Fiction
Opera Rumah Singgah [2]

4 Jul 2011

<< cerita sebelumnya

Baloi Centre, Februari 2007


Rianty membanting dua buah modul tebal miliknya ke atas meja, yang menimbulkan suara debam lumayan keras. Untung saja kelas sudah berakhir, jadi tak ada yang menangkap suara yang mewakili kekesalannya itu. Ini adalah minggu keempat ia berdiri di ruang kelas ini, mengajar bahasa Inggris kepada puluhan calon TKI yang menunggu jadwal keberangkatan.

Dalam satu hari ia harus mengajar dalam dua shift. Pagi dan sore hari, dengan jumlah murid pada setiap shift-nya sekitar tiga puluhan orang. Gaji yang dijanjikan oleh PT Angkasa kepadanya, sebagai pengajar sekaligus mentor para calon tenaga kerja itu, memang tak sebaik yang diharapkan. Namun, perusahaan cukup bertoleransi untuk memberinya kebebasan untuk bekerja di tempat lain di luar shift, sepanjang ia bisa hadir tepat waktu sesuai jadwalnya bertatap muka. Dan, sejauh ini, kebijakan itu sudah cukup menenangkan baginya yang belum lagi genap sebulan mengajar.

Namun, hari ini, entah kenapa, ia tak dapat mengawal kesal. Hampir sebulan berlalu tanpa ada kemajuan berarti dari murid-muridnya, belum lagi tuntutan Hendrik, atasannya di divisi SDM, agar para calon TKI itu sudah benar-benar siap ‘bicara’, saat mereka diberangkatkan ke negara tujuan. Bagaimana bisa dalam waktu relatif singkat menyulap mereka menjadi lancar bicara atau paling tidak mengerti secara pasif, sedangkan hampir separuh dari mereka sama sekali tak bisa membaca dan menulis?

Ingatannya melayang pada selembar ijazah yang berstempel merek sebuah lembaga kursus bahasa asing ternama di tanah air. Selembar ijazah berstandar internasional yang dihiasi deret angka excellence itu seakan tak berarti apa-apa, jika dibandingkan dengan hasil mengajarnya, yang sampai saat ini belum juga menunjukkan tanda-tanda perkembangan menggembirakan. Sebagian besar murid lebih betah menatapnya hilir mudik di depan kelas daripada menulis di kertas, terpatah-patah meniru setiap conversation yang diajarkannya. Pada umumnya lupa jika diminta mengulangnya kembali di pertemuan berikut.

Kadang-kadang ia berpikir, seandainya boleh memilih, kenapa dulu negara ini harus dijajah oleh Belanda dan Jepang, yang tak meninggalkan warisan berharga selain budaya korupsi, penjilat, dan adu domba. Kenapa tidak dijajah Inggris, sehingga sejak dini generasi mereka sudah terbiasa menggunakan dwi bahasa dan untuk berkomunikasi dengan bahasa internasional itu tak lagi menjadi persoalan?

“Teacher, excuse me.” Rianty mengangkat kepalanya. Seorang gadis bermata bulat berdiri di depannya. Di tangannya tergenggam sebuah buku bergambar.

“Yes, can I help you, Miss…?”

“Surti,” gadis itu menjawab singkat. “May I sit down, Teacher?” tanyanya, terpatah-patah.

Rianty mengangguk, “Yes, please.” Ia memang selalu menekankan pada para muridnya untuk berani bicara, tanpa perlu memikirkan apakah yang mereka ucapkan sudah benar atau belum.

“Kalau bicaranya campur dengan bahasa Indonesia, boleh, Teacher?” Rianty mengangguk lagi. “Of course. It doesn’t matter.”

Surti lalu duduk di hadapannya, menyodorkan buku yang digenggamnya dan menunjuk pada gambar di dalamnya. “Teacher, would you tell me, e... yang mana freezer, yang mana refrigerator?” tanyanya, tersipu.

Rianty meraih pena, lalu menunjuk ke arah gambar yang dimaksud dan menerangkan fungsi masing-masing benda itu.

“Jadi, kalau nanti majikan saya menyuruh menyimpan sausage, it means, e... saya harus menyimpannya di dalam... freezer. Is it right, Teacher?” Surti kembali tersipu.

“Yes. Exactly,” jawab Rianty, tegas.

