Career
5 Kiat Pintar Memilah & Melakukan Mediasi Konflik di Dunia Kerja

17 Oct 2016


Foto: Pixabay.com

Menurut Dr. S. Sonny Y. Soeharso. SE, MM, psikolog dan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, semua konflik antarbawahan, apa pun jenisnya, bila itu terjadi di perusahaan, maka atasan harus mau tahu. Karena, hal ini bisa memengaruhi motivasi kerja karyawan yang bersangkutan sehingga menyebarkan energi negatif bagi rekan sekerjanya. Jika dikelola dengan baik, konflik bisa meningkatkan kerja sama tim. Namun, jika pengelolaannya tidak tepat, konflik dapat menyebabkan sumbatan dalam komunikasi.
   
Seorang atasan dituntut untuk bisa memastikan proses kerja berjalan dengan baik, membangun suasana kebersamaan, kerja tim yang solid, serta penyelesaian konflik yang tidak berlarut-larut untuk mencapai target perusahaan. Itulah sebabnya, seorang atasan harus memiliki kompetensi dalam berbagai hal, seperti conflict management skill, coaching and counseling skills, serta problem solving and decision making skill. Mediasi merupakan bagian dari keterampilan mengelola dan menyelesaikan konflik.

Berikut beberapa langkah yang penting diperhatikan atasan dalam mediasi konflik bawahan:

1/ Atasan harus pintar-pintar memilah mana konflik bawahan yang benar-benar butuh perhatian dan mediasi. Kenali duduk permasalahannya dnegan jelas, agar lebih mampu memisah dan memilah mana akar masalahnya.  

2/ Masing-masing pihak yang terlibat konflik ini pastilah memiliki kontribusi. Di sinilah atasan perlu bersikap netral. Jangan memihak dan tak boleh ada kepentingan yang melibatkan diri sendiri. Fokus pada masalah, bukan pada orang, karena konflik bisa memacu like atau dislike terhadap seseorang. Jika hal ini terjadi, akan lebih mudah bagi atasan untuk terjebak dan tidak lagi jernih dalam melihat masalah. Yang dibutuhkan atasan adalah objektivitas dalam menilai sebuah masalah. 

3/ Mulailah dengan menyelesaikan satu pokok permasalahan, lalu dari sini Anda bisa mengurai lagi masalah yang ada hingga konflik bisa terselesaikan. Orientasinya harus ke depan, fokus pada job desc dan KPI (key performance indicators) yang telah ditetapkan. Profesionalisme menjadi kuncinya.

Baca juga:
4/  Jalinlah komunikasi yang baik dengan kedua belah pihak agar tidak ada kesan keberpihakan. Komunikasi yang asertif, lugas, namun tetap ada personal touch perlu dilakukan atasan agar kedua belah pihak merasa nyaman dan dihargai sebagai manusia. Jika memang dibutuhkan, tidak ada salahnya melibatkan pihak ketiga, seperti psikolog industri, untuk melihat dan menggali lebih dalam konflik yang terjadi.Dengan ditangani oleh profesional, masalah dan penyelesaiannya bisa lebih efektif.

5/ Ketika masalah sudah diselesaikan, maka tak perlu lagi mengungkit-ungkit masalah yang pernah timbul. Dengan demikian, kedua belah pihak akan merasa lebih nyaman dan bisa lebih fokus pada pekerjaan dan tanggung jawabnya. (f)
 
 

Faunda Liswijayanti


Topic

#TipKarier

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?