
Anggelina (30), Marketing Asuransi Freelance, Jambi
Ajak Anak Menikmati Hidup
Kesukaran-kesukaran hidup yang dialami Angel di masa kecil diakuinya memengaruhi perkembangan karakternya. Sejak ia masih berusia 2 tahun, sang ibu harus banting tulang untuk mencari nafkah karena telah berpisah dari ayahnya.
“Berdua adik, kami harus mandiri karena Ibu tidak ada di rumah. Jadi, kami harus bisa mengurus kebutuhan kami sendiri ejak usia kanak-kanak,” kisahnya.
Mulai dari bangun pagi, masak, hingga menyiapkan kebutuhan sekolah adiknya menjadi tugas sehari-hari Angel. Karena, sehari-harinya sang ibu sudah pergi meninggalkan rumah sejak pagi untuk berjualan baju dan baru kembali saat matahari tenggelam.
Sedikit banyak, pengalaman yang membentuk jati dirinya ini memengaruhi gaya pola asuhnya terhadap kedua anaknya, William (7) dan Maximillian (4). “Kemandirian menjadi satu hal penting yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak. Misalnya saja, untuk urusan sekolah, ada PR atau ujian, anak-anak sudah tidak perlu lagi disuruh-suruh belajar. Semua sudah mengerti tanggung jawab masing-masing. Paling saya tinggal cek dan tanda tangan saja,” kata Angel.
Pernah merasakan kesulitan ekonomi saat masih kecil membuat Angel terdorong untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya. “Ada pasti rasa ingin memberikan sesuatu yang dulu tidak bisa saya nikmati di masa kecil,” akunya, dengan nada getir.
Salah satu cara untuk memanjakan anakanaknya adalah dengan kerap mengajak mereka liburan, atau menghabiskan waktu di akhir pekan.
“Saya bilang sama anak-anak, kalau akhir pekan itu enggak perlu belajar. Nikmati saja hidup ini, nonton, baca buku, makan-makan atau jalan-jalan. Yang penting harus bisa bersenang-senang juga dan ada waktu dengan keluarga,” katanya.
Sebagai orang tua yang datang dari generasi milenial, Angel memilih menghabiskan uangnya untuk membeli pengalaman. Salah satu hobi yang kerap dilakukannya bersama keluarga adalah traveling ke luar negeri. Dua kali dalam setahun ia rutin mengajak pesiar anak-anaknya saat libur sekolah, selain satu kali liburan bersama suami saat anniversary pernikahan.
Negara Singapura, Malaysia, dan Thailand pernah mereka jelajahi bersama dengan bujet tertinggi sampai Rp25 juta saat keliling Thailand selama 16 hari. “Orang banyak bilang ngapain traveling buang-buang uang saja, mendingan uangnya buat ganti kendaraan baru atau apalah.
Tapi, bagi saya mumpung masih kuat dan sehat, hidup itu harus bisa dinikmati. Yang penting sudah punya rumah dan kendaraan,” ungkapnya.
Meski agak longgar untuk menyisihkan bujet berlibur, Angel agak hati-hati untuk tidak selalu menuruti keinginan anak-anaknya dalam membeli mainan. “Saya ingin menyenangkan mereka, tetapi tidak ingin kebablasan juga membuat mereka manja,” cetusnya. Alih-alih menuruti semua permintaan anak-anaknya, Angel menerapkan aturan yang tegas untuk anak-anaknya. Misalnya saja, ketika mereka minta dibelikan robot-robotan, mobil-mobilan, atau figurine superhero Angel akan mengajak dulu anak-anaknya diskusi apakah mainan itu benar-benar memberikan manfaat.
“Selain mengajarkan mereka untuk menghargai nilai uang, saya juga membiasakan mereka berjuang dulu untuk mendapatkan apa yang mereka mau,” ujarnya. Salah satu contoh, Angel selalu memberikan reward kepada anak-anak untuk prestasi akademis yang mereka peroleh.
“Tiap kali mendapatkan nilai 100 untuk PR yang mereka kerjakan, saya berikan Rp2.000 untuk ditabung. Kalau nilai ujian bisa mendapatkan nilai 100, artinya mereka mendapatkan Rp10.000,” jelas Angel.
