Keputusan seorang ustaz tenar dari Bandung untuk berpoligami saat sedang di puncak popularitas membuat jutaan pengagumnya terguncang. Ustaz yang terkenal dengan dakwahnya yang ringan, lucu, dan sangat mengena di hati ini memang amat dicintai penggemarnya, jika kita tak ingin menyebut mereka sebagai pengikut. Apalagi materi dakwahnya banyak bercerita tentang manajemen cinta atau masalah rumah tangga yang biasa dihadapi fans-nya sehari-hari. Penggemar kecewa? Ya! Kekecewaan berjemaah ini tak hanya membuat si ustaz kehilangan banyak panggilan untuk tausiah. Para fans yang merasa terkhianati memilih sama sekali tidak mau berhubungan dengan segala hal yang berbau nama si ustaz yang sebelumnya terlihat sempurna. Akibatnya, penghasilan para karyawan di pesantrennya jauh berkurang. Kompleks pesantren yang tiap hari biasa dipenuhi para jemaah hingga berbus-bus, menjadi sepi.
Ingat sosok seorang pesohor yang dianggap sempurna, cantik, kaya raya, dan sukses dan menikah dengan pria yang mendampinginya sejak awal karier? Tak diduga, setelah 13 tahun menikah, biduk rumah tangga mereka pun karam. Saat itu sang diva dituduh menjadi pihak yang bersalah. Hingga kini, hukuman sosial yang diterima sang diva tak pernah surut. Apalagi di masa media sosial ini, di mana haters menjadi punya sarana untuk menghukumnya dengan kata-kata yang sangat judgemental. Apa pun yang ia lakukan, selalu terlihat salah. Hingga kini alasan mereka bercerai tetap jadi misteri.
Kedua contoh di atas, menurut psikolog Ratih Ibrahim, membuktikan bahwa masih banyak orang yang mengidolakan seseorang dengan membabi buta. “Mereka menganggap idolanya adalah orang yang sempurna. Padahal, ia hanya manusia biasa,” kata Ratih.
Sebenarnya, seseorang tampak sempurna karena persepsi yang dibuat oleh orang yang melihatnya. Kita membangun konsep figur orang itu, lalu menempelkan perasaan-perasaan kita berdasarkan pengalaman, kebutuhan, dan sebagainya, lalu kita klopkan dengan image yang ditampilkan orang tersebut. “Sehingga, cerita tentang orang itu menjadi hiperbola di mata kita. Flawless. Padahal, kita yang menjadikannya demikian. Akhirnya kita cinta kepada bayangan kita akan orang itu, bukan kepada dirinya,” Ratih menjelaskan.
Apalagi jika selama ini idola kita adalah sumber inspirasi, tempat kita berpegang dan memberi kekuatan pada kita untuk bekerja keras, setia kepada pekerjaan dan pengabdian kita. Bahkan, semua hal ideal di dirinya, kita jadikan bagian dari diri kita. Dan, ketika suatu saat tanpa sengaja kita berjumpa dengan kekurangannya, kita akan sakit hati, merasa sangat terluka. Karena mekanisme pertahanan diri akan kekaguman kita yang tidak tersalurkan dengan baik, kita malah berbalik membencinya luar biasa atau istilah sekarang, haters. (f)


