Dalam pemahaman awam, rujak lebih sering diidentifikasikan sebagai rujak buah-buahan yang segar-pedas, mampu jadi penghilang kantuk di sela-sela rapat kantor ataupun reuni teman lama. Ada banyak sebutan dan cara mengolah rujak berbasis buah segar. Salah satunya adalah rujak manis. Disebut demikian karena irisan ragam buah segar biasa disalut saus pedas manis dari gula jawa, kacang tanah, asam, garam, jeruk nipis, dan cabai.
Tak ada aturan khusus dalam komposisi isi rujak. Asal suka, semua buah bisa digunakan sebagai bahan membuat rujak. Baik itu buah-buah yang nyaris hadir tanpa musim (seperti pepaya, mentimun, nanas, jambu, belimbing, ubi mentah) maupun buah semusim (bengkuang, mangga mengkal, salak, kedondong, melon, jeruk bali, apel, pir, anggur, rambutan). Demikian juga buah-buah yang kini makin langka, semisal lobi-lobi, gandaria, kemang, kuini, kawista atau buah maja. Beberapa dari buah langka bahkan menjadi ‘nilai jual’ tersendiri bagi penjual rujak.
Penyajian rujak manis amat sederhana. Buah dikupas, dicuci, lalu diiris tipis-tipis. Bahan untuk saus dihaluskan lalu diberi sedikit air agar kental. Saus kemudian disiramkan ke atas buah-buahan, atau diaduk bersama sebelum disantap. Ada juga rujak buah yang dinikmati dengan cara mencolekkan keping buah ke bumbu terlebih dulu, yang kemudian populer sebagai rujak colek.
Sementara, di beberapa kota, penggemar rujak lebih suka menggunakan buah-buah yang sudah masak (apel, pir, pepaya, nangka, nanas, anggur). Setelah diiris-iris, buah-buah itu lalu didinginkan terlebih dulu. Sebutannya pun menjadi rujak buah dingin.


