Career
Waktu yang Pas Berkata ‘Tidak’ Dalam Pekerjaan

1 Jan 2018


Foto: 123RF


“It’s only by saying ‘NO’ that you can concentrate on the things that are really important.” – Steve Jobs. Menurut pendiri Apple inc. itu, keberanian berkata ‘tidak’ bisa membantu seseorang untuk lebih fokus dan memberikan hasil terbaik di wilayah kerjanya. Apakah itu berkata ‘tidak’ kepada sesama kolega, atasan, atau seorang manajer kepada stafnya.
 
Pertanyaannya, dalam kondisi seperti apa seorang karyawan bisa berkata ‘tidak’ untuk tantangan pekerjaan yang datang? Apakah itu berkata ‘tidak’ kepada atasan, sesama kolega, atau kepada bawahan. Seperti apa etika dan langkah-langkah yang bisa Anda lakukan? Simak ulasan dan tip dari founder Daya Lima Family, sebuah jasa konsultan yang bergerak dalam bidang people strategist, Rozan Anwar.
 
Di dunia kerja berlaku sistem prioritas. Tiap orang memiliki to-do list masing-masing, mulai dari CEO, manajer, staf, hingga office boy. Namun, perlu diingat juga bahwa dalam dunia karier, seorang profesional tidak bicara soal beban kerja, tapi tanggung jawab kerja.
 
Tak jarang, di tengah perjalanan merampungkan pekerjaan, kita mendapat tugas tambahan. Hal-hal seperti ini kerap kali tidak terhindarkan. Namun, bukan berarti Anda hanya bisa menganggukkan kepala, meski pada kenyataannya keputusan ini akan berkonsekuensi buruk pada kualitas kerja dan performa Anda.
 
“Sebelumnya, yang harus ditekankan adalah bukannya kita menolak. Namun, kita mengajak rekan, atasan, atau bawahan kita untuk berpikir ulang bersama mencari solusinya. Bahwa jika pekerjaan tambahan ini memang harus dikerjakan, dengan beban kerja yang telah ada, maka akan ada konsekuensi yang harus ditanggung bersama,” jelas pria yang telah 25 tahun menjadi pengajar di bidang SDM di berbagai universitas, termasuk Universitas Indonesia, ini.
 
Menurutnya, hal ini sebenarnya tidak akan menimbulkan banyak masalah jika organisasi atau institusi kerja tersebut memiliki sistem manajemen kinerja yang diturunkan dalam key performance indicator (KPI). Jika sudah jelas target yang harus dicapai dalam periode tertentu, misalnya mingguan, bulanan, atau tahunan, maka kita bisa mengacu pada sistem ini.
 
Pendekatan dengan mengacu pada KPI ini, jelas Rozan, memungkinkan kedua belah pihak untuk memahami kondisi dan target kerja. Sebab, jika memang tugas tambahan ini bersifat urgent dan harus dikerjakan, maka kedua belah pihak telah sepakat dengan konsekuensi yang akan dihadapi. Apakah itu penyusunan ulang prioritas kerja, penambahan tenggat, atau penambahan SDM.
 
“Dengan demikian, setting kondisinya bukan untuk gagal, tapi menemukan solusi untuk kebaikan bersama. Sebab, kesepakatan yang kemudian terjadi tetap mengacu pada persetujuan bersama dalam manajemen kinerja atau KPI,” tegas Rozan.(f)


Baca juga:
3 Hal yang Halangi Wanita Raih Kesuksesan Karier
20 Cara Lebih Produktif Dalam Bekerja (Part 2)

Hati-hati, Gampang Berkomitmen Banyak Ruginya!


Konsultan: Founder Daya Lima Family, sebuah jasa konsultan yang bergerak dalam bidang people strategist, Rozan Anwar.


Topic

#karier, #katatidak

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?