Career
Penipuan Berkedok Lowongan Kerja

31 Mar 2016


Meski terjadi belasan tahun lalu, kasus penipuan berkedok lowongan kerja di sebuah hotel di Chicago, Amerika Serikat yang menimpa eksekutif muda Shandra Woworuntu masih rawan kembali terjadi. Apalagi, tahun 2016 ini kita memasuki perdagangan terbuka ASEAN. Peluang kerja dan bisnis juga akan  makin terbuka, demikian juga peluang terjadinya penipuan yang menawarkan kesempatan berkarier di luar negeri. Media internet, menjadi salah satu media subur bagi para predator perdagangan manusia dalam menjerat korbannya.

Berdasarkan Asia Consumer Market Survey yang dilakukan pada Desember 2013 di 7 negara, ada 8 kanal yang dipilih orang Indonesia untuk mencari pekerjaan. Urutannya adalah melalui job portal, search engine, word of mouth, lowongan di media cetak, media sosial, situs perusahaan, komunitas online, dan agen perekrut atau headhunter.

Dengan makin banyaknya kanal pencarian kerja ini, pencari kerja wajib tahu caranya menyaring penipuan yang berkedok lowongan. Hal pertama yang patut dicurigai adalah ketika perusahaan justru menarik biaya dari pelamar. Sebab, dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Pungutan Tenaga Kerja, disebutkan bahwa penyedia lapangan kerja dilarang memungut biaya penempatan dalam bentuk apa pun, termasuk biaya transportasi untuk wawancara di luar kota, atau biaya masuk ke career fair.

Job portal atau situs lowongan menjadi tujuan utama bagi mereka yang mencari pekerjaan melalui online karena beberapa alasan. Pertama, job portal memuat lowongan pekerja dari hampir semua level dan industri, yang bisa dicari dengan mudah memakai keyword tertentu. Selain itu, keamanannya paling terjamin karena perusahaan-perusahaan yang memasang lowongan di sana harus melewati proses validasi.

Menurut Ariadi Anaya, Managing Director JobsDB Indonesia, validasi dimulai dari pengecekan nama perusahaan dan nama individu. Apabila sudah benar, mereka akan diminta beberapa data dan salinan NPWP perusahaan. Dari sekitar 58.250 perusahaan yang memasang lowongan di JobsDB, saat ini sudah ada puluhan nama individu dan perusahaan fiktif yang masuk ke dalam blacklist

“Penipuan ini tidak amatiran. Ada yang membuat alamat e-mail dengan nama perusahaan besar, ada yang sampai membuat kop surat resmi,” kata Ariadi.

Meskipun kebanyakan job portal berisi lowongan pekerjaan lokal, Ariadi menuturkan bahwa pencari kerja juga bisa mencari pekerjaan di luar negeri dengan dua cara. Pertama adalah dengan mencari perusahaan asing yang membuka lowongan di job portal lokal. Misalnya, mencari perusahaan Singapura di situs JobsDB Indonesia.

Kedua,   mengunjungi langsung situs job portal negara yang dituju, misalnya jika ingin bekerja di Singapura, berarti langsung mencari pekerjaan di situs JobsDB Singapura. Cara yang kedua ini menurut Ariadi sedikit lebih rumit daripada yang pertama. “Penyedia lowongan kerja umumnya mencari pegawai lokal. Jadi, belum tentu mereka mau menerima pegawai asing, karena urusannya lebih panjang,” ujarnya.

Menyambut kompetisi yang  makin besar di tahun 2016 ini, Ariadi memberi insight bahwa mereka yang memiliki skill spesifik akan  makin dicari di Asia dan wilayah-wilayah lain. Sedangkan mereka yang memiliki kompetensi general, misalnya human resource atau marketing, akan lebih sulit untuk mencari pekerjaan di luar negeri. Berdasarkan pengamatannya, sebetulnya ada demand yang tinggi untuk bidang engineering di hampir semua negara maju dan berkembang, tapi sayangnya saat ini Indonesia belum bisa mencukupinya.(f)


 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?