Fashion Trend
Relevansi Pekan Mode Ramah Lingkungan di Indonesia

4 Mar 2020


Foto: Dok. Tim Muara Bagdja

Dari keempat founder, baru Yulia Fandy dan Chintami Atmanegara yang benar-benar berusaha mengimplementasi proses pembuatan material yang bekerjasama dengan perajin UKM dari Palembang dengan menggunakan proses pewarnaan alami dengan buah-buahan yang sudah jatuh dari pohon.  Chintami Atmanegara mengangkat isu kepedulian terhadap kupu-kupu yang kerap kali dikeraskan saat masih hidup untuk menjadi hiasan, bentuk kupu dalam aplikasi bordir diaplikasikan pada busana berbahan dasar tenun garut yang diolah modern.

Sementara itu,  Ariy Arka yang mengangkat isu virus Corona dan pentingnya perawatan alam tampil memanfaatkan kain perca pada embroidery grafis acak dan pola potong kontemporer dan padu-padan dramatis. Tak banyak berbeda dari Ariy Arka, Ayu Dyah Andari kembali terjebak dengan aplikasi permainan bunga mawar yang selalu didapuk sebagai inspirasinya yang sudah tidak memberi kejutan dan terasa tak ada perkembangan, meski tetap ada implementasi penggunaan kain perca pada rancangannya.

Namun yang menjadi pertanyaan besar bukanlah presentasi parade dari keempat founders dari Fashion Rhapsody dan Harmoni Bumi. Sesi presentasi penutup yang dipercayakan kepada Ivan Gunawan yang seharusnya dapat menjadi rangkuman intisari dari tujuan diadakannya pagelaran mode ramah lingkungan justru seakan mempertanyakan tujuan dari diselenggarakanya acara tersebut.

Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih jauh.
 


Topic

#ReportaseModeFemina, #HarmoniBumi, #FashionRhapsody

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?