Khairiyyah Sari, konsultan mode, juga melihat masih banyak kesalahkaprahan dalam berbusana. “Selama menjadi konsultan dalam berbagai pelatihan, saya menemukan masih banyak yang kurang paham dalam aturan-aturan dasar berbusana yang tepat. Bukan hanya yang berjilbab, yang tidak berjilbab juga masih banyak yang clueless,” ujarnya. Contoh paling gampang adalah mengenakan baju berbahan satin atau velvet untuk acara siang hari. Atau, seorang wanita eksekutif perusahaan yang mengenakan mini cocktail dress untuk ke kantor. Karena itu, ia bisa memahami bila wanita yang mengenakan jilbab masih banyak yang salah dalam berbusana.
“Untuk wanita berjilbab, bukan hanya harus paham bagaimana memilih baju, tapi juga memilih kerudung yang sesuai. Layaknya rambut bagi wanita, kerudung menjadi fokus utama yang akan diperhatikan orang karena kerudung membingkai wajah,” lanjutnya.
Karena itu, pemilihan bahan, warna kerudung, dan styling sangat krusial di sini. Terlalu heboh dalam styling kerudung bisa-bisa mengalihkan perhatian orang lain dari wajah Anda. Apalagi, bila ternyata styling-nya tidak sesuai dengan bentuk wajah.
Aju Isni Karim, desainer dan pemilik Up2date, brand yang mengusung busana islami, sepakat, memang tidak semua orang sudah melek fashion. “Mungkin uang ada, tapi karena tidak didukung pengetahuan dasar tentang fashion, yang terjadi, apa pun yang ada di pasaran, ayo saja dibeli. Apalagi bila yang memakai model itu adalah artis atau selebritas cantik, maka ok saja,” ujarnya.
Memang, menurut Isni, kalau bicara aturan baku berbusana sesuai ajaran Islam adalah tertutup, tidak membentuk siluet tubuh dan tidak transparan. “Dalam bahasa sekarang bisa digolongkan sebagai baju sopan atau modest wear. Tetapi, orang kan bisa menerjemahkan aturan baku tadi secara berbeda-beda dan menurut saya ini adalah salah satu bentuk proses yang sangat dihargai dalam Islam,” ujarnya.
Meski begitu, Sonny Muchlison, fashion consultant dan dosen IKJ, menyebutkan, walau ada aturan baku itu, ada baiknya pakem dasar fashion tetap dipakai. Di sinilah dibutuhkan pengetahuan dan kreativitas desainer baju-baju muslim untuk menciptakan formula yang selaras antara aturan agama dan aturan fashion. “Dan yang pasti, jangan pernah antikritik,” katanya. (f)


