Fashion Trend
Eksplorasi Tenun Tapanuli Selatan, Tobatenun Luncurkan Koleksi Kolaboratif untuk Idulfitri

14 Feb 2026

Karya kolaborasi fBudi. Foto: Dok. Tobatenun


Dalam menyambut Ramadan 1447 H, Tobatenun tidak sekadar meluncurkan baju baru, melainkan menghadirkan sebuah narasi budaya melalui pertunjukan kolaboratif RAYA.

Digelar di Sopo Del Tower, Jakarta, implementasi tenun Batak ke dalam rupa busana kali ini dieksekusi antara lain oleh Itang Yunasz, fbudi, Glashka, Shawl & Co, serta AMOTSYAMSURIMUDA. Turut disorot pula Abit Godang, tenun dari Angkola, wilayah di Tapanuli Selatan dengan dominasi penduduk muslim. 

Jenama Glashka menampilkan koleksi bertajuk Senandung Rona dari Ega Augustia dan Sarah Sofyan yang telah mengeksplorasi tenun Batak sejak tujuh tahun berkarya. Kali ini, permainan tekstur, siluet, hingga bordir perajin dari Tasikmalaya dipadukan tenun Sumatra Utara. Didominasi warna merah muda, koleksi ini menyimbolkan feminitas yang tangguh.

Koleksi ready-to-wear Itang Yunasz mengeksplorasi tenun kontemporer hasil Alat Tenun Bukan Mesim (ATBM) yang terinspirasi Ragi Hotang, hingga tenun tradisi Sadum dalam rona biru teduh, dan hasil pewarnaan alam dari laboratorium Jabu Borna. Jabu Borna adalah rumah pewarnaan alam binaan Tobatenun.

Sementara tenun metode Jungkit menjadi elemen utama Felicia Budi lewat jenama fbudi, mengisahkan nilai marsiadapari, yang berarti bekerja dan berjalan bersama kala merayakan ritual kebersamaan dan keterhubungan dalam kehidupan. Penampilan busana fbudi dihiasi aksesori dari Rumme.

Sementara Shawl & Co, jenama dari Tria Adrian, Indira Tranggono, dan Astri Adrin, mengaitkan alam, waktu, serta manusia. Koleksi untuk Hari Raya mereka menghadirkan rona biru terinspirasi Sadum dan Jabu Bolon, rumah tradisional adat Batak, yang dikemas dalam siluet eksentrik. Harmoni merah, biru, dalam balutan linen dan katun darinya untuk dikenakan dalam berbagai momen. 

Karya kolaborasi Tobatenun dengan Glashka dan dengan AMOTSYAMSURIMUDA. Foto: Dok. Tobatenun

AMOTSYAMSURIMUDA menampilkan koleksi Mulak (berarti pulang dalam Bahasa Batak), yang merupakan kolaborasi ketiga dengan Tobatenun. Ada dialog antara tenun kontemporer dengan shibori, dijahit dalam satu karya yang menempatkan dobar, tenun kontemporer Tobatenun, sebagai desain terintegrasi.

Jenama lain yang turut mempresentasikan koleksi mereka adalah House of Djuita karya Hullia Ratu Tiara dan Ratu Ocsandhara. Potongan klasik dengan detail manik dan bordir dipadukan dengan kain Sadum kurasi Jabu Bonang.

Ada juga DA’POZA besutan Imelda Dewajani dan Dahlia Sardjono menggunakan tenun kontemporer habut hasil inovasi Tobatenun dan Rumah Komunitas Wastra, kombinasi cokelat dan hijau yang diterjemahkan ke dalam tas dan aksesori modern terinspirasi motif Ulos Sigaragara Heteran). Selain itu, LUNGSIN, rancangan Aulia Rusdi menghadirkan koleksi tas dan dompet mengeksplorasi tenun Naarta dengan detail benang bicolor yang membentuk pola terinspirasi Ulu Torus.

Karya kolaborasi Tobatenun dengan Shawl & Co dan dengan Itang Yunasz. Foto: Dok. Tobatenun

Melalui ajang ini, Tobatenun juga mengenalkan Abit Godang atau Abit Sadum Angkola, sebuah tenun historis dari Angkola, Tapanuli Selatan. Ragam asimilasi budaya yang membentuk Abit Godang menjadikannya warisan penting bagi masyarakat Angkola dan Mandailing, komunitas Batak Muslim yang mendiami wilayah Tapanuli Selatan. 
 
Kain tenun ini merangkum keragaman warna, teknik, serta akulturasi budaya. Secara visual, tenun dengan karakter serupa juga dijumpai di wilayah Tapanuli Utara dan Toba, yakni Ulos Sadum. Uniknya, Abit Godang memiliki kekhasan filsafat seni Arabesque, ditandai oleh penggunaan motif geometris repetitif, ritme visual yang teratur, serta absennya representasi figur manusia, unsur yang justru lazim dalam Ulos Sadum. 

Tenun ini menggunakan teknik pakan ganda atau songket atau jungkit, yang memungkinkan ragam hias geometris bersatu demi kepadatan visual. 

Teknik diperkaya penerapan marsimata, yakni penyisipan manik secara langsung kala penenunan berlangsung. Hasilnya, aksen berkilau yang menyatu dengan struktur kain. 

Karakter lainnya adalah  aplikasi teknik sulam padat bonggit lilit yang menghasilkan tekstur menyerupai rajutan kala diraba. 

Sopo Del Tower dipilih sebagai lokasi, mengikuti identitas gedung ini yang tengah banyak menampilkan elemen budaya. Fasadnya terinspirasi Ulos Tumtuman, tenun khas Batak Toba yang dikerjakan menggunakan teknik songket atau jungkit. (f)

Baca juga:
Health Adjustment Gap di Awal Ramadan, Ini Kata Ahli Soal Menjaga Tubuh Tetap Seimbang
Inspirasi Gaya Hari Raya ala Rezky Aditya dan Citra Kirana
The Kaleidoscope dari Si.Se.Sa, Koleksi Busana Syar'i untuk Lintas Generasi


Trifitria Nuragustina


Topic

#tobatenun, #FeminaIndonesia

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?