Family
Tiga Gaya Orang Tua Milenial Membesarkan Anak

17 Nov 2018

 


Amithya Ratnanggani Sirraduhita (34), Ibu Rumah Tangga, Jakarta

Jorjoran Belanja Pendidikan Anak
 
Dibandingkan pengeluaran lainnya, belanja untuk pendidikan anak mengambil porsi yang lebih besar bagi Amithya. Alasannya, ia ingin memastikan ketiga anaknya: Abbey (15), Marsha (11), dan Ceira (6) mendapatkan kenyamanan dan keamanan.
 
“Saya menginginkan sekolah yang tidak memberikan tekanan atau beban terlalu besar untuk anak, di mana anak mendapatkan beban pendidikan sesuai usianya. Saya tidak keberatan keluar uang besar untuk mendapatkannya,” kata Amithya.
 
Di era seperti sekarang, orang tua milenial memang punya banyak pilihan sekolah. “Salah satu yang saya cari saat memilih sekolah, selain kegiatan ekstrakurikuler, adalah adanya pendidikan intrakurikuler yang mengasah kecerdasan emosional anak, kepercayaan diri, dan mengasah jiwa kepemimpinan anak,” ungkap Amithya.
 
Total tiap bulannya Amithya merogoh kocek minimal Rp25 juta untuk biaya sekolah di sekolah nasional plus dan kursus tambahan seperti seni dan pelajaran untuk ketiga anaknya. “Belanja pendidikan ini jadi lebih tinggi karena Abbey adalah penyandang autisme, yang membutuhkan terapi tambahan, dan totalnya bisa mencapai Rp12 juta per bulan,” terang Amithya.
 
Meskipun putra sulungnya berkebutuhan khusus, Amithya tidak memberikan perlakuan yang khusus dalam arti lebih memanjakannya ketimbang anak-anaknya yang lain. “Apalagi mereka juga sudah besar semua. Paling saya pernah memberikan Marsha gadget sejak usia 9 tahun. Tapi, itu pun ia mendapatkannya atas jerih payahnya mengumpulkan nilai-nilai sekolah di atas 8. Cuma karena kesalahan saya yang lupa password yang saya setting untuk proteksi keamanan, terpaksa saya membelikannya lagi HP baru, iPhone-7, yang masih ia gunakan sampai sekarang,” ceritanya.
 
Amithya menganggap, memberikan gadget untuk Marsha bukanlah bentuk memanjakan, tetapi memang karena kebutuhan, untuk komunikasi dan mendapatkan informasi-informasi untuk tugas sekolahnya. Walau merasa masih berlaku wajar, Amithya mengakui ia sering ‘lemah hati’ ketika si bungsu merengek minta dibelikan sesuatu.
 
“Ini akibat pengaruh dari influencer di YouTube yang sering ia tonton. Hampir tiap minggu ia minta dibelikan mainan yang sedang viral dibicarakan di YouTube. Dan, sayangnya, saya suka enggak tega untuk tidak membelikannya. Apalagi kalau melihat sorot matanya yang penuh harap tiap kali minta dibelikan,” imbuh Amithya.
 
Akhirnya Amithya mencoba bernegosiasi dengan putri bungsunya itu. “Saat ini saya batasi, harga mainan yang akan saya setuju untuk dibeli itu hanya di bawah Rp500.000, atau bahkan tidak boleh lebih mahal dari Rp200.000,” kata Amithya.
 
Amithya mengaku, ia juga menjadi makin lemah hati terhadap si bungsu kalau dalam seharian  itu dia bisa menjaga sikap. “Mandi sesuai jadwal, tidak rewel atau pilih-pilih makanan di rumah, dan membereskan seluruh mainannya setelah bermain. Jadi, membelikan mainan ini akhirnya menjadi bentuk reward bagi Ceira,” ungkap Amithya.
 
“Saya tahu alasan ini tidak pas, karena sebenarnya, bukannya membelikan barang seperti mainan, saya bisa saja memberikan pengalaman, seperti membawanya ke taman bermain yang lebih bersifat edukatif,” pungkasnya, sambil menghela napas. (f)
 
Reynett Fausto & Naomi Jayalaksana

Baca Juga:


Curhat dan Tip Yang Bisa Anda Contoh Untuk Mencegah Anak Kecanduan Gadget
Benarkah Generasi Z Adalah Generasi Kesepian?
Gaya Nola B3 Mengurus Naura, Anak Pertamanya Yang Juga Jadi Penyanyi

 


Topic

#family

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?