Mempelajari bahasa isyarat adalah impianku sejak kecil. Aku beruntung dikenalkan Ibu Katarina kepada keluarga Woehler yang mensponsoriku belajar ke Jerman.
Tapi, aku juga sangat ingin belajar bahasa Rusia. Atau bahasa Mandarin. Apa pun bahasa yang tidak beraksara Latin. Aku suka menggambar, kau tahu, ‘kan? Dan aku sangat tertarik dengan aksara.
Hening, itulah duniaku. Sebelah mataku inilah yang kuandalkan membaca dunia. Tidak banyak, sih, yang perlu kubaca, jadi tidak masalah.
Aku tiap hari senang pergi ke sekolah, sebab kalau di rumah aku tidak bisa apa-apa. Bapakku minggat dari rumah ketika adikku berumur belum genap setahun. Ibuku pedagang kecil. Dia berjualan sayur dan ikan kering di trotoar toko orang.
Ini SDLB, bukan SLB. Kalau SLB itu kan spesifikasinya ada A, B, atau C, tergantung cacatnya. Ini sekolah dasar, tapi luar biasa. Ada kelas-kelasnya, dari kelas satu sampai kelas enam. Di sini teman-temanku ada yang cacat mental dan tunarungu.
Kami kalau semuanya datang ada 70 orang, gurunya cuma enam orang. Bisa kau bayangkan bagaimana duniaku, ‘kan?
Umurku sudah banyak, tapi masih juga aku di kelas enam. Habis, mau ke mana lagi? Kami belum banyak diajari keterampilan seperti halnya penyandang difabel di sekolah luar biasa lain. Kami cuma diarahkan untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung.
Aku kewalahan berhitung, kepalaku langsung sakit kalau lihat angka-angka. Menulis sedikit kepayahan, tanganku tak lentur, susah sekali mengoordinasikan semuanya. Sepertinya cacatku bukan cuma di telinga dan mulut.
Kalau membaca aku bisa, walau harus mengeja dalam hati dan menelusuri huruf-huruf itu pelan-pelan dengan bantuan mata pulpen.
Kau punya banyak buku? Kali lain datang kau sebaiknya bawa buku-buku yang sudah pernah kau baca itu. Pinjamkan aku barang sebulan, biar duniaku sedikit bermusim.
Kami ini, sebuah dunia tanpa musim. Tapi, Tuhan memberikan kekekalan untuk kami. Sebuah kasih tanpa cela, sempurna tanpa cacat. Di hati Dia ada, bercakap dan mendengar bahasa yang teramat asing ini.
Tiada musim yang perlu berganti. Berputar. Sebab musim itu adalah Dia sendiri. Selamanya, di keabadian.
Seharusnya kau jadi penyair saja. Apa yang sudah kautahu tentang bahasa Jerman?
Semua kata benda abjad pertamanya dituliskan dalam huruf besar. Semua.
Wah, kau hebat! Itu benar. Perlu kauingat, di mana pun letaknya, baik di awal, tengah, atau akhir kalimat. Apa lagi yang sudah kautahu?
Semua benda tergolong dalam tiga jenis kelamin: maskulin, feminin, dan netral. Tapi, kenapa matahari yang garang itu dinamai die Sonne, menjadi feminin?
Ha…ha…ha… kamu cerdas, Sonya! Benar-benar cerdas. Kamu akan tahu nanti, sabarlah.
Lalu kenapa rembulan yang redup itu disebut der Mond, menjadi maskulin?
Ha… ha… ha… aku tak sangka kau sudah sampai sejauh itu mengenalnya. Sabarlah, Sonya. Nanti kau jadi tak punya pertanyaan lagi di sana.
Apakah pelajarannya nanti sulit? Aku senang belajar, tetapi selalu gugup.
Tidak, tidak sulit. Percayalah kamu bisa, Sonya. Otakmu cerdas dan sehat, Dokter Frauke Woehler kan sudah mengatakannya.
