Saat Remon letih berkutat dengan kebingungan, menyelonjorkan kaki dan menyandarkan punggung pada sebatang cemara gunung yang merunduk, bapak tua itu muncul. Datang dari balik siluet senja yang terbakar dan bertanya, “Apa kamu tersesat?”
Remon mengangguk pasrah dan pak tua itu mulai menuangkan kopi dari dalam kendil yang menyangkut di pinggang. Aroma kopi menyeruak, wangi, mengalahkan bau lumpur dan rumput basah. Mengalihkan perhatiannya dari rajam angin gunung dan rasa khawatir.
“Saya di sini sampai bulan purnama muncul,” pak tua itu memberi tahunya. “Setelah itu saya pamit pulang pada Ndoro Putri. Kamu Nak, kalau ketemu Ndoro yang sopan.”
Remon mengerutkan keningnya, beribu tanya melintas. Belum juga dia jelas tentang asal muasal pak tua, rumahnya, apalagi tujuannya berkelana sendirian di tengah gunung begini. Mengapa pak tua harus segera pergi? Ndoro Putri siapa? Apa pak tua itu tahu jalan pulang? Apakah ia boleh ikut dengannya? Tetapi, apa pun usaha yang Remon lakukan untuk membuka suara membuat kerongkongannya serasa makin disumbat bongkahan batu kali. Sesak dan mencekik.
Ia pasrah saja. Menghela napas, lalu mengangguk.
Langit lantas kian menghitam menyambut menyingsingnya bulan. Sama sekali tak ada awan yang membayangi kendati ini bulan April, bulan bergantinya musim. Dan dalam keanggunan yang sunyi, bulan muncul perlahan. Mulai dari cahaya keemasan hingga menjelma putih bulat sempurna, berkilat dan kesepian.
Topic
#fiksifemina