Dengan cara itu, ia bisa sekaligus memacu anak-anak rajin belajar dan membuat PR dengan hati-hati. “Nanti, kalau uang tabungannya sudah cukup, baru mereka bisa membeli mainan yang mereka idam-idamkan,” katanya, sambil tersenyum.
“Berdua adik, kami harus mandiri karena Ibu tidak ada di rumah. Jadi, kami harus bisa mengurus kebutuhan kami sendiri ejak usia kanak-kanak,” kisahnya.
Mulai dari bangun pagi, masak, hingga menyiapkan kebutuhan sekolah adiknya menjadi tugas sehari-hari Angel. Karena, sehari-harinya sang ibu sudah pergi meninggalkan rumah sejak pagi untuk berjualan baju dan baru kembali saat matahari tenggelam.
Sedikit banyak, pengalaman yang membentuk jati dirinya ini memengaruhi gaya pola asuhnya terhadap kedua anaknya, William (7) dan Maximillian (4). “Kemandirian menjadi satu hal penting yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak. Misalnya saja, untuk urusan sekolah, ada PR atau ujian, anak-anak sudah tidak perlu lagi disuruh-suruh belajar. Semua sudah mengerti tanggung jawab masing-masing. Paling saya tinggal cek dan tanda tangan saja,” kata Angel.
Pernah merasakan kesulitan ekonomi saat masih kecil membuat Angel terdorong untuk memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya. “Ada pasti rasa ingin memberikan sesuatu yang dulu tidak bisa saya nikmati di masa kecil,” akunya, dengan nada getir.
Salah satu cara untuk memanjakan anakanaknya adalah dengan kerap mengajak mereka liburan, atau menghabiskan waktu di akhir pekan.
“Saya bilang sama anak-anak, kalau akhir pekan itu enggak perlu belajar. Nikmati saja hidup ini, nonton, baca buku, makan-makan atau jalan-jalan. Yang penting harus bisa bersenang-senang juga dan ada waktu dengan keluarga,” katanya.
Sebagai orang tua yang datang dari generasi milenial, Angel memilih menghabiskan uangnya untuk membeli pengalaman. Salah satu hobi yang kerap dilakukannya bersama keluarga adalah traveling ke luar negeri. Dua kali dalam setahun ia rutin mengajak pesiar anak-anaknya saat libur sekolah, selain satu kali liburan bersama suami saat anniversary pernikahan.
Negara Singapura, Malaysia, dan Thailand pernah mereka jelajahi bersama dengan bujet tertinggi sampai Rp25 juta saat keliling Thailand selama 16 hari. “Orang banyak bilang ngapain traveling buang-buang uang saja, mendingan uangnya buat ganti kendaraan baru atau apalah.
Tapi, bagi saya mumpung masih kuat dan sehat, hidup itu harus bisa dinikmati. Yang penting sudah punya rumah dan kendaraan,” ungkapnya.
Meski agak longgar untuk menyisihkan bujet berlibur, Angel agak hati-hati untuk tidak selalu menuruti keinginan anak-anaknya dalam membeli mainan. “Saya ingin menyenangkan mereka, tetapi tidak ingin kebablasan juga membuat mereka manja,” cetusnya. Alih-alih menuruti semua permintaan anak-anaknya, Angel menerapkan aturan yang tegas untuk anak-anaknya. Misalnya saja, ketika mereka minta dibelikan robot-robotan, mobil-mobilan, atau figurine superhero Angel akan mengajak dulu anak-anaknya diskusi apakah mainan itu benar-benar memberikan manfaat.
“Selain mengajarkan mereka untuk menghargai nilai uang, saya juga membiasakan mereka berjuang dulu untuk mendapatkan apa yang mereka mau,” ujarnya. Salah satu contoh, Angel selalu memberikan reward kepada anak-anak untuk prestasi akademis yang mereka peroleh.
“Tiap kali mendapatkan nilai 100 untuk PR yang mereka kerjakan, saya berikan Rp2.000 untuk ditabung. Kalau nilai ujian bisa mendapatkan nilai 100, artinya mereka mendapatkan Rp10.000,” jelas Angel.
Dengan cara itu, ia bisa sekaligus memacu anak-anak rajin belajar dan membuat PR dengan hati-hati. “Nanti, kalau uang tabungannya sudah cukup, baru mereka bisa membeli mainan yang mereka idam-idamkan,” katanya, sambil tersenyum.
Topic
#family


