Family
Pelajaran Berharga di Balik Serunya Main Bola

23 Jul 2025

Kegiatan sederhana seperti menemani rutinitas sebelum tidur dan main bola bisa memberikan banyak manfaat emosional pada anakKegiatan sederhana seperti menemani main bola bisa memberikan banyak manfaat emosional untuk anak. Foto: Pexels/Ketut Subiyanto


Semua orang tua ingin anaknya pintar. Tapi jangan salah; pintar bukan berarti anak harus patuh jika disuruh belajar.

Orang tua lupa bahwa ada perkembangan otak yang perlu dibentuk supaya anak bisa menjadi pintar.

“Pintar, tuh, bisa pintar macam-macam. Enggak cuma pintar sekolahnya saja,” ujar psikolog klinis yang juga pendiri BN Montessori, Pritta Tyas, M.Psi., Psikolog., saat meresmikan pembukaan acara Jakarta Family Walk (JFW) di Decathlon Pondok Indah, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Rangkaian acara JFW sendiri sudah berlangsung pada 20 Juli lalu di Hutan Kota GBK, Jakarta, dengan tema Learn, Play, Action, yang mengajak keluarga Indonesia bonding time sambil mengasah keterampilan sosial, emosional, dan motorik anak.

Main bola dan manfaat membangun otak anak

Pembangunan struktur otak ini juga dibentuk melalui waktu yang dialokasikan orang tua bersama dengan anak. Contoh yang paling gampang, saat anak bermain bola bersama orang tua.

“Kalau kita perhatikan, yang namanya main bola, misalnya, menendang bola, ayah menendang bola ke anak dan sebaliknya, berarti akan ada momen anak menunggu bola itu datang. Lalu ia akan menunggu, bersiap dan akan bergantian menendang bolanya. Kalau dalam teori namanya serve and return,” ujar Pritta.

Pada saat tersebut, anak yang melakukan sesuatu, menunggu, melihat ekspresi ayah atau ibunya, dan bermain bergantian.

“Proses serve and return ini akan menjadi fondasi anak nanti kalau di sekolah. Saat anak masuk sekolah, ia akan mampu menunggu dan berpikir, ‘Oh, oke ini belum waktunya aku jalan-jalan’, ‘Aku akan menunggu dulu’, ‘Oh, ini lagi dimainin temanku’, dan seterusnya, sehingga sangat berkaitan  dengan perkembangan kognitif anak,” jelas Pritta, tentang banyak hal yang dapat diajarkan saat proses bonding bersama anak.
 
pritta tyas saat membuka acara JFW beberapa waktu laluFelicia Debora, Co-Founder Malo Enterprise, dan Pritta Tyas saat meresmikan pembukaan acara Jakarta Family Walk. Foto: Dok. Femina

Terkait perkembangan emosi

Ketika berbicara tentang bonding time, erat kaitannya dengan perkembangan emosional dan kondisi emosional anak.

“Pernah nggak, sih, kita menjumpai orang dewasa yang cenderung meledak-ledak, dan sulit meregulasi emosinya? Nah, salah satunya karena dia nggak benar-benar percaya orang lain memahami apa yang dia rasakan,” Pritta membuka fakta lain.

Masih menurut Pritta, kehadiran orang tua bersama anak dalam bonding time juga dapat menjadi fasilitas orang tua menerjemahkan berbagai emosi kepada anak. Dan ketika anak mampu menamai emosinya sendiri, apakah itu senang, sedih, kecewa, frustrasi, atau sakit hati, ia akan belajar mengenali dan merespons emosi yang dirasakan.  
 

Bonding time bukan soal durasi

Tantangan orang tua masa kini adalah sulitnya menyediakan waktu khusus untuk bisa bonding time bersama anak. Jika berbicara berapa durasi yang harus dialokasikan, tidak harus seharian. Sekitar 20 atau 30 menit menyelipkan kegiatan bersama rutin bersama, bisa menjadi bonding time juga.

Misalnya, sepulang kerja usahakan tidak mepet waktu tidur anak sehingga bisa melakukan aktivitas bersama sebelum tidur.

“Rutinitas sebelum tidur, seperti mengajak anak mencuci muka, menyiapkan tempat tidur, membaca dongeng, sikat gigi bersama. Memang kelihatannya yang dilakukan orang tua itu kecil ya, tapi investasi itu membangun rekam jejak di otak anak,” Pritta menegaskan.

Nah, Sahabat Femina yang telah menjadi orang tua, yuk, sama-sama berinvestasi waktu membangun ikatan batin demi kesejahteraan jiwa anak.

Baca juga:
Masuk Sekolah Sudah Dekat? Yuk, Siapkan Kebutuhan Si Kecil Biar Makin Semangat!
Anak Pakai Gadget, Ini Tip Bijak Agar Tetap Aman dan Sehat

No-Screen Day, 4 Ide Aktivitas Liburan di Dapur Ini Bisa Dicoba Keluarga Urban
 

Laili Damayanti


Topic

#HariAnakNasional , #BondingTime, #ParentingZamanNow

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?