Travel
Warisan Alam Borneo

26 Oct 2014

Di pelosok Kalimantan Timur, atas undangan World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, Redaktur Senior femina, Rahma Wulandari, belajar lebih banyak tentang kehidupan dengan tinggal langsung bersama warga lokal di Mahakam Ulu. Inilah perkenalan pertamanya dengan komunitas adat Dayak yang hampir sepenuhnya masih menggantungkan hidup mereka pada kebaikan alam.



Dalam diam Sungai Mahakam menjadi saksi kelangsungan hidup manusia. Tiap suku Dayak yang menghuni daerah aliran Sungai Mahakam berupaya menjaga lukisan alam yang indah ini dengan berbagai cara untuk melawan pencemaran lingkungan. Di Mahakam Ulu, kabupaten yang baru menjadi daerah otonomi baru dan lepas dari Kabupaten Kutai Barat pada 20 Mei 2013, warga menjunjung nilai-nilai kearifan lokal sebagai modal utama usaha konservasi yang sekaligus menjadi daya tarik ekowisata baru. Inilah kisah mereka.

Melawan Sampah, Melawan Gaya Hidup

Ratusan pasang mata serius menatap layar sederhana yang menampilkan sosok pria menyusuri pantai yang penuh dengan serakan sampah di Saida, Lebanon. Gambar itu lalu  berganti dengan pemandangan gunungan sampah yang dramatis di kota-kota lain di dunia, termasuk adegan bocah-bocah yang asyik nyemplung dan berenang di antara sampah-sampah yang mengapung di Sungai Ciliwung, Jakarta.
   
Tanpa teks terjemahan, tampaknya hanya sebagian warga Ujoh Bilang yang memahami pemaparan aktor Jeremy Irons, narator di Trashed, film dokumenter tentang masalah sampah dunia karya sutradara Inggris, Candida Brady. Namun, gambar bicara seribu kata. Kerusakan lingkungan akibat buruknya pengelolaan sampah di sebelas negara tadi cukup membuat warga yang menonton bergidik ngeri. Pesan dari film dokumenter terbaik pada Raindance Film Festival ini menjadi relevan dan seolah ‘mencubit’ warga yang hadir.
   
Ketiadaan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah menyebabkan warga masih nakal membuang sampah di Sungai Mahakam. Padahal, risikonya fatal. “Seluruh penduduk dari Mahakam Ulu hingga Samarinda yang menggunakan air dari Mahakam akan menjadi korban,” kata Pj. Bupati Mahakam Ulu, MS Ruslan, kepada warga. Malam itu, Balai Adat Desa Ujoh Bilang memang disesaki warga yang tengah bergembira merayakan hari jadi Kabupaten Mahakam Ulu yang pertama. Momen yang tepat untuk mengingatkan bahwa pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab  tiap warga.
   
Meski malam mulai turun, warga masih antusias mengikuti diskusi seputar pengelolaan sampah bersama pemerintah daerah dan WWF Indonesia. Salah satu warga asal Long Bagun mempertanyakan kelanjutan penerapan Peraturan Daerah Kutai Barat tentang hukuman pidana kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda maksimal Rp50 juta bagi mereka yang membuang sampah sembarangan. Nyatanya, sulit mewujudkan Sungai Mahakam yang bebas dari limbah.
   
Isu zero waste bukan hanya milik warga Mahakam Ulu, tapi juga masalah global yang jadi perhatian dunia. Pengurangan sampah dengan konsep 3R  (reduce, reuse dan recycling) yang bergaung keras masih belum sepenuhnya diterapkan oleh masyarakat luas.

Di mana letak masalahnya? Saya lalu teringat salah satu tulisan Prof. Enri Damanhuri, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, tentang reduksi sampah. Target Amerika Serikat untuk mengurangi sampah sampai 50% dalam 10 tahun dengan upaya 3R juga sangat sulit dicapai. Ia mengutip ucapan salah satu pembicara dalam seminar internasional pengelolaan sampah berwawasan lingkungan. “I don’t think it will happen. We are not dealing with garbage, we are dealing with lifestyle.” Semua harus dimulai dari perubahan gaya hidup individu!  
   
Hal senada dicetuskan oleh Nugie, supporter kehormatan WWF Indonesia. “Jangan biarkan keindahan jantung Borneo yang dikenal luas di dunia lenyap karena perilaku buruk kita mencemari lingkungan. Sudah saatnya kita mulai mengubah gaya hidup dan terlibat aktif dalam pengelolaan sampah,“ tegas Nugie, menutup diskusi malam itu.


