Fiction
Cerber: Kota Kelahiran [2]

15 Oct 2017


Usai makan, Rose menyerahkan sebuah koper warna biru. Ukurannya tidak bisa masuk kabin pesawat. Rose membawa koper itu dari apartemen Ibu yang harus dikosongkan karena masa sewanya kebetulan habis. Sesuai dengan wasiat Ibu, semua barang di apartemennya dibuang. Repot kalau didonasikan karena perlu menyewa mobil untuk membawanya,  sementara sewa mobilnya mahal. Rose tak membuang koper itu dengan alasan di dalamnya ada barang-barang lama,  yang salah satunya milikku dan ingin menunjukkannya padaku.

“Aku boleh membukanya di sini?” Aku turun dari kursi dan duduk di karpet. “Tentu saja, Dear. Silakan.” Koper tidak terisi pernuh. Di bagian atas ada sweater merah bertuliskan Universitas McGill, sepasang sarung tangan kulit, satu sarung tenun, satu kain batik motif truntum, sebuah vas bunga kristal, sebuah pena merek Parker yang tintanya harus diisi sendiri, dan kutemukan sebuah pigura perak.

“Ini aku dan Ibu, ya?” Rose mengangguk ketika kutunjukkan foto seorang perempuan sedang menggandeng tangan anak perempuan kecil berpipi penuh yang mengenakan jaket hijau, sedang tertawa lebar. 

Ibu yang mengenakan jaket biru juga tengah tertawa lebar. Baru kali ini aku melihat foto Ibu denganku. Sebelumnya,  aku melihat foto Ibu saat menikah dengan Ayah. Ia memakai kebaya putih sederhana dalam upacara sederhana, karena Ibu memang kawin lari. Foto lainnya,  Ibu dengan keluarga besar dari Ayah. Tampaknya, Ibu tergolong bukan orang yang suka difoto, mengingat zaman itu pun kamera belum sebanyak sekarang, yang bahkan ada di  tiap telepon seluler.

Selanjutnya, di koper itu aku menemukan kantong plastik yang cukup besar yang berisi mantel merah dengan label harga masih menempel. Mantel merah untuk anak perempuan. Mirip sekali dengan mantel yang dipakai oleh anak perempuan yang tengah skating di Beaver Lake tadi.

“Kamu tahu ini milik siapa?” Rose menatapku dan menunjuk aku dengan dagunya. “Milikku?” Rose mengangguk. “Aku tak pernah memakainya?”  Spontan aku mendekap mantel merah dengan leher tegak berkancing hias 4 buah.  Lalu,  aku mematut-matut mantel sepanjang 3 jengkal itu di tubuhku,  di depan  cermin dekat pintu masuk.  Betapa sulit membayangkan aku mengenakan mantel yang sangat girlie itu.

 “Malam itu, sepulang kerja, Nemah membelikan mantel yang sangat kamu inginkan ini….” “Aku  menginginkan mantel merah?” Aku heran karena merah bukan warna kesukaanku. Aku menyukai warna biru dan hijau. “Ya, mungkin saat itu kamu masih suka warna merah, seperti umumnya anak-anak yang lain.”

Menurut Rose, Ibu berusaha sekali mengumpulkan uang untuk membeli mantel yang tidak murah itu. Berulang kali aku menunjukkan kepadanya mantel merah yang dipakai oleh teman sekelasku, saat Ibu menjemputku di sekolah. Hingga suatu saat, Ibu mengaku sedih melihatku  berdiri lama di sebuah toko yang menjual mantel sejenis. ‘Sedrama’ itukah Sofi kecil?
“Namun, Nemah meraung-raung saat tiba di apartemen tak menemukanmu. Tetangga di apartemen memberi tahu  bahwa kamu berada di kantor polisi!” Cerita Rose membuat aku berhenti mematut-matut diri. Soal kantor polisi ini belum pernah aku dengar.

“Sore Sabtu di musim dingin itu, Nemah mendapat tawaran menemani orang jompo di sebuah perumahan. Jadwalnya dari pukul 2 hingga 8 malam. Katanya,  lumayan untuk menambah beli mantelmu. Kebetulan hari itu aku sedang tidak bekerja, jadi ia memintaku menemanimu di apartemen.” “Dan,  kamu tidak datang?”
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?