Musim penghujan kali ini benar-benar parah. Guyuran air hujan menampar-nampar kaca jendela. Geledek petir sesekali terdengar. Ari terpaksa memasang head set saat menelepon Toni. Supaya suara suaminya terdengar lebih jelas.
Seminggu terakhir Ari mengikuti pelatihan yang diadakan kantornya di luar kota. Meski jadwalnya padat dan melelahkan, hatinya bahagia. Ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa memiliki kekhawatiran bakal terbangun paksa karena mendengar dering weker yang menyebalkan!
Ari terkekeh. “Aku bisa tidur nyenyak. Bangun pagi dengan segar.”
“Tapi aku hanya bisa memeluk guling,” keluh Toni. “Kamu masih berencana pulang kembali ke rumah, kan?”
“Ya, iyalah.” Ari tertawa. “Bagaimana kabar si tetangga sebelah?”
“Sepertinya ia sedang sakit. Lima hari yang lalu anak perempuannya datang. Disusul oleh anggota keluarganya yang lain.”
“Seharusnya mereka sudah datang sejak dulu,” komentar Ari. “Mereka tega sekali membiarkan orang tua itu tinggal sendirian dan kesepian.”
“Dari cerita anak perempuannya, laki-laki itu yang minta tinggal sendiri. Ia ingin menikmati kebebasan hidup dan tidak mau merepoti anak-anaknya.”
“Oh,” komentar Ari pendek. “Kalau begitu memang lain ceritanya.”
“Kamu kangen aku, enggak?” tanya Toni.
“Selama anak perempuannya datang merawat, apa dering bekernya masih mengganggumu?”
“Kau ini...,” Toni pura-pura bersungut. “Aku sedang merindukamu, kau malah membicarakan laki-laki lain.”
“Ah. Ya, ya, ya.” Ari tertawa. “Nah, sekarang kamu mau kita mengobrol apa, Sayang?”
Toni diam sejenak. “Aku sedang benar-benar menderita penyakit HBA.”
“Apa itu HBA?”
“Haus Belaian Ari,” jawab Toni terbahak. “Kapan kamu pulang?”
“Seminggu lagi, ya. Sabaar...,” jawab Ari sambil tertawa. Padahal ia sendiri juga sudah tidak sabar ingin ketemu Toni.
*****
Topic
#cerpen, #fiksi, #ceritapendek


