Kain Marmer® yang siap diolah menjadi beragam karya. Foto: Dok. Adrie Basuki
Salah satu tantangan terbesar industri fashion adalah limbah tekstil.
Jutaan ton pakaian dan sisa produksi setiap tahun berujung di tempat pembuangan akhir, sementara material seperti poliester dan blended fabric masih sulit untuk didaur ulang dengan teknologi konvensional.
Bagi Adrie Basuki, yang sejak berganti haluan jadi desainer fashion lantang menyebut dirinya desainer fashion sirkular, tantangan itu memantik sebuah kemungkinan baru.
Limbah tekstil pun ia olah dan melahirkan Kain Marmer®, sebuah inovasi material yang mentransformasikan pakaian bekas dan limbah tekstil menjadi lembaran baru dengan karakter visual menyerupai marmer alami, dan mampu memberikan kehidupan kedua kepada material yang telah ada.
Proses pembuatan Kain Marmer®, dari pengumpulan dan penyortiran limbah, dicacah, dipadupadankan untuk jadi efek marmer, disatukan dengan tulle, proses quilting, hingga jadi busana. Foto: Dok. Adrie Basuki
Salah satu keunggulan Kain Marmer® terletak pada kemampuannya mengolah berbagai jenis limbah tekstil, mulai dari katun, poliester, hingga blended fabric, yaitu material yang menggabungkan serat alami dan sintetis.
Selain itu, Kain Marmer® memberi opsi dengan mengolah material tanpa harus mengembalikannya menjadi benang.
Sejak mulai dikembangkan pada 2020, Kain Marmer® terus berproses dari eksperimen material menjadi sebuah platform inovasi. Limbah tekstil dipilah, dicacah, dipadatkan, dan dibentuk kembali menjadi lembaran material baru.
Proses tersebut menghasilkan permukaan dengan tekstur dan pola yang khas, menyerupai karakter visual marmer. Setiap lembar Kain Marmer® memiliki komposisi dan pola yang berbeda, sehingga tidak ada dua lembar yang benar-benar sama.
Minggu lalu, di suatu sore di tengah kemacetan Jakarta Selatan, Adrie Basuki berbagi cerita tentang Kain Marmer®.
Adrie Basuki dan lembaran Kain Marmer® yang kini sudah bisa dicuci mesin. Foto: Dok. Adrie Basuki
“Jika dulu Kain Marmer® harus dicuci dry clean, kini Kain Marmer® bisa dicuci mesin,” kata Adrie Basuki, tentang salah satu pengembangan kain ini.
Selain itu, Adrie berkisah bagaimana ia mengajak belasan orang perempuan dari Desa Sindangsari, Bogor, menjadi perajinnya. “Mereka ibu-ibu korban pinjol. Mengerjakan Kain Marmer® membuat mereka bisa bangkit kembali,” ungkapnya.
Hingga tahun 2025, Adrie bersama tim telah mentransformasikan 6.689 potong pakaian bekas, mengolah 949 kilogram limbah tekstil, menghasilkan 779 meter Kain Marmer®, serta menciptakan 906 produk fashion yang memanfaatkan material tersebut. Karya-karya ini mencakup busana siap pakai, couture, aksesori, karya seni, hingga eksplorasi desain lainnya.
Beberapa koleksi Adrie Basuki yang dipamerkan saat bincang-bincang dengan media di Pizzza Hut Ristorante Metro Pondok Indah (19 Agustus 2026); Adrie dan adiknya, Andhika, yang juga terlibat di jenamanya. Foto: Dok. Adrie Basuki
Makin dikenal setelah jadi Pemenang Lomba Perancang Mode 2021, Adrie telah menjadikan fashion sirkular identitas utama dalam praktik kreatifnya, yang selalu konsisten ia bawa saat tampil di berbagai runway nasional.
Bagi Adrie—yang kini tengah mengembangkan koleksi upcycling dengan sisa benang—fashion sirkular juga berbicara tentang manusia.
Melalui workshop, pelatihan, dan berbagai program kolaborasi, Kain Marmer® dikembangkan sebagai platform berbagi pengetahuan sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi beragam komunitas.
“Circular fashion adalah tentang memberi kesempatan kedua—kepada material, kepada manusia, dan kepada cerita yang pernah ada. Ketika sebuah kain memperoleh kehidupan baru, saya percaya harapan juga ikut lahir bersama proses itu,” ujar Adrie Basuki. (f)
Baca juga:
Adrie Basuki x Prisia Nasution Hadirkan Kolaborasi Fashion dan Mental Health
Inspirasi Gaya dengan Rompi untuk Musim Ini
Sewindu LAKON Melestarikan Warisan Budaya Indonesia
Zornia Harisantoso




