Sementara di langit siang, layang-layang ekor panjang berenang dengan bahagia. (f)
***
Palris Jaya
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Palris Jaya
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#FiksiFemina


