Sudah hampir enam bulan ini saya (30) dekat dengan X (32). Namun, harapan saya padanya pupus saat ia berkata hanya ingin berteman dengan saya dan belum ingin serius. Saya katakan bahwa saya ingin serius mencari pasangan hidup dan memutuskan untuk menjauh darinya. Ia menangis dan meminta saya jangan pergi. Saya takut terus digantung oleh ketidakpastian, namun di sisi lain, ada penyesalan karena ia pria yang sangat baik. Tepatkah keputusan saya? Mengapa ia begitu?
Riana - Jakarta
Menurut psikolog Irma Makarim, tak ada salah dan benar dalam alasan yang diberikan kedua belah pihak, karena memang tiap orang punya kebutuhan masing-masing. Apakah alasan ini bisa diterima atau tidak, dirasakan cukup fair atau tidak, semua berpulang pada pasangan itu.
Tepat atau tidak tepatnya keputusan yang telah Anda ambil, bisa Anda nilai dari apa yang kini Anda rasakan. Kalau Anda mulai merasakan adanya penyesalan karena menganggap bahwa X sebenarnya adalah calon yang baik bagi Anda, maka Anda tak perlu merasa sungkan untuk mengungkapkan dan memperbaiki keputusan Anda. Apalagi X terlihat begitu sedih dengan menyesali keputusan Anda untuk menjauhi dirinya. Anda bisa belajar untuk lebih baik berhati-hati dalam mengambil kesimpulan atau menghakimi kondisi pasangannya dan terutama dalam mengambil keputusan yang penting.
Kalau Anda sudah saling mengenal baik, biasanya Anda berdua mulai bisa merasakan arah dari hubungan ini. Perlu juga diingat, pribadi kedua belah pihak juga hubungan kasih yang dibina akan terus berkembang. Tak heran bila dalam perjalanannya nanti terjadi perubahan di sana-sini dalam hubungan kasih, sesuai dengan kebutuhan pasangan. Anda berdua bisa banyak belajar dengan saling mengenal kekurangan dan kelebihan, serta mengukur kemampuan diri masing-masing untuk bisa menerima kondisi pasangannya. Tidak mudah untuk benar-benar membangun kesiapan. Dalam masa pendekatan inilah tersedia kesempatan untuk mengukur dan mempersiapkan diri untuk melangkah lebih jauh.
Sedangkan menurut psikolog Monty Satiadarma, keputusan Anda sama sekali tidak salah, karena sesuai dengan kesiapan kedua belah pihak. Ia belum siap membina hubungan yang lebih erat dengan Anda, dan ia harus merelakan Anda untuk mencari jalan hidup yang lebih sesuai dengan niat dan keinginan Anda. Anda juga mengambil keputusan tegas untuk menempuh jalan hidup sesuai harapan dan keinginan Anda, dan tidak membiarkan diri terbelenggu oleh kebaikan sikapnya yang justru membawa ketidakpastian bagi diri Anda.
Anda tak harus menyesali keputusan, karena Anda justru tidak layak berkeputusan atas dasar mengasihani diri orang lain. Niat untuk hidup bersama bukan berada di atas landasan kasihan, melainkan di atas landasan tekad kebersamaan dan rasa saling percaya. Pada saat ini ia tidak atau belum memiliki tekad tersebut, dan benar bahwa Anda tidak bisa menggantungkan hidup Anda pada keputusan sikap orang lain. Anda harus menentukan sikap Anda sendiri dalam mengambil keputusan.(f)



