Sex & Relationship
Tidak Sehat, Bila....

28 Aug 2014


Tiap orang tentu ingin mendapatkan pasangan yang sempurna, sehat raga dan jiwa. Tetapi, tentu saja tidak semua keinginan itu bisa terkabul, bukan? Di sinilah perlu kepekaan kita untuk mengenali adakah hal yang tidak beres dalam hubungan cinta dengan pasangan. Memang cinta itu buta, tetapi jangan mau, karena dibutakan oleh cinta,  nyawa kita menjadi taruhannya.

Seperti yang diakui Elly Nagasaputra, M.K., psikolog, sepanjang pengalamannya menghadapi klien, mereka yang berpotensi menjadi ‘psikopat’ sebetulnya kelihatan normal-normal saja. “Mereka ramah, bisa diajak ngobrol dengan enak. Latar belakangnya juga bekerja seperti biasa, entah itu sebagai karyawan atau pemilik bisnis. Tetapi, begitu disentuh persoalannya dengan pasangannya, baru keluar kata-kata maupun ancaman, seperti mau menembak dengan pistol atau memepet mobil dengan truk,” cerita Elly.
Tapi, sebelum menilai apakah hubungan kita dengan pasangan itu tidak sehat dan mencari jalan keluar dari persoalan, yang pertama kali harus dimengerti adalah apa, sih, hubungan yang sehat itu?

“Hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat kita bisa berkembang menjadi a better person,” ujar Elly. Contoh sederhana, ketika Anda memiliki kekasih,  dengan alasan cinta, sayang, dan perhatian, maka Anda dilarang ke mana-mana sendiri. Atau, apa pun yang Anda lakukan harus atas seizin dia. Contoh lain, ada orang yang melarang-larang pasangannya berteman dengan pria. Atau, Anda adalah wanita yang memiliki passion untuk bekerja, lalu calon suami Anda mensyaratkan ketika menikah Anda harus di rumah, fokus  menjadi ibu rumah tangga saja.

“Tanpa mengecilkan peran sebagai ibu rumah tangga karena peran ini sangat berharga, tetapi persoalan di sini adalah Anda merasa berkembang dan passionate dengan berkarier di luar rumah. Nah, dengan pelarangan yang tanpa kompromi itu, apakah pasangan Anda membuat Anda bertumbuh?” tanya Elly. Karena, bisa diibaratkan, Anda pohon  bonsai,  yang tiap cabangnya tumbuh dipangkas habis.

Intinya, suami atau kekasih itu harusnya orang yang bisa membantu kita menjadi orang yang lebih baik. Tapi, menurut Elly, memang dalam  hal ini susah untuk menakar, apakah benar kita menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, setidaknya  kita perlu lebih meluangkan waktu untuk jujur dalam menilai diri sendiri. Misalnya, dari yang awalnya kurang pede kemudian menjadi wanita yang memiliki percaya diri yang cukup. Kalau sejak pacaran saja misalnya, sudah mengatur berteman dengan siapa, boleh keluar dengan siapa dan berbagai aturan lain, bisa-bisa jati diri kita akan hilang entah ke mana.

Diakui  Elly, sering kali kita ‘bandel’ untuk melihat hal-hal yang bisa menjadi penanda awal apakah kita saat ini bersama orang yang benar atau tidak. Apalagi bila masuk alasan-alasan yang sarat perasaan seperti, “Nanti kalau aku protes, aku bisa ditinggal. Kan, cari pacar itu tidak mudah.” Bayangkan, alasan-alasan ini akan makin  banyak untuk pasangan yang sudah menikah.

Parahnya, tak sedikit wanita yang lebih memilih mengabaikan hal itu, menganggap hal itu tidak pernah ada dan membiarkannya terjadi terus-menerus karena alasan yang ‘kurang logis’, misalnya takut untuk hidup sendirian, malu dengan keluarga, atau dengan orang lain. (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?