Warna-Warni Festival Memangai

Esoknya, hujan tumpah sejak pagi di Ujoh Bilang. Namun, warga tak kehilangan semangat, upacara perayaan hari jadi pertama Kabupaten Mahakam Ulu tetap berlangsung. Kontingen parade datang dari lima kecamatan di Mahakam Ulu; Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, Long Hubung dan Laham, lengkap dengan baju adat kaya corak  tiap suku. Nyaris di  tiap sudut lapangan tampak kilau warna-warni manik-manik dari kostum   kontingen adat. Meriah!

Para ibu tampil maksimal dengan dandanan rapi, lengkap dengan kalung manik-manik. Rambut mereka ada yang terurai atau terikat sebagian oleh lawung, ikat rambut tradisional Dayak.
       
Para penari hudoq menerobos hujan dan mulai bergerak sesuai pola ngarang. Gerakan kaki ke kiri dan ke kanan lalu dientakkan ini sesekali meruntuhkan daun dari kostum penari hudoq. Warga Dayak meyakini bahwa daun-daun yang gugur dari hudoq bisa menyuburkan tanah pertanian mereka, karena itu upacara hudoq biasanya dilakukan pada masa menanam. Hudoq dianggap warga Dayak sebagai jelmaan dewa yang akan mengusir berbagai hama di sawah. Karena ikonik, hudoq lantas dijadikan maskot Kabupaten Mahakam Ulu.
       
Warga yang tadinya hanya menonton di sisi lapangan langsung menyambung iring-iringan dan turut menari. Gerakan kaki ke kiri dan ke kanan yang disebut ngarang itu cukup mudah diikuti. Anak-anak Borneo memang belajar menari sejak usia belia, baik perempuan maupun laki-laki.
       
Salah satu penari hudoq, Liman Jaang, (60), warga Long Pahangai, mengaku sudah bisa menari hudoq sejak usia 17 tahun. "Menari hudoq selalu membuat saya merasa lebih muda dan bersemangat,” ujarnya, sambil melepas topeng hudoq yang menutupi wajahnya. Topeng kayu yang serupa burung itu tampak mencolok dengan beberapa helai bulu burung enggang di bagian atasnya.
         
Penari hudoq seperti Kakek Liman tidak sekadar bisa menari, tapi ia juga bisa membuat kostum hudoq. “Kostum hudoq ini hanya dibuat sehari,” ia menambahkan sambil memamerkan kostum hudoq dari jalinan daun pinang yang membentuk baju. Tiba-tiba parade terhenti. Muncul para pria berkostum buah kakao, buah naga, dan sayuran menari-nari lucu di tengah lapangan. Semangat warga dalam mengelola sumber daya alam berbasiskan pembangunan berkelanjutan tampak jelas di pesta rakyat ini.


Tana’ Ulen: Konservasi ala Dayak

Dengan perahu ketinting, kami mengarungi Sungai Alaan untuk menuju lokasi trekking di Batu Majang. Trekking kali ini istimewa, kami diperkenalkan pada Tana’ Ulen, hutan lindung adat. Tidak sembarang orang bisa memasuki area hutan lindung ini di hari-hari biasa. Dan ada sanksi bagi mereka yang melanggar waktu buka ulen.
    
Menurut petinggi Desa Batu Majang, Yosef Merang, Tana’ Ulen hanya dibuka jika ada acara adat seperti upacara kematian atau perayaan. Saat itulah, warga boleh mengambil hasil hutan, seperti ikan, babi, atau kayu untuk kebutuhan acara bersama. Tradisi Tana’ Ulen masih terus dilestarikan oleh suku Dayak Kenyah dan memegang peran penting dalam manajemen hutan berkelanjutan di wilayah jantung Borneo. Komunitas adat turut berperan serta dalam usaha ‘mengawal’ Tana’ Ulen agar tetap sesuai dengan peruntukan awalnya melalui Badan Pengurus Tana’ Ulen.
         
Bersama warga lokal, saya harus mendaki sekitar 2 jam untuk menuju tempat istirahat pertama. Para ibu mulai menyalakan api unggun sambil menyanyi dalam bahasa Dayak. Sebagian lauk dimasak langsung di tempat istirahat kami, area terbuka dengan aliran sungai kecil yang mengalir di depan mata. Lemang, aneka sayur, ikan panggang dan sambal kecap menanti disantap. Menu lezat dan sehat! Di ujung perjalanan, riam kecil berarus tenang di Sungai Alaan menanti semua untuk nyebur! Sungguh sesi rehat yang segar di bawah rindangnya pepohonan.