Kamu melebihkan keadaanku.
Kamu istimewa, Sonya. Banyak orang di luar sana secara fisik sehat, tetapi kalah kepada depresi dan memilih mengakhiri hidup dengan caranya sendiri.
Ah, hidup ini terlalu indah untuk menyerah kepada depresi. Apalagi mendengar dongeng empat musimmu tadi. Aku benar-benar ingin sampai di Jerman.
Tuhan akan menolongmu. Tuhan akan mengirimkan malaikatNya membantu orang setabah engkau, Sonya.
Kau begitu baik kepadaku, Ruth. Kau memberikan hampir semua hadiah uang tunaimu untuk operasiku besok.
Aku masih punya hadiah uang tunai lain, jangan khawatir.
Jaga kesehatanmu, Ruth. Kalau cedera lagi, kau tak bisa bertanding.
Baiklah, akan kujaga. Ada pesan lagi? Perawat telah membunyikan lonceng pulang.
Apa kau yakin tak mau kembali ke Jerman?
Aku mau kembali ke sana. Tetapi, tugasku di sini belum selesai. Jika Asian Para Games selesai, aku menyusulmu ke sana.
Tuhan membalas budi baikmu. Operasinya tidak sakit, ‘kan?
Aku sudah melewatinya. Tidak sakit. Rasanya hanya seperti tidur dan berjalan-jalan di taman bunga yang sangat indah. Ketika bangun kau tidak akan merasa cacat ini mengganggu lagi. Percayalah, aku sudah mengalaminya. Dokter Frauke Woehler spesialis bedah yang terbaik dari Jerman. Dia dikirim Tuhan kemari untuk kita.
Mudah-mudahan di Bremen nanti aku betah, ya.
Pasti. Stephan dan Frauke juga punya usaha yang dikerjakan dari rumah. Mereka distributor alat kedokteran. Nanti kamu akan membantu mengecek e-mail dan belajar membalas pesanan. Sore hari kamu ikut kursus bahasa dan akan bertemu dengan teman-teman dari berbagai penjuru dunia. Akses bagi difabel luas di sana, tak usah khawatir. Bahasa Rusia favorit di sana, Sonya. Kau bisa mengambil kursusnya gratis.
Femke, Joost, dan Godje tentu sudah besar ya, sekarang?
Sudah. Femke sekolah desain, Joost ikut jejak Frauke kuliah kedokteran. Godje tahun depan lulus SMA. Mereka pasti akan membantu bahasa Jerman-mu. Tiap akhir pekan biasanya mereka semua pulang. Bacakan saja koran Minggu buat mereka. Nanti mereka akan memperbaiki pengucapannya. Rajin baca koran, dengar radio, dan buka pembicaraan di meja makan. Tiga bulan di sana bahasamu pasti sudah bagus. Aku yakin.
Kau selalu bisa membuat siapa saja bersemangat, Ruth.
Baiklah, lonceng sudah dua kali berbunyi. Istirahatlah. Besok usai operasi aku akan menjengukmu. Aku benar-benar harus pergi, Sonya. Suster sudah datang. Besok kita ketemu lagi dan jika kau pulih pelajaran akan kita mulai. Episode semusim ini akan berakhir. Bersiaplah menyaksikan dongeng empat musim. Tschuess6!
Danke7, Ruth. Tschuess! (f)
Ket:
1. Winter: Musim dingin
2. Fruehling: Musim semi
3. Sommer: Musim panas
4. Lekker: Sedap, lezat
5. Herbst: Musim gugur
6. Tshuess: Sampai jumpa
7. Danke: Terima kasih
Baca Juga:
Cerita Pendek: Perempuan Penggemar Payung
Cerita Pendek: Wajah Dalam Cermin
Cerita Pendek: Aroma Selai Nanas
Topic
#cerpen, #fiksi, #ceritapendek


