Trending Topic
Mengapa Agama

23 Jul 2013


Bila melihat survei Ipsos, beberapa faktor yang dianggap sebagai sumber kebahagian oleh responden Indonesia adalah sebagai berikut: agama atau kehidupan spiritual yang baik (66%); kesehatan atau kondisi fisik yang baik (62%); anak (57%); hubungan dengan pasangan (54%); kondisi hidup (seperti air, makanan, dll) (41%); perasaan mengenai hidup yang berarti (41%); memiliki pekerjaan yang berarti (40%); memiliki uang (39%), dan keselamatan atau keamanan pribadi (39%).

Munculnya agama sebagai faktor pertama yang menjadi sumber kebahagiaan ini, di mata Budhy Munawar-Rachman, dosen Filsafat Islam dari Universitas Paramadina, sebetulnya tidak aneh. Karena, pada prinsipnya tujuan orang beragama memang untuk berbahagia. Dalam Islam misalnya, doa sapu jagad atau doa yang paling menyeluruh adalah “Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adza bannar”, permohonan diberi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Budhy mengajak kita untuk kritis. “Kalau kita melihat kondisi keagamaan di Indonesia saat ini, sebetulnya memprihatinkan. Maksudnya, sekarang ini agama tidak memberikan keadaan yang baik, terutama dalam hubungan mayoritas dan minoritas. Walaupun orang-orang bilang bahwa masyarakat kita makin beragama, pada kenyataannya agama mendorong fanatisme. Dan hal ini tentu membuat agama bukan sebagai sumber pemberi kebahagiaan,” tutur Budhy.

Pendapat ini didasari oleh fakta di lapangan, dan dikuatkan oleh berbagai survei mengenai tingkat toleransi di Indonesia yang kian luntur. Tahun 2010 misalnya, Setara Institute mencatat, kian menipisnya toleransi di masyarakat Jabodetabek. Seperti yang tergambar dari hasil survei terhadap  1.200 responden, 49,5% tidak menyetujui adanya rumah ibadah bagi penganut agama yang berbeda dari agama yang ia anut.

Intoleransi ini dicatat Budhy bukan hanya dengan umat agama yang berbeda, tetapi juga terjadi dalam agama yang sama yang berbeda aliran. “Misalnya dalam kasus Ahmadiyah atau yang sekarang ini tensinya mulai kuat adalah terhadap Syiah. Karena itu, saya ragu bila agama itu bisa memberikan kebahagiaan,” tegas Budhy.

Hal senada diungkapkan Rani Anggareni Dewi, konselor dari Yayasan Indonesia Bahagia, yang mempelajari psikologi agama. “Saya setuju bahwa agama bisa memberikan kebahagiaan. Tetapi, masalahnya sekarang, bagaimana orang memahami agama? Kalau orang masih terpaku pada makna agama seperti yang saat ini beredar, pemahaman agama seperti itu justru menjadi sumber ketidakbahagiaan. Mengapa? Karena, saya melihat agama justru menjadi sumber konflik,” katanya.

Rani mencontohkan, dalam kasus perkawinan beda agama misalnya. Pasangan beda agama yang hendak menikah pasti akan menemui banyak drama. Orang tua dan keluarga tidak setuju, bahkan negara pun melarang. “Dalam kasus ini pada akhirnya agama tidak memberikan kebahagiaan bagi pasangan yang saling mencintai,” katanya.

Menurut Rani,  tiap orang punya core believe bahwa agama memang memberikan kebahagiaan. Cuma masalahnya, dampak dari persepsi itu  membuat orang lain tidak bahagia karena ada pemaksaan core believe mereka pada orang lain. “Kita cenderung memaksakan apa yang kita pahami kepada orang lain. Misalnya, kamu kalau mau bahagia harus mengikuti ajaran agama ini. Atau, kamu harus melakukan ini, ini, dan ini agar bahagia. Kalau tidak sesuai dengan agama yang dianutnya, maka orang tersebut dianggap tidak akan bahagia,” jelas Rani.

Budhy pun mengakui, saat ini tren kesalehan formal meningkat. “Kecenderungan orang untuk melakukan ritual keagamaan makin tinggi, yang ditandai dengan rumah-rumah ibadah yang penuh, antrean panjang calon jemaah haji, orang ramai-ramai umrah, atau ziarah bagi penganut Kristen,” katanya. Tapi, sayangnya, menurut Budhy, yang meningkat ini masih sebatas kuantitas, bukan menyentuh kualitas. Buktinya? Kian rawannya konflik yang dipicu oleh fanatisme agama yang berlebihan.(f)




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?