
Kontribusi untuk Bumi
Latar belakang keluarganya membuat banyak orang yang meragukan kemampuannya. “Saya tak memungkiri sangat beruntung lahir dari keluarga yang berkecimpung dan diakui kepiawaiannya di bidang seni. Namun, saya tak mau membiarkan komentar miring itu meruntuhkan rasa percaya diri saya,” kata penggemar warna hijau dan biru ini.
Ia memilih membuktikan dirinya lewat karya. Itu salah satu alasan mengapa album ini memiliki arti penting bagi Eva. “Melihat bagaimana orang-orang yang bekerja bersama saya maupun penggemar menghargai kerja saya, membuat saya yakin pada kemampuan diri saya,” ujarnya, bijak. Lima bulan setelah album dirilis, akun media sosial Eva pun dihujani pujian dan like.
Selama dua tahun menyelesaikan album debutnya itu, wanita kelahiran 21 September 1992 ini mengaku sempat terbentur ‘tembok’ yang membuatnya frustrasi di tengah proses penggarapan album. Ini terjadi setelah dua single pertamanya dirilis.
“Selama enam bulan saya mengalami writer’s block sehingga tidak selesai-selesai. Untungnya orang-orang di sekitar saya terus memberikan semangat sehingga saya percaya diri untuk menyelesaikan album ini,“ kisahnya, sambil tersenyum.
Yang juga membuat penyuka diving ini antusias dengan albumnya adalah bagaimana pendengarnya bisa menangkap pesan yang berusaha ia sampaikan lewat untaian lirik dari kumpulan lagu berirama jazzy dengan sentuhan soul dan R&B itu. Terutama dari lagu Let Love Grow yang mengungkapkan kegelisahan Eva terhadap alam Indonesia yang rusak oleh ulah manusia.
“Lagu ini lahir dari perenungan saya saat melihat sampah dan kerusakan hutan saat traveling. Bahkan, saat diving saya juga melihat banyak sampah plastik di mana-mana. Ketika membuat lagu itu saya enggak yakin apakah pesan itu akan ditangkap. Tapi saya senang, karena ternyata banyak juga yang menyimak,” ujar penyelam, yang mendapatkan sertifikat menyelamnya saat diving di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, ini.
Baginya, alam tidak hanya menyenangkan untuk diselami dan dinikmati keindahannya, tapi juga sumber inspirasi lahirnya nada-nada indah dari petikan gitar dan sentuhan di pianonya. “Dekat dengan alam membuat saya lebih mudah membuat lagu,” ujar wanita yang tak bisa lepas dari kopi ini.
Keprihatinan ini menumbuhkan keinginan Eva untuk berkontribusi menjaga kelestarian alam. Kini, ia sedang menjajaki tawaran dari sebuah program bernama Hutan Itu Indonesia, yang mengajak para musikus untuk ikut menjelajah hutan dan menciptakan lagu yang membangkitkan kecintaan terhadap hutan.
Sementara itu, dalam menyambut Hari Bumi, 22 April, ia membuat video berisikan cara-cara sederhana menghemat energi, perilaku ramah lingkungan, dan memperlambat climate change, yang diunggah di akun Instagram-nya, @evacelia.
“Saya sangat ingin terlibat dalam kegiatan sosial di bidang pelestarian lingkungan. Saya sadar ini butuh komitmen besar, tapi saat ini saya masih konsentrasi untuk menekuni musik,” ujar Eva, yang bisa langsung berubah ceriwis ketika bertemu dengan orang yang dekat dengannya.
Rencana ke depannya soal musik, ia tengah sibuk mempersiapkan road show di lima kota di Pulau Jawa. Namun, Eva menolak membocorkan kota mana saja yang akan ia sambangi, mengingat semua masih dalam proses yang baru 70% siap. Sedikit bocoran, dalam konser yang rencananya dibuat akrab dan bersifat terbatas itu, Eva tidak akan tampil sendiri, melainkan bersama beberapa musikus dan penyanyi lain.(f)


