Trending Topic
Relawan Bersih-bersih

22 Oct 2015

Isu sampah di perkotaan sudah lama disadari, meski belum terlihat solusinya.  Namun  belakangan, yang lebih memprihatinkan, keberadaan menumpuknya sampah di puncak-puncak gunung, tepian pantai, ataupun danau. Alam kita yang indah seakan terkoyak oleh gunungan sampah. Makin indah suatu tempat,  makin ramai pengunjungnya,  makin membanjir pula sampahnya. Berikut ini adalah kisah beberapa komunitas yang dengan kesadaran diri memungut sampah atas nama idealisme mereka mencintai alam.    

Annette Horschmann
, wanita asal Jerman, sejak tahun 2005 memulai membersihkan sampah dan eceng gondok di sekitar Danau Toba. Ia melihat sampah plastik menumpuk di tepian danau, eceng gondok  makin meluas dan menutupi keindahan danau.
“Awalnya, inisatif ini karena kepentingan pribadi saya, karena saya memiliki hotel di sekitar Tuktuk, Pulau Samosir, Danau Toba. Saya ingin menyuguhkan pemandangan Danau Toba yang biru dan bersih pada tamu-tamu yang menginap di hotel saya,” ungkap wanita yang kini bermarga Siallagan karena menikah dengan pria Toba ini.

Annette mengaku turun sendiri mengangkat eceng gondok itu. Meski banyak warga sekitar yang meremehkan tindakannya memunguti sampah dan eceng gondok, ia bersama suaminya tetap melakukannya  tiap hari. Ia kemudian mengolah eceng gondok menjadi pupuk kompos. Pupuk ini ia pakai untuk menyuburkan tanaman jagung dan sayuran di kebunnya.

Kini, lebih dari 10 tahun usahanya mulai terlihat, banyak warga sekitar yang mulai mengikuti jejaknya. Danau Toba pun kian bersih dan menarik banyak wisatawan mancanegara. Kisah inspiratif Annette lantas ditayangkan di acara televisi.
Salah satu penonton yang tersentuh setelah melihat tayangan tentang Annette adalah  Ragil Budi Wibowo (28), Founder Trashbag Community, Jakarta. Ia mengaku, sebagai seorang pendaki aktif, wajar bila ia sering menemukan gunung-gunung yang sangat kotor.

Tiga bulan setelah menonton acara itu, yakni pada November 2011, dengan inisiatif sendiri, ia mendirikan sebuah perkumpulan bernama Trashbag Community. “Melalui gerakan ini, kami ingin mengubah perilaku pendaki, memahami manajemen dan etika pendakian. Kami ingin  tiap orang timbul kecintaannya pada alam. Tiap orang yang tahu gerakan ini, akan berbagi kepada orang lain,” ujar Ragil.

Empat tahun setelah terbentuk, anggota aktif komunitasnya sudah mencapai 1.000 orang, sedangkan simpatisan mencapai 2.000 orang. Mereka semua adalah pehobi naik gunung yang tersebar di beberapa wilayah di seluruh Indonesia.

Menurut Ragil, perkumpulan ini dibentuk karena kekhawatirannya pada kondisi gunung yang makin kotor oleh sampah-sampah yang dibuang dan sengaja ditinggal oleh para pendaki.

“Ini menandakan bahwa dari pihak pemerintah tidak ada yang mengurus. Bila makin dibiarkan, di masa yang akan datang gunung akan mengalami kerusakan, hewan pengurai akan mati, dan berkurangnya kualitas air yang menjadi sumber kehidupan manusia,” ujarnya.  

Selain Ragil, kekhawatiran serupa juga dirasakan Abdul Kodir (43), penggagas Komunitas Ciliwung, Condet, Jakarta. Makin banyaknya sampah plastik dan kerusakan Ciliwung yang parah, melatarbelakangi Abdul membentuk komunitas Ciliwung pada tahun 2000. Menurutnya, semua hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia dapat terlihat dari sungai. Makin kotor sungai, maka itu menandakan  makin tidak baiknya kelakuan manusia.

Saat ini, tingkat pencemaran air oleh sampah cukup tinggi. Abdul bercerita, kala orang-orang datang ke area Komunitas Ciliwung, Condet, ia selalu melemparkan pertanyaan, apa yang kalian lihat di sungai? Dan, 95% menjawab sampah! “Padahal, di sungai ada peradaban, keanekaragaman hayati, dan ilmu pengetahuan. Manusia identik dengan air, dan air ada di sungai,” ungkapnya, prihatin. (f) 

Daria Rani Gumulya, Desiyusman Mendrofa






 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?