Aku mulai curiga dengan penjelasan Rose yang panjang lebar. Jangan-jangan sumber segala malapetaka hidupku adalah Rose. Itu pula alasannya mengapa ia begitu baik kepadaku, kepada Ayah. Dadaku mulai sesak dibuatnya. “Aku datang sesuai yang kurencanakan. Namun, sebelum aku tiba, terjadi kebakaran. Kebakarannya tidak terlalu besar dan tidak berbahaya. Singkat cerita, saat pemadaman api sedang berlangsung, seorang petugas pemadam kebakaran melihatmu menangis di depan jendela kaca apartemen lantai 4. Petugas kemudian menjemputmu dengan tangga hidrolik.
Kepada petugas pemadam kebakaran kamu bercerita bahwa kamu menangis sejak mendengar tanda kebakaran di apartemen meraung-raung, disusul sirene mobil pemadam kebakaran. Namun, tak ada yang melihatmu. Selanjutnya, ketika api berhasil dipadamkan, kamu dibawa ke kantor polisi karena mereka tak mungkin membiarkanmu sendirian di apartemen.” Aku sama sekali tidak ingat peristiwa itu. Diselamatkan pemadam kebakaran, dibawa ke kantor polisi….
“Ibu menjemputku ke kantor polisi?” Rose menggeleng. Aku menahan napas. Ceritanya makin membuatku penasaran.
“Salah seorang penghuni apartemen memberi tahu aku bahwa kamu dibawa ke kantor polisi. Segera aku menyusulmu ke sana, sambil terus mencoba menelepon ibumu, tapi tidak berhasil. Untung aku berhasil menelepon ayahmu. Ia kemudian menjemputmu.”
“Apakah Ibu dihukum?” Rose bercerita, bahwa sesungguhnya tidak ada aturan yang pasti, usia berapa seorang anak bisa ditinggal sendirian di rumah atau apartemen. Yang jelas, orang tua disarankan sebaiknya meninggalkan anak sendiri saat anak itu sudah tahu mana yang berbahaya dan tidak. Jadi, Ibu tidak dipenjara. Namun, Ibu dianggap lalai karena ia tidak ada di tempat saat terjadi kebakaran yang bisa merenggut jiwa anaknya. Alasan itulah yang membuat Ibu kehilangan hak asuhnya.
“Ayahmu mendapat hak mengasuhmu. Ibu mencoba berbicara dengan ayahmu, meminta maaf dan memohon agar kamu tetap bisa bersamanya, tapi ayahmu tak mengabulkan. Ia membawamu ke Indonesia.” Rose, salah seorang saksi dari perjalanan masa kecilku, menceritakan versi yang berbeda.
Dari cerita sebelumnya aku menganggap Ibu tega meninggalkan aku sendirian di apartemen. Apalagi kemudian terjadi kebakaran. Aku tidak tahu bahwa Ibu memikirkan keamananku dengan menitipkan aku ke Rose. Aku tidak tahu, cerita mana yang benar. Tapi, saat ini hal tersebut tidak penting lagi.
“Pernah terpikir olehnya untuk kembali ke Indonesia agar ia bisa sering melihatmu. Namun, ia tidak melakukannya. Di Indonesia, ia tak memiliki keluarga, suami, atau pekerjaan. Dengan berurai air mata ia mengatakan, ia percaya keluarga ayahmu akan mengasuhmu dengan baik. Ia tak ingin kehadirannya mengganggu mereka dan membuatmu bingung. Ia memutuskan menutup sejarah Indonesia. Memulai hidup menjadi warga negara Kanada.” (Bersambung)
Ida Ahdiah
Cek koleksi fiksi femina lainnya di:
http://www.femina.co.id/fiction/
http://www.femina.co.id/fiction/
Topic
#fiksifemina


