Jeda sejenak; mendengarkan musik yang bikin adem bisa dicoba. Foto ilustrasi: Pexels/Cottonbro Studio
Timeline media sosial kamu lagi-lagi bikin emosi naik?
Melihat berita, membaca komentar, atau menyaksikan sesuatu yang terasa tidak adil memang bisa memunculkan rasa marah, frustrasi, bahkan tidak berdaya. Apalagi ketika informasi datang tanpa jeda, dan memang begitulah faktanya.
Marah karena melihat ketidakadilan bukan berarti kita terlalu sensitif. Tetapi kalau kemarahan terus menguasai pikiran, tidur terganggu, sulit berkonsentrasi, atau membuat kamu terus-menerus doomscrolling, sudah waktunya kamu mengambil jarak.
Cara ini bukan untuk menjadi cuek. Justru ini adalah cara agar kamu tetap punya energi untuk melakukan sesuatu yang berarti. Apa saja, sih, langkah simpel yang bisa kamu lakukan?
1/ Beri jeda sebelum bereaksi
Ketika emosi sedang tinggi, dorongan untuk langsung mengetik komentar, mengunggah Stories, atau membalas seseorang memang besar. Tetapi tidak semua reaksi harus dilakukan saat itu juga.
Coba beri jeda beberapa menit. Letakkan HP, tarik napas perlahan, minum air, atau pindah dari layar. Jeda kecil memberi kesempatan untuk membedakan kamu ingin merespons karena ini penting, atau karena kamu sedang sangat marah.
Kalau akhirnya tetap ingin bersuara, respons yang lebih tenang biasanya lebih mudah menyampaikan pesan yang sebenarnya ingin kita perjuangkan.
2/ Bedakan antara update dan doomscrolling
Mengetahui apa yang sedang terjadi adalah satu hal. Terus menggulir berita dan komentar tanpa batas adalah hal lain.
Tentukan waktu tertentu untuk mengikuti perkembangan isu. Setelah mendapatkan informasi yang cukup, tutup aplikasinya dan lakukan aktivitas lain. Otak juga membutuhkan waktu tanpa paparan informasi yang intens.
3/ Jadikan tindakan yang realistis
Kemarahan bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang dianggap penting. Pertanyaannya kemudian adalah apa yang bisa kamu lakukan, dan tindakan itu tidak selalu harus besar.
Bentuknya bisa dengan mencari informasi dari sumber kredibel, berdiskusi secara sehat, mendukung organisasi atau kegiatan yang relevan, membantu lingkungan sekitar, atau membuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.
Memilih satu tindakan konkret sering kali terasa lebih sehat daripada terus mengulang kemarahan di kepala.
4/ Rawat diri tanpa merasa bersalah
Istirahat, makan teratur, bergerak, melakukan hobi, mengobrol dengan teman, atau tidur cukup bukan berarti kamu sedang mengabaikan masalah.
Justru kesehatan mental membutuhkan ruang untuk pulih. Ketika tubuh dan pikiran terlalu lelah, kamu bisa lebih sulit berpikir jernih dan mengatur emosi.
Kalau rasa marah, takut, sedih, atau kewalahan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dalam waktu yang cukup lama, bicarakan dengan orang yang dipercaya atau tenaga profesional kesehatan mental. Meminta bantuan bukan tanda bahwa kita lemah.
Yang penting, jangan sampai rasa kesal membuat kita kehilangan kemampuan untuk menjalani hidup, berpikir jernih, dan melakukan hal-hal yang masih bisa kita kendalikan, termasuk untuk peduli. (f)
Baca juga:
Baca Ini Dulu Ketika Semua Terasa Antiklimaks
Di Situasi Sekarang, 5 Hal Ini Bisa Mencegah Kamu Stres
5 Cara Lebih Mindful Menghadapi Situasi Saat Ini
Brianna Relisha




