MR.D.I.Y. Indonesia sukses menyelenggarakan kompetisi seni perdana bertema Identity & Diversity. Foto: Dok. MR.D.I.Y.
MR.D.I.Y. Indonesia sukses menyelenggarakan kompetisi seni perdana bertema Identity & Diversity. Kompetisi ini menarik ribuan partisipan dari seluruh penjuru Indonesia, membuktikan bahwa seni punya peran penting dalam merayakan identitas dan keberagaman.
Salah satu sorotan utama dalam kompetisi ini adalah kemenangan para perempuan, yang karyanya menunjukkan narasi mendalam dan pendekatan yang unik.
Diandra Lamees, mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung, berhasil meraih Grand Prize Kategori Pelajar & Mahasiswa dengan karya berjudul Upacara Imlek Versiku.
Karya seni keramik reflektifnya adalah sebuah perjalanan personal untuk memahami ulang identitasnya sebagai seorang Tionghoa Indonesia. Melalui karyanya, Diandra memperlihatkan bagaimana seni bisa menjadi jembatan untuk mengeksplorasi warisan budaya dan menemukan makna diri.
Kemenangannya tidak hanya sebuah pengakuan atas bakatnya, tetapi juga bukti bahwa generasi muda mampu menyuarakan isu-isu identitas dengan cara yang segar dan relevan.
Penghargaan Judges' Award kepada Andita Purnama atas karyanya, Babad Tanah Leluhur: Wasiat Bunga Kencana Wungu. Foto: Dok. MR.D.I.Y.
Sementara itu, di kategori umum, para juri memberikan penghargaan Judges' Award kepada Andita Purnama atas karyanya, Babad Tanah Leluhur: Wasiat Bunga Kencana Wungu. Andita, seniman multidisipliner lulusan Institut Seni Indonesia, menciptakan instalasi artefak ingatan yang menggunakan pita kaset dan simbol patung perempuan.
Bukan tanpa alasan pita kaset dipilih sebagai material utama. Menurut Andita, pita kaset sebagai metafora dari kisah masa sekarang dan masa lalu. Karyanya berhasil memadukan sejarah, memori, dan identitas perempuan sebagai penanda narasi yang kuat.
“Ingatan-ingatan kita tentang artefak identitas dan sejarah kita, identitas kita di masa lalu, local wisdom, semua terekam. Bagaimana kita hidup dengan bayak perbedaan dan mengapresiasi perbedaan itu,” ungkap Andita.
Selain pita kaset, Andita menggunakan patung kepala perempuan yang terbuat dari kertas. “Ini tentang Yoni, ketika perempuan menjadi pembawa identitas budaya, tonggak bagi bangsa kita,” ungkap Andita tentang karyanya, yang membutuhkan sekitar 75 kaset untuk diambil pitanya dan kemudian dirajut selama kurang-lebih 4 bulan.
Dona Prawita Arissuta, yang mendapatkan President Director’s Award untuk karyanya, We’ve Not Just Been Extremely Fortunate. Foto: Dok. MR. D.I.Y.
Kemudian ada Dona Prawita Arissuta, yang mendapatkan President Director’s Award untuk karyanya, We’ve Not Just Been Extremely Fortunate.
Karya Dona, yang merupakan ungkapan syukur atas keberagaman bangsa, menggunakan metafora visual gunungan dan simbol kultural. Seniman kontemporer lulusan ITB ini dikenal akan pendekatannya yang berani dan eksploratif, mengangkat isu-isu identitas dan pengalaman perempuan dalam konteks sosial budaya urban.
“Karya ini menampilkan kombinasi keramik dan lukisan. Ada keramik berbentuk gunungan yang melambangkan alam semesta dan keramik naga untuk berkah melimpah sekaligus penjaga. Keduanya berada dalam sebuah gambar teko besar yang mengibaratkan sebuah kehangatan, teko sebagai tempat menyimpan air hangat,” jelas Dona.
Untuk karyanya kali ini, Dona memilih menggunakan tanah dari Sukabumi yang mudah dbentuk dan memiliki warna lebih cerah. “Hasil keramiknya lebih mudah untuk diberi warna,” kata Dona, yang menggunakan banyak warna untuk memberikan ‘nyawa’ pada keramiknya.
Dosen di UNS ini mengaku mengikuti MR.D.I.Y. Art Competition untuk mendorong mahasiswanya lebih semangat untuk berkarya dan memamerkan haisl karyanya di acara kompetisi atau pameran-pameran. Ia pun sangat mengapresiasi langkah pertama MR. D.I.Y. untuk membuka ruang lebih luas pada dunia seni.
MR.D.I.Y. memberikan total hadiah sebesar Rp280 juta untuk para pemenang. Foto: Dok. MR.D.I.Y.
Menurut Edwin Cheah, Direktur Utama MR.D.I.Y. Indonesia, ribuan karya yang diterima dalam kompetisi ini membuktikan bahwa seni mampu menyuarakan keberagaman dan mempererat kebersamaan.
Selain memberikan total hadiah sebesar Rp280 juta, MR.D.I.Y. mendukung para pemenang dan finalis melalui Pameran Karya Seni yang diselenggarakan dari 6 hingga 17 Agustus 2025 di Toko Flagship MR.D.I.Y. Lotte Mall, Jakarta. Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis, memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk menikmati dan mengapresiasi bakat seniman lokal.
Tak hanya itu, para pemenang juga berkesempatan untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi seni tingkat regional. Ini adalah kesempatan emas untuk membawa karya mereka ke panggung internasional sekaligus menunjukkan keindahan seni Indonesia.
MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2025 menjadi wujud nyata dari komitmen MR.D.I.Y Indonesia untuk mendukung seni, budaya, dan keberagaman di Indonesia, serta menyediakan wadah bagi seniman-seniman berbakat—termasuk para perempuan—untuk berkarya, berekspresi, dan menginspirasi. (f)
Baca juga:
Pengantin Nusantara dan Sentuhan Kenangan Menginspirasi Koleksi Debut Nini Sumohandoyo
Anya Madiadipoera, Pewaris Napas Seni Keluarga Nuarta
TULOLA Memaknai Jati Diri di Gelaran Kawan Nusantara, Gandeng 3 Kolaborator dan 9 UMKM Lokal
Faunda Liswijayanti
Topic
#perempuanberdaya, #seni




