Apa ia baru saja tertidur atau ia terlalu lama melongo memandang langit? Karena saat Remon menoleh, Pak Tua Bercaping telah beranjak. Ia pergi membawa kendil dan kopinya. Remon celingukan, menoleh ke sana-sini mencari jejak yang mungkin saja tersisa sekelebat. Tapi, nihil.
“Kamu mencariku?”
Suara wanita muncul tepat di belakang pundaknya, seperti membisik namun terasa jelas dan menggaung. Membuatnya hampir memekik. Remon memundurkan badan.
Sesosok wanita, tatapannya lembut, kulitnya mengilat bagai pualam dan bibirnya semerah getah cantigi. Pastilah Sang Ndoro Putri, tak mungkin salah.
Secercah logika ganjil menghantam kepalanya. Antara hal yang selalu ia sanggah dan semua tanya tak terjawab tentang alam semesta bertubrukan. Tentu saja ini hal yang tak masuk akal, tapi tak ada jawaban lain atas keadaan ini. Ia sedang memasuki alam lelembut.
“Apakah kamu takut padaku?” Wanita itu memandang lurus mata Remon, seolah mampu membaca pikiran dan seluruh niatannya.
“Tidak.” Karena Remon memang tak takut. Lebih tepatnya, ia penasaran. “Kamukah Ndoro Putri?” Ia heran sendiri pada suaranya. Seperti sumbat kerongkongannya baru dicabut.
Wanita itu tersenyum dengan gerakan yang teramat pelan. Remon teringat pada cerita teman seperjalanannya tentang legenda seorang putri. Anak raja terasing yang moksa, menghilang dalam kesempurnaan di puncak kawah putih. Putri Rengganis.
Sang Putri menjelma menjadi penjaga hutan Gunung Hyang, gunung para dewa yang membentang dari Probolinggo hingga Situbondo. Sang Putri berpengawalkan simbah (sang kakek) yang dikatakan jelmaan dari macan kumbang. Apakah tadi Remon baru saja ngopi dengan macan kumbang? Lantas apa yang sebenarnya ia minum?
Topic
#fiksifemina


