Pohon-pohon itu mencuat bak ratusan jari raksasa yang muncul dari hamparan salju. Sejauh pandangan, hanya ada dua warna yang perkasa: putih salju dan cokelat tua pepohonan dengan tinggi yang tidak rata. Ada tiga pria, lima wanita, dan tiga anak-anak di halte. Dua wanita berkulit hitam, satu berkulit Asia, dan dua lainnya berkulit putih. Yang manakah Rose? Beberapa kali aku mendengar suara riangnya di telepon. Menurut Ayah, Rose berdarah Jamaika.
Berarti ia berkulit hitam. Hanya ada dua orang yang berkulit hitam. Aku menebak, perempuan yang tengah menantiku memakai coat selutut, berwarna kopi susu dan sepatu bot cokelat semata kaki. Ia setengah baya, bertubuh tinggi, dengan perawakan sedang. Rambutnya yang dicat warna madu dikepang dreadlock, melewati bahunya. Wajahnya segar. Tata riasnya menyatu dengan kulitnya yang berwarna mocca. Sejak bus berhenti, mata perempuan itu mengikuti tiap penumpang yang turun, dan berhenti ketika melihatku. Terlihat dari bola matanya yang tak henti bergerak, mencari-cari.
“Sofi Anwar?” Aku mengangguk. Dari dekat, wajahnya mirip ratu talkshow, Oprah Winfrey, dengan hidung yang sedikit agak tinggi. Aku terkesan dengan senyum lembutnya yang membuatku merasa nyaman. Ia memegang telapak tanganku kencang.
“Oh, my God, kamu sudah menjadi gadis dewasa. Kamu mewarisi mata Nemah. Mewarisi rambut ayahmu.”
Ia menelitiku dari ujung sepatu bot hingga ujung rambut dengan mata takjub. Aku menyerah saat ia memelukku erat dan mengayun-ayun tubuhku. Kupejamkan mata saat mencium aroma parfum ringan dari tubuhnya yang mengingatkannya pada sesuatu yang manis, serabi, gulali, wafel, klepon…. “Kamu pasti tidak mengenaliku lagi.”
Wajah Rose setengah merengut, pura-pura merajuk. “Well, 13 tahun! Waktu yang cukup lama. Aku juga sudah banyak berubah. Bobotku bertambah.” Rose menunjuk perutnya dengan matanya.
“Ya, kamu sudah berubah banyak,” jawabku diplomatis.
Ayah pernah cerita bahwa Roselah yang menemani Ibu ketika melahirkanku. Tak jarang aku juga dititipkan di rumah Rose saat Ayah dan Ibu harus berada di kampus sepanjang hari. Dia sahabat dekat Ibu. Tapi, aku sungguh lupa pada jasa-jasanya. Lupa pada wajahnya.
“Senang bertemu denganmu Rose. Kamu tampak sehat dan gembira. Kamu tidak lupa membawa benda itu, ‘kan?”
“Please, Sofi, stop memanggil ini sebagai benda.”
Suara Rose terdengar agak meninggi. Matanya menyipit menatapku. Protes. “Benda yang berisi abu, maksudku.”
Perlahan Rose mengulurkan tangannya ke dalam tas dan mengeluarkan botol perak berukuran kecil. Ia usap-usap sejenak.
Secara takzim, dengan kedua tangannya ia berikan botol itu padaku. Gayanya mengingatkanku pada perwakilan pasukan pengibar bendera saat memberikan bendera pusaka, dalam peringatan 17 Agustus di Istana Negara. Sepanjang usia, baru kali ini aku memegang abu jenazah. Dan itu adalah abu jenazah ibuku! Tapi, perasaanku demikian datar. Tak merasa kehilangan, karena aku memang tak pernah merasa memilikinya.
Apa yang kurasakan sama halnya dengan saat di jalan aku bertemu mobil jenazah dan iring-iringan mobil berbendera kuning. Aku akan mengucapkan belasungkawa, setelah itu lupa. Segera kumasukkan botol perak itu ke tas selempang kulit sapi buatan perajin Garut. Aku khawatir botol itu jatuh, karena aku sulit menggenggamnya dengan telapak tangan yang dibalut kaus tangan kulit. “Tolong, beri tahu apa yang harus kulakukan,” kataku pada Rose.
Topic
#fiksifemina


