ANUMBAR mengusap keringat di kening Komala. Angin siang dari jendela tak cukup membuat sejuk kamar kecilnya. Dipandanginya wajah cantik menggemaskan itu. Semua orang yang pernah bertemu gadis mungilnya pasti akan terpesona pada wajah malaikat Komala. Namun, selalu saja Anumbar tidak memahami perasaannya. Rasa kasihnya pada Komala seperti ombak, terkadang datang mengempas, terkadang pergi.
Dalam panik memahami perasaannya, Anumbar selalu teringat Ibu. Wanita yang selalu membanggakan dirinya dengan cinta yang sederhana. Namun pada akhirnya, Anumbar membalas dengan rasa luka untuk Ibu. Kalaulah kutuk itu ada, mungkin dia sudah menjadi batu.
Apakah yang sedang Ibu lakukan saat ini? Kalaulah ia masih cukup kuat, tentu tengah membuat lekukan pakis dan bunga-bunga dengan mesin bordirnya. Siapakah yang membantu Ibu membolongi renda-renda itu kini? Dulu Anumbar dengan sabar meniup obat nyamuk bakar untuk melubangi bordiran selendang dan kebaya pesanan pelanggan Ibu. Meski kerap ia merasa gusar sebab waktu bermainnya terganggu.
Ibu berhasil membujuknya karena mereka perlu biaya untuk sekolah dan membeli buku. Saat itu, entah mengapa Anumbar selalu merasa Ibu penuh dengan cinta untuknya. Hal yang belakangan sering diragukannya pada Komala. Apakah gadis kecilnya itu juga menganggap ia sebagai ibu yang sempurna? Dengan perasaannya yang seperti ombak kepada Komala?
Topic
#FiksiFemina


