Trending Topic
Selektif Post Foto di Social Media

26 May 2015

Kebiasaan mengunggah foto anak di media sosial sebetulnya sah-sah saja. Akan tetapi, ada hal yang perlu dicermati dampaknya. Donny Budhi Utoyo, Direktur Eksekutif Indonesian Information Communication Technology Partnership Association (ICT Watch) & Penggiat Internet Sehat menjelaskan, foto balita sedang mandi mungkin dianggap lucu dan membuat tersenyum. Namun, di dunia online, ada jenis orang yang punya kecenderungan pedofilia, foto tersebut bisa menimbulkan masalah. “Bisa-bisa anak Anda menjadi target mereka,” jelas Donny, yang pernah ikut terlibat tim kepolisian dalam memecahkan kasus pedofil di Surabaya, tahun 2013 lalu.

Menurut Donny, media sosial memang didesain untuk bersifat terbuka dan sebagai ajang eksistensi. Semua orang bisa bertukar informasi dan data, juga untuk membangun jaringan. Oleh karenanya, masing-masing media sosial dilengkapi dengan pengaturan privasi, yang disesuaikan dengan keinginan pengguna. “Sayangnya, masyarakat Indonesia belum banyak yang mau mempelajari pengaturan privasi dan sadar untuk melindungi data pribadi,” jelas Donny. Untuk post yang sifatnya pribadi, ada pengaturan setting, yang dapat menyaring  siapa saja yang dapat melihat foto-foto kita.    

Apa yang harus dicermati ketika akan mengikutkan foto anak di sebuah lomba di internet? Hal yang pertama kali dilakukan orang tua adalah mencari tahu siapa penyelenggara lomba tersebut.  “Bukan bicara platform. Lomba lewat Facebook belum tentu lebih kredibel dibandingkan lewat media cetak, lewat domain dot com juga belum tentu lebih kredibel dari dot id, semua belum tentu aman,” jelas Donny.

Saran Donny, orang tua harus mengecek kolom ‘about us’ atau ‘tentang’ di suatu website dan menelusuri lebih lanjut  nomor kontak dan alamatnya. “Memang sedikit ribet untuk meluangkan waktu 5-10 menit, tapi lebih aman ketimbang orang tua melewatkannya dan menyesal kalau lomba tersebut ternyata abal-abal,” jelas Donny.

Orang tua juga perlu memahami terms and conditions (syarat dan ketentuan) ketika akan mengunggah foto di media sosial, baik untuk koleksi pribadi maupun lomba. Perlu dibaca terlebih dahulu tentang data privasi, sharing konten dan informasi, keamanan, hingga melindungi hak-hak orang lain.

Kembali ke masalah lomba, memastikan penyelenggara yang kredibel bukan berarti berburuk sangka, karena ini menyangkut keselamatan anak. “Sekarang ini percaya saja tidak cukup, sebisa mungkin ada perjanjian tertulis. Penyelenggara harus bisa menjamin semua data dan foto peserta yang dikirim aman. Jika orang tua ternyata  keberatan, ia bisa menarik data dan foto yang sudah dikirim, dan dihilangkan dari server mereka,” jelas Donny.

“Saat ini, memang banyak lomba foto anak di media sosial. Orang tua harus menyeleksi medianya terlebih dulu, dengan cara googling, untuk mendapatkan gambaran siapa penyelenggara lomba tersebut. Kalau sudah jelas kredibel, barulah mengirimkan foto anaknya,” jelas Nessi Purnomo, psikolog.

Paling mengkhawatirkan, beberapa lomba mensyaratkan ada beberapa pose, misalnya sedang bermain, tersenyum, berdandan, sampai anak sedang mandi menggunakan sampo atau sabun tertentu.  “Untuk persyaratan yang tampak tak wajar, sebaiknya orang tua berpikir ulang. Kalau merasa ragu, lebih baik jangan ikut. Kalau penyelenggara meminta foto anak balita yang sedang mandi,  laki-laki maupun perempuan, sebaiknya jangan,” ujar Donny. (f)


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?