“Thanks, Teacher,” kali ini Surti tak hanya tersipu, namun juga tersenyum puas, dan Rianty dapat melihat betapa dalam lesung pipi gadis itu, membuat wajahnya makin elok dipandang. “Kalau besok-besok saya menemui Teacher di luar kelas, seperti sekarang ini, boleh, Teacher?”

“Of course, Surti. Saya justru akan merasa senang sekali.”

“Thanks, Teacher. Saya permisi.” Surti mengangguk sopan sebelum berlalu, diiringi tatap Rianty padanya yang dibaluri rasa kagum.

Sejak saat itu, kehadiran Surti yang selalu menemuinya setiap usai jam pelajaran, perlahan-lahan mulai mengikis kekesalan Rianty dan tekanan di dadanya, setiap kali harus berdiri di depan kelas. Paling tidak, respons Surti yang selalu bersemangat mengulang kembali setiap materi yang diajarkan dan bertanya tentang kosakata baru yang diperolehnya dengan sangat antusias, membuat Rianty mulai membangun rasa percaya diri.

“Melihat dari wajahmu, sepertinya kamu masih muda sekali. Berapa, sih, umur kamu?” tanya Rianty suatu hari, usai memeriksa writing task yang diberikannya di kelas pagi.

“Sixteen, Teacher,” jawaban Surti membuat Rianty terbelalak.

“Are you sure?”

Surti mengangguk.

Rianty menatap heran. “Surti, bukankah peraturan tidak membenarkan calon tenaga kerja yang masih di bawah umur? Lantas, bagaimana kamu bisa sampai di sini?”

Bola mata Surti yang bulat dan kekanakan sejenak berputar-putar. Ada rona gugup yang tak dapat ia sembunyikan. “Tapi, Teacher janji nggak bilang sama bos, ya, kalau saya masih enam belas?”

Rianty berpikir sesaat. “Oke, saya janji. Asal, kamu mau cerita pada saya, bagaimana caranya kamu bisa lolos sampai kemari!”

“Begini, Teacher. Dulu, Mbak yang ngajakin saya kemari, yang ngurusin semua dokumen saya, dia juga yang nyuruh saya jangan bilang ke siapa-siapa tentang usia saya. Karena, kalau ketahuan, enggak boleh kerja.” Surti menunduk sambil memilin-milin ujung bajunya. “Saya pengen bantu Mbok, Teacher. Mbok saya sudah tua, sering sakit-sakitan, adik saya ada tiga, masih kecil semua. Bapak sudah lama meninggal.”

Jawaban klise. Rianty menggumam dalam hati. Tetapi, sorot mata polos gadis itu meyakinkan dirinya bahwa Surti bicara jujur.

“Kamu lulus sekolah apa?”

“SMP, Teacher.”

“Tidak melanjutkan?”

Surti menggeleng.

Dan, kamu pasti akan mengatakan bahwa kesulitan biayalah yang menjadi penyebab utamanya. Isi benak Rianty kembali urun komentar. Namun, gadis itu hanya membisu.

“Surti, kalau misalnya, kamu nggak usah jadi TKW, tetapi bekerja dengan saya, kamu mau?” Ide itu tiba-tiba saja melintas di kepala Rianty.

Surti mengangkat wajahnya. “Bekerja apa, Teacher?”

“Apa saja sesuai kemampuan kamu. Yang jelas, saya akan usahakan membantu kamu untuk bisa sekolah lagi.”

Mata Surti yang bulat tambah membesar. “Are you sure, Teacher?”

Rianty tersenyum kecil. Mengagumi daya tangkap gadis ini terhadap kalimatnya beberapa menit lalu, untuk kemudian menggunakannya pada situasi yang tepat.

“Very sure, Surti.”

Gadis itu kembali menatapnya dengan raut bingung.

“Kamu gadis cerdas. Kemauan kamu juga keras. Sayang kalau sampai harus berhenti sekolah. Kalau kamu bisa lulus dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Insya Allah kamu bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik, tanpa harus jauh-jauh ke negeri orang,” ucapan Rianty terputus, ketika mendengar bunyi langkah sepatu Hendrik yang sudah sangat dikenalnya, berjalan ke arah kelas.

“Kamu pikirkan dulu tawaran saya. Urusan dengan Mr. Hendrik, nanti saya yang akan bicarakan.” Rianty mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya berlalu dengan bergegas. Sementara itu, Surti masih duduk termenung di kursinya. Menatap kepergian Rianty dengan raut bertambah bingung.


Penulis : Riawani Elyta
Pemenang II Sayembara Mengarang Cerber femina 2008



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?