Banyak hal tentang Jaime membuat Eliza peduli. Dia bahkan ikut merasakan nyeri tiap Jaime cerita perihal kesedihannya. Sering kali Eliza diam-diam mendoakan Jaime.
Eliza memang tidak tahu rasanya berjauhan dengan anak. Tapi, dia mengerti rasanya kehilangan sosok ayah sejak kedua orang tuanya berpisah. Barangkali, itulah kenapa Eliza selalu dihinggapi semacam kekhawatiran pada Jaime. Sering kali dia menelepon Jaime jika mereka tak pulang bersama. Menanyakan sedang apa? Di mana? Apakah baik-baik saja?
Eliza bahkan merasa khawatir berlebih jika di pagi hari pintu dan jendela Jaime masih tertutup rapat. Kamar mereka memang di sayap bangunan yang berbeda, dipisahkan oleh dua kamar lain dan tangga. Biasanya, Eliza akan menelepon Jaime dan memastikan lelaki itu sudah bangun dalam keadaan baik-baik. Tapi, sesekali Eliza berjalan untuk mengetuk pintu Jaime, jika lelaki itu tak mengangkat teleponnya.
“Kau jatuh cinta padaku, ya?” tanya Jaime.
“Hah?”
Jaime terbahak. “Hanya orang yang jatuh cinta yang punya kekhawatiran berlebihan.”
“Aku hanya enggak mau repot-repot cari daun pepaya, kalau ternyata kamu belum bangun karena mabuk,” Eliza mengelak.
Biasanya Jaime akan tertawa lagi, sementara Eliza mulai mengoreksi diri, benarkah dia selama ini terlalu berlebihan?
“Bagaimana kalau aku yang jatuh cinta padamu?” tanya Jaime suatu hari.
“Itu tidak mungkin.”
“Kalau mungkin?”
Eliza menggeleng. “Bukan tipe sepertiku yang kamu cari, Jaime. Dili punya banyak gadis cantik dan seksi.”
Percakapan itu berhenti begitu saja. Dan, mereka tidak pernah membahasnya. Apalagi kesibukan Jaime yang harus pergi ke distrik-distrik, bahkan hingga hari libur. Membuat keduanya jarang bertemu. Eliza masih seperti biasa, mengirim pesan-pesan kepada Jaime untuk bertanya kabar. Baginya, tak ada yang lebih melegakan selain mendapat jawaban bahwa lelaki itu baik-baik saja.
Sampai suatu hari, Eliza mendapat kejutan, tepat ketika dia ingin menyerahkan kado untuk ulang tahun Jaime yang terlewat. Waktu itu, Eliza baru pulang dari kantor dan melihat jendela kamar Jaime terbuka setelah ke luar kota selama tiga hari.
“Jaime!” panggil Eliza dari luar. “Jaime?” Dia mengetuk pintu.
Pintu terbuka, “Jaime di kamar mandi.” Di hadapan Eliza berdiri perempuan memakai gaun stripes kuning. Berambut pirang sebahu, dengan sepasang mata bulat dan kedua tulang pipi yang tinggi.
“Hai.” Eliza segera menguasai diri. Dia tersenyum dan mengulurkan tangan. “Eliza.”
“Aurora, pacar Jaime.”
Eliza pernah melihat sosok di hadapannya pada sebuah papan iklan di Plaza Timor. Dia ingat, Jaime cukup lama memandangi foto itu. “Aurora, mantan pacarku pas SMA.” Kira-kira seperti itu yang diucapkan Jaime.
“Ada apa, ya?” pertanyaan Aurora menyadarkan Eliza, dia terdiam cukup lama.
“Tidak apa-apa. Hanya lewat. Kapan kalian datang?”
“Baru saja.”
“Ooh. Senang berkenalan denganmu, Aurora.”
Eliza segera pamit, dengan kotak kado tetap di tangannya. Dia mengerti sekarang, Jaime bukan hanya sibuk dengan pekerjaan, tapi juga sibuk dengan kekasihnya. Barangkali, ketika Jaime bertanya apakah Eliza jatuh cinta padanya, lelaki itu hanya memastikan bahwa Eliza tidak akan patah hati.
Topic
#fiksifemina


