YA BUNGA, YA BUAH...!
Tanaman kecombrang mirip jahe atau lempuyang, tapi tumbuh lebih tinggi dengan daun-daun panjang. Bunganya lebih bagus, dengan warna beragam. Tapi yang umum dijadikan bumbu penyedap ragam masakan Nusantara adalah bunga yang berwarna merah muda, merah hingga kuning, hingga merah tua.
Berbeda dengan jahe atau lempuyang, bunga kecombrang bisa diserbuk serangga dan berproses menjadi buah yang mirip buah nenas. Sebagaimana bunganya, buah honje juga biasa dimanfaatkan untuk bahan bumbu bercita rasa asam, yang antara lain populer sebagai asam patikala atau asam tikala yang di Jawa Barat biasa digunakan untuk membuat sayur asam atau campuran sambal rujak buah.
Kecombrang tumbuh dengan baik di tanah gembur, dari kawasan pantai hingga lereng-lereng gunung. Di hutan Taman Nasional Gunung Gede - Pangrango ataupun Taman Nasional Gunung Halimun - Salak, juga di tanah-tanah datar di pedalaman Kalimantan, Papua, Sulawesi, Sumatera dan pulau-pulau lain di sekujur Nusantara, ragam jenis kecombrang semarak tumbuh. Beberapa jenis dari yang dimiliki Indonesia juga tumbuh di kawasan lain di ASEAN.
Bunga kecombrang memang cantik saat kuncup ataupun mekar. Bertangkai panjang, dengan cembungan merekah di ujungnya. Yang jadi penanda dari bunga ini adalah aromanya yang wangi tajam, eksotis, dan sangat merangsang selera. Nyaris semua bagian tubuh kecombrang bermanfaat. Tak ada bagian yang terbuang percuma sebagai sampah, zero waste. Bunga dan buahnya, selain sebagai bumbu masak, juga biasa digunakan sebagai bunga potong.
Rimpangnya (yang juga harum) berkhasiat obat, hingga sejak dulu masyarakat tradisional Indonesia biasa memanfaatkannya sebagai bahan jamu dan aromaterapi. Bahkan kini diekstrak sebagai bahan industri farmakologi. Masyarakat di Jawa Barat juga sejak lama menggunakan perasan rimpang kecombrang sebagai pewarna kuning alami, yang sedikit berbeda dengan kuning kunyit.
Pelepah batangnya yang panjang mirip galah, juga mengandung senyawa kimia, yang bila dicemplungkan ke air akan menimbulkan busa yang harum. Mirip busa sabun, tapi tak mengandung soda dan zat pencemar air. Karena itu, kearifan tradisional di Baduy di Banten, sejak lama memanfaatkan irisan atau belahan pelepah kecombrang untuk ‘sabun mandi’ yang tak mencemarkan lingkungan. Masyarakat Islam di Indonesia juga memanfaatkannya untuk menggosok tubuh jenasah sebelum dikafani dan dimakamkan.
Batang dan pelepah kecombrang yang bisa mencapai panjang beberapa meter, bila dikeringkan juga berguna sebagai bahan tali dan industri kertas. Bahkan di pesisir selatan Banten, persisnya di Desa Patahan Kalong, Kecamatan Cibaliung, Kabupaten Pandeglang, warga sejak lama memanfaatkan daun honje yang lebar dan panjang itu sebagai atap bangunan dan rumah. Daun-daun segar dipanen dan diangin-anginkan di tempat teduh, disirip menjadi lembar-lembar atap. “Lebih praktis dari daun enau,” ungkap Das Albantani, arsitek dan aktivis lingkungan di Banten.(f)


