
Foto: Fotosearch
Banyak dari kita sering mengeluh soal pekerjaan dan kantor . Bahkan ada yang menjadikan ini sebagai rutinitas harian. Namun, hanya sedikit, tuh, yang mau berusaha mengubah nasib—betul, kan? Eits, hari gini pilihan ada di tangan kita. Kalau memang bosan disuruh-suruh, makanya kita harus jadi bos, dong, biar bisa gantian menyuruh-nyuruh, hehehe. Caranya: membangun bisnis pribadi yang bisa dipikirkan sejak sekarang. Pokoknya seperti kata pebisnis andal Donald Trump, “As long as you’re going to be thinking anyway, think big.” Begini langkah awalnya….
1. Keluar zona nyaman
Tidak mudah untuk keluar dari comfort zone. Sst, namanya mau jadi pebisnis tangguh, kita harus selalu berpikir logis. Jadi, simpan dulu segala pertimbangan yang mengandalkan perasaan dan membuat kita ragu melangkah. Seperti halnya, Ni Luh Wayan Ayu yang akhirnya memutuskan menekuni bisnis pribadi setelah lima tahun bekerja sebagai fashion stylist.
“Merasa 'cukup' berkarier di majalah wanita, saya pun merasa tertantang untuk mencoba mengembangkan apa yang sudah saya mulai sewaktu kuliah dulu. Makanya, saya berpikir, ‘Kalau bukan sekarang, kapan lagi waktu yang tepat untuk menantang diri sendiri. Hidup hanya sekali, bukan?’ Bisa dibilang, yang membuat saya yakin untuk memulai bisnis sendiri adalah waktu,” kata Ni Luh, pemilik sekaligus desainer OJA.
2. Cari role model
Memang betul, nggak semua orang berbakat bisnis. Tapi, nggak semua entrepreneur sukses juga punya basic marketing, kan. Buktinya, Steve Jobs saja yang nggak lulus kuliah berhasil memasarkan Apple, kenapa kita yang punya gelar dan pengalaman bekerja justru minder? Biar semakin terpacu, nggak ada salahnya kita mencari sosok yang bisa dijadikan panutan. Kemungkinan kita bisa ngobrol akrab dengannya mungkin kecil, tapi setidaknya kita dapat selalu belajar dan mengambil hal positif darinya.
Cek, deh, semua yang sang idola lakukan saat merintis bisnis pribadinya. Bagaimana dia menjalankan bisnis, apa inovasi yang dilakukannya, dan lain-lain. Kalau perlu, nih, follow Twitter, baca blog, dan pantau update status-nya di Facebook. Dengan begitu, kita bisa memikirkan karakter hingga gaya kepemimpinan seperti apa yang cocok diterapkan dalam bisnis yang akan kita geluti nantinya.
3. Ciptakan jejaring
Cara paling tepat belajar dunia bisnis adalah dengan mengenal orang-orang yang terjun di dalamnya. Nggak perlu entreprenur yang sudah punya nama dan sering diliput media, deh. Akan lebih mudah bila kita mengenal orang-orang ‘membumi’ yang memang bekerja untuk diri mereka sendiri. Dan… sekali lagi, ilmu mereka, kan, bisa kita contek, he he he. Berawal dari pertemanan, kita bakal menciptakan jejaring sebagai modal memasarkan bisnis.
“Selain modal materi, saya juga menyiapkan modal 'sosial'. Link dengan berbagai media merupakan salah satunya. Jejaring yang saya dapat sejak bekerja di majalah wanita dulu pun sangat membantu dalam memperkenalkan brand dan memasarkan produk saya ke orang banyak,” jelas Ni Luh.
4. Gunakan pengalaman
Jika belum tahu harus melakukan apa, tanyakan pada diri sendiri, “Sebagai costumer, apa yang kita inginkan dari suatu produk?” Nah, jawaban ini bisa kita gunakan untuk membangun bisnis pribadi. Di awal merintis bisnis, kita pun wajib memerhatikan berbagai hal secara mendetail dan bijaksana. Apalagi, nih, kita berharap bisnis ini akah berlangsung dalam jangka waktu lama. Belajarlah dari pengalaman orang lain sehingga kita tidak perlu terperosok ke lubang yang sama.
“Saat ini saya mengupayakan bisnis saya berkembang menjadi sebuah bisnis yang berbasis social entrepreneur. Berbagai kerja sama dengan yayasan sosial dan proyek CSR pun sedang diupayakan. Semua ini saya jalankan dengan perlahan, sambil tes pasar,” jelas Ni Luh.
5. Punya target
Namanya juga bisnis, mustahil kita melupakan target dan profit. Oleh karena itu, tulis semua keinginan, cita-cita, visi, dan BEP (break event point) agar bisnis lebih terarah plus terukur.
“Walau masih dalam tahap belajar dan merintis bisnis pribadi, saya punya business plan. Beberapa rencana sudah saya susun untuk mengejar target balik modal dan mencapai keuntungan dalam satu tahun berbisnis. Di antaranya dengan membuat timeline untuk segala hal yang berhubungan dengan proses desain, produksi, hingga pemasaran produk. Saat ini, saya sedang mengarahkan brand saya pada produk-produk fashion yang eco-friendly,” imbuh Ni Luh.
6. Banyak cinta
Satu lagi yang nggak boleh ketinggalan adalah mencurahkan segalanya pada si ‘calon bayi’. Soalnya, sebagai bos dari bisnis pribadi, tanggung jawab ada di pundak kita. Kalau sampai merugi, ya, hanya diri sendiri yang patut dipersalahkan, he he he. Biar lebih yakin, Ni Luh punya tip buat kita yang ingin mencoba melangkah ke bidang entrepreneur, nih.
“Percaya pada diri sendiri dan percaya bahwa Tuhan pasti sudah membekali kita dengan kelebihan, kesabaran, dan kekuatan.”
Terakhir, nih, jangan lupa cintai apa yang sedang kita kerjakan sehingga hasilnya maksimal. (f)
Topic
#bantingsetir


