Anda termasuk orang yang tertutup dan tidak suka menceritakan kesedihan saya kepada orang lain, termasuk kekasih. Anda pun tidak senang mendengarkan keluh kesahnya. Bagi Anda, berpacaran itu untuk berbagi kesenangan, menjalankan kegiatan yang sama-sama kami sukai, dan berdiskusi tentang musik, film, atau masalah sosial-politik. Lama-lama, Anda merasa terganggu jika kekasih mendesak Anda cerita jika sedang merasa sedih.
Menurut Irma Makarim, tiap orang memiliki pribadi yang unik dan berbeda-beda. Anda tak perlu merasa itu sebagai masalah, jika Anda masih menikmati hidup Anda. Namun, jika Anda mulai tidak merasa bahagia dengan kondisi itu, mungkin Anda perlu mengevaluasi diri. Apakah Anda benar-benar merasa bahagai dan masih bisa menikmati hidup dengan menyimpan semua rasa duka sendiri.
Mungkin saat ini Anda belum bisa berbagi duka dan curhat kepada kekasih. Tetapi, orang bisa saja berubah, Anda pun bisa berubah. Bisa saja besok-besok Anda akan berbeda dari hari ini. Bila Anda belum nyaman curhat kepada kekasih, mungkin Anda bisa belajar curhat kepada teman dekat Anda.
Sebaliknya, Anda pun tidak perlu merasa terganggu bila teman atau kekasih curhat kepada Anda. Saat seseorang curhat, belum tentu ia meminta jalan keluar pada Anda. Kemungkinan ia hanya minta didengar, diterima, dan dipahami.
Meski Anda sangat mandiri, sesungguhnya ada makna lain saat Anda berbagi kesenangan atau meminta bantuan pada kekasih. Ini akan membuat kekasih merasa cukup berharga bagi Anda. Selain itu, memberi dan menerima akan menambah kehangatan hubungan dan memperkaya batin, serta membuat hidup Anda lebih bahagia.
Sedangkan menurut Monty, kecenderungan Anda hanya berbagi kesenangan merupakan bentuk penyangkalan dari realitas hidup Anda. Ada beberapa kemungkinan mengapa Anda merasa tidak ada gunanya berbagi duka dengan kekasih; Anda menganggapnya tidak akan bisa membantu mengatasi masalah, Anda tidak percaya kekasih bisa menyimpan rahasia duka Anda, Anda ingin menampilkan diri sebagai orang bahagia semata, atau Anda merasa mampu menanggulangi segala sesuatu sendiri. Kemungkinan mana pun yang membuat Anda bersikap demikian, lama-kelamaan akan makin membebani diri Anda.
Jika Anda merasa enggan berbagi karena merasa kekasih tidak akan bisa membantu, berarti Anda menyepelekan kemampuannya. Keengganan berbagi duka karena merasa bisa mengatasi segala hal sendirian, juga bisa jadi wujud arogansi kemampuan diri Anda.
Hal seperti itu lama-kelamaan akan membentuk kepalsuan sikap. Di mata orang lain, Anda tidak lagi tampil sebagai sosok yang tulus, sehingga lingkungan sosial Anda akan cenderung menjauh. Sebaiknya Anda lebih jujur dalam bersikap dan berbagi dengan orang lain.


