Career
Yuk, Positif! Sering Berpikir Negatif Bikin Sulit Berkembang

11 May 2017


Foto: Pixabay

Luna terbiasa bersikap pesimistis dalam bekerja. Beberapa kali dia memendam keinginannya menyampaikan ide kreatif karena takut ditolak. Akibat sikapnya yang pasif dan kurang kreatif, Luna nggak kunjung dipromosikan. Tapi, bukannya instropeksi diri, Luna malah menyalahkan atasannya.

Kita mungkin pernah bersikap seperi Luna, yaitu terjebak pikiran negatif. Padahal menurut Erin Mutiara, psikolog dari Fame Consultant, pikiran negatif bisa menjadi penyebab Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dan kecemasan.

Jangan Lebay
Sebenarnya semua orang memiliki pikiran positif dan negatif --bahkan itulah yang menjadi ciri khas manusia. Namun kita sendiri yang mengelola kedua pikiran tersebut. Kita juga yang bisa mengatur pikiran mana yang lebih mendominasi.

"Di setiap situasi, kita mungkin sering mengalami dua pikiran--negatif dan positif? Nggak hanya pikiran, emosi positif dan negatif juga selalu kita rasakan. Tapi, apa yang kita rasakan dan pikiran ini tergantung dari bagaimana kita mengelolanya dan sejauh mana kadarnya," kata Erin.

Tapi pikiran negatif bisa berdampak positif, kok. Yaitu, kita menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak dan memperhitungkan setiap risikonya. Namun, jika pikiran negatif ini berlebihan tentunya menghambat kita untuk berkembang dan beraktivitas.

"Selama pikiran negatif ini membuat kita waspada, berarti pikiran negatif membentuk kita lebih konstruktif. Namun, ketika pikiran negatif ini menghambat kreativitas kita, sebaiknya, sih, jangan dibiarkan," ujar Erin.

Selalu Dikritik
Terbiasa berpikir negatif merupakan pengaruh dari bentukan lingkungan terdekat. Mereka yang tidak pernah mendapatkan pujian, dan selalu dikiritik oleh orangtua akan membentuk pribadi yang selalu berpikir negatif--terutama tentang dirinya.

"Self-image diri mereka sangat rendah, sehingga mereka cenderung melihat segala sesuatu dari 'kacamata' negatif. Ujung-ujungnya ekspektasi mereka terhadap harapan juga rendah," jelas Erin.

Di sisi lain, ada juga beberapa orang yang lebih memilih berpikir negatif untuk memanipulasi harapan. Tujuannya, nih, agar tidak terlalu kecewa melihat kenyataan yang mungkin (akan) tidak sesuai harapan.

"Hal ini berkaitan dengan manajemen ekspektasi. Terkadang banyak orang mengambil skenario terburuk, agar bisa lebih menerima kenyataan. Padahal, dengan memberikan harapan tinggi dan positif, kita akan mendapatkan hasil yang besar karena nggak cepat menyerah," jelas Erin.

Bikin Depresi
Walau pikiran negatif merupakan hal wajar, kalau dibiarkan berlebihan akan menjurus ke gangguan kejiwaan, seperti OCD atau depresi.

"OCD karena dari pikiran negatif yang spesifik dan berulang-ulang, sehingga menimbulkan kecemasan. Begitu juga dengan depresi. Penyebabnya karena pikiran negatif yang menjadi-jadi, sehingga mood semakin down," kata Erin lagi.

Karena itu, kita harus pintar mengelola pikiran. Tapi, bukan lantas kita berbalik menjadi terlalu positif pada segala hal.

"Terlalu banyak berpikir membuat kita mudah diperalat oleh orang lain, karena kita terlalu gampang, percaya."

Cukup Disasari
Banyak orang mengusir pikiran negatif dengan melakukan hobi, bertemu teman, atau olahraga. Cara ini boleh saja dilakukan asal tidak bikin kita jadi menghindari masalah. Anggap saja melakukan hobi berguna untuk menyegarkan pikiran agar sesudahnya kita mampu mengelola pikiran dan emosi.

"Sebenarnya solusi untuk berpikir positif bergantung pada efeknya. Kalau tujuannya lari dari masalah, hal itu sama sekali bukan solusi tepat.

"Pikiran negatif atau positif harus dinikmati dan disadari. Ketika kita sudah sadar akan pikiran tersebut, kita pun akan lebih gampang melewati segala hal," ujar Erin menutup pembicaraan.(f)


Ini Tandanya!
Jika kita mengalami lebih dari lima hal di bawah ini, berarti kita dihinggapi pikiran negatif berlebihan. Sudah waktunya berpikir seimbang, nih.
  •     Sering berpikir secara hitam-putih dengan ukuran yang sempit.
  •     Selalu berpikir berlebihan dalam segala hal.
  •     Sering memberikan label negatif atau buruk pada suatu hal, bahkan cenderung jadi menghakimi.
  •     Terlalu cepat mengambil keputusan.
  •     Cepat menyerah karena merasa tidak akan berhasil melakukannya.
  •     Sering menyalahkan keadaan secara personal atau bagian tertentu saja, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
  •     Memaksakan suatu kondisi harus sesuai keadaan.

Baca juga:


Topic

#positivethinking

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?