Hidup Selaras Alam   

Di persinggahan selanjutnya, Desa Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung, saya bertemu dengan komunitas Dayak Tunjung yang tak kalah solid. Begitu mobil yang membawa kami menepi, terdengar iringan musik dan sederet penari cilik menyambut kedatangan kami. Seorang petinggi adat Melapeh mengalungkan kalung batu cantik dan menempelkan kuning telur di dahi semua tamu.
       
“Itu artinya kalian sudah diterima menjadi bagian dari masyarakat di sini,” bisik seorang warga yang mengantar kami memasuki Lamin Adat Melapeh yang masih berfungsi sebagai rumah komunal.
       
Pemandangan di luar lamin sangat menarik perhatian saya. Para ibu sibuk memasak hidangan untuk dinikmati bersama. Karung-karung beras dari sumbangan warga menumpuk di sisi kanan lamin, sebutan untuk rumah panjang suku Dayak. Jejeran lemang dalam potongan bambu menghias perapian.
       
Kaum wanita Dayak memiliki peran penting dalam acara-acara adat dan usaha konservasi. “Para ibu mengambil hasil hutan atau ladang untuk bahan makanan sehari-hari, namun sebetulnya mereka bisa saja membeli di pasar. Keputusan terhadap sumber bahan makanan dan nilai ekonominya ada di tangan mereka. Jika jeli, hampir di tiap halaman rumah warga terdapat kebun kecil dan satu dua pohon buah. Warga akan saling mengantar hasil panen sekaligus untuk bersilaturahmi,” ujar Sri Jimmy Kustini, Senior Officer WWF Indonesia Program Kutai Barat yang juga warga asli setempat.
        
Selama hampir sepekan, suguhan buah memang tak putus. Saya berkenalan dengan segarnya asam payang yang harumnya mirip mangga kuini, buah ihau, dan kapul yang pohonnya banyak terdapat di rumah penduduk, dan keramu.
     
“Buah keramu ini cukup direndam dengan air panas sekitar lima menit. Cobalah, rasanya seperti mentega,” tawar Pak Jo, salah satu pengurus Desa Melapeh seraya menyodorkan piring berisi keramu kepada saya. “Biji dan kulit keramu juga berguna. Ibu-ibu di sini menjadikannya pelembap alami untuk menghaluskan kulit tangan, lho,” ia menambahkan.
       
Saya tak sempat mencoba sarannya karena sibuk menghabiskan bubur biji jaga, sejenis sorgum yang ditanam bersama padi sebagai tanaman pendamping di sawah. Setelah dikeringkan, biji jaga diolah menjadi bubur manis kental dengan gula aren yang cukup mengenyangkan. Tekstur bijinya meninggalkan rasa bergerindil di lidah.
Pelan-pelan saya menghabiskan bubur jaga sambil menyimak cerita Pak Jo tentang lamin tempat kami berkumpul.
       
Lamin Adat Melapeh dibangun selama tiga tahun secara bergotong-royong oleh warga Dayak Tunjung. “Tiap pukul enam pagi kentongan dibunyikan sebagai tanda berkumpul. Pekerjaan membangun dilakukan sesuai kemampuan masing-masing warga, mulai dari membuat pola ukiran di kayu dan mengukirnya. Meski ada subsidi biaya dari pemerintah daerah, sekitar separuh dana pembangunan lamin adat ini juga berasal dari swadaya warga.”

Upaya warga Melapeh memelihara nilai-nilai kearifan lokal mendapat apresiasi positif dari publik. Salah satunya, pengembangan Hutan Lindung Desa di Gunung Eno. “Komunitas adat bersedia menyerahkan hutan komunal untuk dilindungi oleh masyarakat secara bersama-sama. Menariknya, air dari lima mata air yang ada di Gunung Eno tidak dinikmati langsung oleh warga Melapeh, tapi justru dikonsumsi oleh warga desa tetangga,” papar Arif Data Kusuma, Project Leader Program Hulu Mahakam WWF Indonesia, yang turut membina komunitas adat Dayak.
     
Damainya suasana Danau Aco di kaki Gunung Eno dan air terjun Tabalas disiapkan menjadi tujuan ekowisata baru dan bisa dilirik oleh para petualang yang ingin singgah ke Borneo. Meski perjalanan menuju desa wisata masih panjang, warga Melapeh optimistis dan siap menyambut para pelancong.
      
Perjalanan kali ini tampaknya menyisakan kenangan manis untuk kami. Tak hanya puas menikmati lukisan alam yang menawan di Borneo, ramahnya sambutan warga membuat saya yang tadinya merasa asing di tempat baru kini lebih nyaman, seperti kembali ke rumah. Pulang ke hangatnya pelukan ibu alam.



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?