Multi-tasking. Itu istilah keren yang sering kita dengar. Bahasa sederhananya: tugas rangkap. Tahukan Anda bahwa wanita dinilai lebih mampu memikul tugas dan tanggung jawab ganda dibanding pria?Ya, wanita terbiasa melakukan berbagai hal yang tidak terkait sama sekali. Lihat saja keseharian Anda. Di rumah, Anda seorang ibu rumah tangga. Pagi sudah harus berkutat dengan urusan sarapan keluarga, menu, dan belanja harian. Anda pun seorang istri dan ibu. Sebelum suami berangkat ke kantor dan anak pergi ke sekolah, Anda harus menyiapkan hal-hal kecil agar mereka bisa berangkat tepat waktu. Anda juga seorang anak atau menantu. Jadi, sementara sibuk dengan berbagai hal, mungkin sekali Anda harus menjawab telepon dari ibu atau ibu mertua yang minta dicarikan solusi untuk masalahnya.
Dalam satu pagi, berapa tugas yang Anda tangani? Bandingkan dengan suami Anda. Dia bersiap ke kantor, sarapan, membaca koran, lalu mengantar anak sambil ia sendiri pergi ke kantor. Oh, mungkin Anda pun wanita kantoran. Jadi, di samping ribetnya tugas Anda tadi, Anda juga masih harus memikirkan urusan kantor.
Memang, bagi wanita, kesibukan rangkap mungkin hal biasa. Hal ini juga kita observasi, pelajari, berlatih tanpa sadar saat kita tumbuh dan berkembang dewasa. Kita melihat dan mencontoh apa yang ibu kita dulu juga lakukan. Ditambah dengan keluwesan yang dimiliki wanita. Perpindahan dari satu hal ke hal lain juga terjadi tanpa beban psikologis berat. Smooth… dan multi-tasking pun bukan sesuatu yang sulit bagi wanita.
Perbedaan ini bisa dibilang menguntungkan wanita. Dalam situasi dunia kerja yang kompetitif, kebijakan cost-efficiency yang diterapkan kerap membuat sebuah perusahaan lebih memilih struktur SDM yang ‘ramping’ alias terbatas jumlahnya. Ini menyebabkan beberapa bidang tugas dan tanggung jawab dipercayakan kepada satu orang saja. (f)


