Family
Anak Kian Muda Terpapar Kosmetik, Apa Dampaknya?

12 Jun 2019


Dok: Unsplash.com

Kapan Waktunya?
Menyikapi soal meningkatnya tren penggunaan kosmetik pada anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog anak, menyebutkan bahwa satu hal yang wajar untuk anak-anak mencoba-coba hal yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk mengenakan make-up atau kosmetik. “Anak-anak memiliki keinginan untuk menjadi orang dewasa karena dalam persepsi mereka menjadi orang dewasa itu menyenangkan, bisa melakukan banyak hal,” kata Vera.

Di sisi lain, usia pertumbuhan adalah saatnya anak belajar proses identifikasi peran. Caranya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah lewat aktivitas berdandan. “Misalnya, ada anak perempuan  melihat ibunya dandan. Ia akan berpikir bahwa ia perempuan seperti mamanya, dan ia bisa berdandan. Dalam hal ini akan jalan fungsi belajar peran tersebut,” ungkap Vera.

Namun, jika anak perempuan Anda sudah mulai bertanya atau ingin mencoba menggunakan make-up, saran Vera, orang tua harus bisa memberikan penjelasan ringan sesuai usia anak. "Perlengkapan make-up itu fungsinya untuk apa, cocok tidak untuk anak, kapan anak bisa menggunakan make-up dan di mana,” jelas Vera.

Maraknya konten kecantikan make-up tutorial di media sosial, seperti YouTube, menurut Vera bisa menjadi pendorong anak untuk ikut mencoba, bahkan dalam porsi yang berlebihan dari usianya. Beberapa tahun lalu, ia pernah menemukan kasus pasiennya, seorang anak perempuan yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar, gemar mengenakan make-up ke sekolah.

“Dia terbiasa menggunakan make-up, dan ibunya juga membiarkan anaknya bermain dengan make-up. Sampai mendapat teguran dari guru di sekolah, bahwa make-up-nya terlalu tebal atau berlebihan untuk ke sekolah. Anak ini sangat dandan dan hasilnya bagus. Jadi, dia sebenarnya punya bakat di sini. Saat itu saya coba jelaskan kapan dan di mana dia bisa memakai make-up,” cerita Vera.

Ia menambahkan, dalam hal ini orang tua harus peka jika melihat anaknya terekspose secara berlebihan pada kebiasaan dandan ini hingga membuat perilaku yang berbeda untuk anak seusianya. 'Karena bisa saja memengaruhi kepribadian dan persepsi anak tentang kecantikan," katanya. 

Hal paling mendasar untuk dijelaskan kepada anak adalah pemahaman bahwa memakai make-up itu bukan untuk cantik, tapi ada manfaat di baliknya, seperti menjaga kesehatan kulit. Hal ini penting agar anak tidak berpikir bahwa make-up itu untuk pamer atau agar terlihat cantik. Alasan utama anak dan remaja menggunakan make-up adalah agar tampil percaya diri (harus), tapi tidak berarti tanpa make-up mereka jadi tidak percaya diri, ya.

Selain itu, menurut Vera, sikap orang tua di rumah dalam mempersepsi kecantikan juga bisa memengaruhi pandangan anak tentang hal tersebut. “Misalnya, anak kerap mendengar ibunya berkata "tidak bisa keluar rumah tanpa make-up" atau ibunya bisa berjam-jam di depan kaca untuk membuat alis. Hal ini akan menancap dalam pikiran anak bahwa untuk cantik harus menggunakan make-up,” kata psikolog yang juga aktif di Jurusan Psikologi Universitas Indonesia ini.

Menurut Vera, hingga masa kuliah sebaiknya anak belum perlu menggunakan make-up untuk sehari-hari. "Sebelum usia itu rasanya memang belum cocok untuk dandan tiap hari ya. Kecuali untuk acara tertentu," ungkap Vera. 

Namun, di usia puber, mulai dari 11 tahun, anak bisa dijelaskan tentang pentingnya merawat kebersidan dan kesehatan kulit tubuh termasuk kulit wajah, karena saat itu perubahan hormon akan berpengaruh pada kulit wajahnya, seperti misalnya tumbuh jerawat dan minyak berlebihan. "Bisa dijelaskan bahwa obat jerawat itu untuk kondisi kulit yang sudah jerawatan. Kalau belum ada jerawat, ya, tidak perlu menggunakannya, misalnya” kata Vera.

Baca Selanjutnya: Ada Risiko Kesehatan
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#makeupanak, #kosmetikanak, #trenmakeup

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?