Trending Topic
Semua Bermula...

18 Sep 2015

Perjalanan majalah femina menjadi sahabat wanita Indonesia ditandai dengan terbitnya majalah bersampul seorang wanita bertangan 10 dan anaknya, pada tanggal 18 September 1972. Edisi newborn itu sudah menyajikan artikel tentang tren belajar membatik sebagai hobi, mode pakaian,  make up dari pagi hingga malam hari, trik pencahayaan dan warna untuk rumah, dan lainnya. 

“Seorang femina bertangan 10 ternjata sudah mengalami perkembangan hingga memerlukan 1000 tangan. Tjampur tangan wanita dalam perputaran hidup terasa di segala bidang, entah pada ilmu pengetahuan atau organisasi2 sosial politik.” Kutipan inilah yang tertulis (mentah-mentah) di pengantar redaksi edisi pertama itu. Sebagai gambaran bahwa dari dulu wanita memang mengemban multiperan. Hal yang tidak mudah. Dan, femina hadir untuk menemani dan membukakan jalan. 

Tentu, situasi dahulu jauh berbeda dengan sekarang. Kiprah wanita di ruang publik masih sangat jarang. Masih ada norma tertentu yang memosisikan wanita tidak berdaya. “Femina hadir untuk lebih memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan wanita serta memperbaiki kualitas hidup wanita itu sendiri. Bagaimana caranya? Ada petunjuk-petunjuk melalui rubrik femina untuk keluar dari lubang itu. Bagaimana dengan uang yang ada, kehidupan bisa lebih menarik. Memasak lebih enak, penampilan lebih cantik, dan busana lebih fashionable. Zaman dahulu belum ada ready to wear, itulah mengapa femina membuatkan mode pola,” tutur Mirta Kartohadiprodjo, salah seorang pendiri femina, bersama dengan Widarti Gunawan dan Atika Makarim.

Sebagai general service magazine, wajar jika berbagai informasi yang disajikan femina, merangsang keingintahuan pembaca lebih dalam lagi. Mengenai hal ini, Widarti mengatakan, di mata para pembaca, rasanya femina sudah dianggap seperti 'kamus' serba ada. Dari problem rumah tangga, di mana beli cetakan kue, sampai soal pola baju untuk dibawa ke tukang jahit, ditanyakan ke femina. 

Alhasil, redaksi femina yang masih berkantor di garasi kediaman Pia Alisjahbana di Jl. Sukabumi, Menteng, kebanjiran pertanyaan. Pada masa itu, tahun ’70-an, namanya Google belum lahir, apalagi media sosial. Hanya ada dua saluran komunikasi: telepon dan surat pos. “Dari situlah muncul ide untuk membuatkan acara untuk pembaca. Tujuan awalnya sebetulnya untuk memindahkan rubrik populer di femina menjadi pertemuan, karena ada kesempatan tanya jawab,” tutur Widarti.

Semua acara yang diadakan femina sekarang, sebetulnya embrionya sudah ada sejak dahulu. Hanya, dalam bentuk yang lebih sederhana. Jika sekarang ada istilah kopdar (kopi darat) komunitas, maka dulu istilahnya ajang temu muka dan keakraban dengan pembaca. Beberapa kali femina menggelar acara untuk pembaca.

Yang pertama adalah pada bulan April (awal tahun 1980-an). Sekaligus dalam rangka memperingati Hari Kartini, femina menggelar acara yang bertema etiket masa kini, bertempat di gedung Panti Trisula Perwari Menteng. “Memperingati jasa Kartini tidak hanya dengan mengenakan baju ala Kartini, tetapi bagaimana menangkap kebutuhan wanita pada suatu masa. Saat itu, yang sedang dibutuhkan adalah pendidikan tentang etiket. Wanita sudah mulai diajak mendampingi suami ke berbagai pertemuan,” cerita Widarti. 

Acara itulah yang kemudian menjadi cikal bakal seminar Kartini yang secara rutin diadakan femina tiap tahunnya. Topik dan pembicaranya selalu beragam. Acara selingannya bervariasi dari tahun ke tahun. Fashion show, demo kecantikan, sampai mini bazar yang menggelar aneka produk kreasi wanita.

Kini, setelah 43 tahun, tak terhitung sudah jenis acara yang pernah diadakan femina untuk berbagai komunitasnya. Ada yang masih bertahan hingga kini, ada juga yang sudah digantikan oleh acara yang lebih bernas. Tiap dekade bisa berbeda, namun tujuannya sama, semua untuk wanita. (f)

Ficky Yusrini


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?