Tim JF3 Fashion Festival dan para peserta Pintu Incubator. Foto: Dok. JF3 Fashion Festival
Mengikuti PINTU Incubator bisa jadi jalan bagi jenama fashion untuk lebih berbicara di industri ini, apalagi mendapat kesempatan bertukar ide kreatif dengan kolega dari Prancis.
Sejak 2022, Pintu Incubator telah menjadi wadah untuk mendukung para kreator muda Indonesia dan Prancis, dan telah menjaring lebih dari 10 ribu jenama. Sudah ada 51 peserta inkubasi terpilih, yang melibatkan 86 mentor ahli, termasuk 33 mentor dari Prancis.
Berbeda dari tahun sebelumnya, kini Pintu menghadirkan Residency Program. Inilah program yang mempertemukan desainer muda Prancis dengan kolega mereka dari Indonesia, serta mengeksplorasi langsung kekayaan Indonesia.
Dua desainer muda Prancis, Kozue Sullerot dan Priscille Berthaud, terpilih untuk mempelajari teknik batik dan tenun. Selama tiga bulan, mereka akan berkolaborasi dan menciptakan koleksi lintas budaya yang nantinya akan dipresentasikan di LAKON Store dan Premiere Classe Paris.
“Mereka bukan hanya mendapat pelatihan teknis, tapi juga mendapatkan pengalaman profesional dan personal,” ujar Thresia Mareta, Co-Initiator Pintu Incubator dan Founder Lakon Indonesia.
Thresia Mareta bersama perwakilan CLV dan Nona Rona. Foto: Dok. JF3 Fashion Festival
Sementara itu, Pintu Incubator juga merilis enam jenama fashion peserta inkubasi yang JF3 Fashion Festival (25 Juli-2 Agustus 2025). Mereka adalah:
1/ CLV
Terinspirasi kata “Clavi,” CLV menghadirkan produk-produk sehari-hari seperti tas, tempat pensil, hingga pakaian seperti shifter jacket. Dengan perpaduan warna yang bold dan desain yang stylish, CLV tidak melupakan unsur fungsionalnya.
2/ Dya Sejiwa
Sejak 2017, Dya Sejiwa berfokus pada produksi pakaian handmade dalam jumlah kecil, menggabungkan bahan-bahan tradisional Indonesia dengan desain kontemporer. Contohnya Janggan Sleeveless Tenun Bulu, dibuat dengan bahan sisa tenun bulu, yang unik yang berkarakter.
3/ Lil Public
Berdiri sejak 2019 di Bandung, Lil Public dikenal dengan cara mereka menggambarkan pandangan mereka tentang public figure atau produk literasi yang kemudian dibuat menjadi bentuk produk fashion berkonsep streetwear.
Perwakilan Rizkya Batik, Dya Sejiwa, dan Lil Public. Foto: Dok. JF3 Fashion Festival
4/ Nona Rona
Muncul di tengah pandemi di sebuah workshop di Jakarta, Nona Rona mengeksplorasi keberagaman perempuan melalui warna dan model di tiap pakaiannya. Pola beragam di tiap koleksinya memberikan keunikan tersendiri.
5/ Denim It Up
Denim It Up mencoba mentransformasi denim menjadi pakaian yang tidak hanya nyaman dipakai. Melalui eksplorasi sepert penggunaan potongan leather patches, kain batik, dan gaya penjahitan tersendiri, mereka menghadirkan pakaian denim bernilai seni.
6/ Rizkya Batik
Rizkya Batik mencoba menyulap batik menjadi pakaian yang trendi dan berkualitas tinggi. Bagi mereka, batik lebih dari sekadar sektor bisnis, namun juga karakter bangsa.
Baca juga:
Kolaborasi 2 Mai x Fuguku, Gaya Maksimal yang Berkelanjutan
Relevan dengan Perkembangan Zaman Jadi Tantangan Industri Fashion Tanah Air
Thresia Mareta Menerima Penghargaan Knight of the Ordre des Arts et des Lettres
Ghina Athaya


