“Maafkan aku, Eliz.” Jaime menemui Eliza keesokan harinya.
“Kenapa harus minta maaf?” Ada kegetiran dalam suara Eliza. Dia tahu, setelah ini semua akan berubah.
“Kau seperti dikirim Tuhan ketika aku terkapar sendirian. Kau membuat aku tertawa bahkan di saat aku berat untuk tersenyum. Kau juga membuat sore-soreku menjadi hidup. Tapi….”
“Aurora bisa memberikan lebih dari itu.”
“Tak ada yang berubah di antara kita Eliz. Kita masih bisa pulang bersama, ke kafe berdua, dan….“
“Tidak lagi.” Eliza menggeleng. “Minggu depan aku balik ke Indonesia.”
“Kenapa?”
“Tugasku sudah selesai.”
“Mendadak?”
Eliza menelan ludah. “Kita sudah sering membahasnya, ‘kan? Kau dulu bahkan ngotot mau mengantarku.”
“Sorry, Eliz. Aku… tapi mungkin aku bisa mengantarmu sampai bandara.”
Eliza tertawa hambar.
Namun, hingga di hari kepulangan Eliza ke Indonesia, Jaime bahkan tidak ada di flatnya. Eliza sempat berharap, Jaime akan memberinya kejutan di Bandara Comoro. Nyatanya, hingga pesawat meninggalkan Dili, lelaki itu tak menampakkan diri. Ponselnya juga tidak aktif.
Sejak hari itu, Eliza tak ingin lagi kembali ke Dili. Apalagi setelah melihat foto-foto pernikahan Jaime dan Aurora di media sosial. Eliza mengelak bahwa dirinya patah hati. Namun, seminggu lalu, takdir membawanya lagi ke sana.
“Aku yang menikah dengannya, tapi kau yang memenuhi hatinya.” Ucapan Aurora membuat hati Eliza perih.
“Kami hanya berteman,” kata Eliza.
“Tetapi, namamulah yang disebut-sebut saat terakhirnya. Aku sengaja mengundangmu, agar kau juga tahu, bagaimana rasanya kehilangan.” Suara Aurora terdengar pedih dan dalam. Saat itu, mereka berdiri di depan gundukan tanah basah, tempat peristirahatan terakhir Jaime.
Sekarang perasaan itu bercampur dengan aroma semangkuk mi daun pepaya yang tersaji di hadapan Eliza. Benar dia sedih, tapi cukup baginya mengenang. Sementara Aurora, wanita itu pasti merasakan luka sekaligus keperihan yang akan tersandang lama di pundaknya.
Dulu, Eliza berharap Jaime akan selalu mengingatnya. Tetapi kini dia mengerti, pada akhirnya, tak ada artinya kita abadi di hati seseorang, jika hal itu justru melukai hati orang lain. (f)
***
Shabrina W.S
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Unggulan Sayembara Cerpen Femina 2016
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
http://www.femina.co.id/fiction/


