Food Review
Revolusi Martabak Manis

21 Feb 2014

Semua tengah berlomba untuk mencoba Martabak Toblerone. Trending topic yang mudah dilihat di linimasa akun-akun media sosial Martabak 65A Pecenongan, berbarengan dengan Martabak Nuttela. Fenomenal bagaimana martabak legendaris ini menciptakan greget, memasuki lifestyle kuliner kalangan urban.
   
Inovasi diawali dari Danniel Jusuf Sutikno, sang generasi kedua, yang mencincang cokelat Toblerone kegemarannya sebagai isi martabak. “Ada pelanggan yang tak sengaja menyaksikannya, dan beberapa akhirnya keterusan membawa sendiri Toblerone untuk diolah sebagai isi martabak,” cerita Daniel. Untuk ini, mereka cukup membayar harga ‘martabak polos’. Danniel pun bereksperimen ke chocolate bar lain, dan menganggap Toblerone paling pas karena tak mudah lumer.

Dia lalu sigap memunggah foto seorang aktor yang tengah memesan martabak ini. Aktor dengan ratusan ribu follower di Twitter yang akhinya me-like foto di Instagram   martabak dan mem-follow Twitter @martabak65a. Efek berantai media sosial membuat akun Instagram martabak yang semula 117 meroket ke 600-an dalam sehari, dan kini di atas 6.000-an.

“Salah satu teknik marketing, yakni ‘menempel’ pada sesuatu yang terkenal, rupanya berhasil,” sambung lulusan ilmu desain komunikasi visual ini.
Martabak Nutella sedang kejar-kejaran jumlah penggemar dengan Martabak Toblerone. Jika tak ingin terlalu legit, tiadakan olesan menteganya. Martabak isi selai Skippy juga ada, walau belum menjadi bestseller. “Ketimbang kacang, lebih banyak publik yang senang rasa cokelat, bukan?”  ujarnya lagi.

Strategi membaca perilaku konsumen, bersama dengan logo baru dan kemasan food grade adalah bentuk penyempurnaan terhadap usaha yang dimulai ayahnya semasa Pecenongan masih merupakan daerah rawa itu. Danniel juga belum tertarik menambah outlet dalam bentuk kaki lima, karena akan mengurangi ‘kesakralan’ ciri khas kaki lima di sini.

Tanpa gebrakan ini pun mereka tak surut penggemar. Masih ada wajan martabak tua, dengan besi yang sudah memuai puluhan tahun, menghasilkan martabak dengan kematangan yang pas. Tanpa banyak pendompleng sadari, sensasi variasi isi justru sekadar ‘figuran’ pada bintang utamanya, yakni adonan martabak yang sangat harum mentega dan lembut (yang tentunya sulit ditiru). Resep asli yang dipegang para koki yang bekerja sejak tahun ’80-an. Tanpa utak-atik bahan, meski taruhannya adalah harga yang tak turun meskipun krismon. Hal yang justru menciptakan pasar premium tersendiri. (f)
    
Alamat: JL. Pecenongan Raya No.65A, Jakarta Pusat.
Telp: 021- 3504081/ 021-92165888.
Pre order: 021-99154997/ 081932663690 
Jam buka: 18.00-24.00 WIB. 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?