Trending Topic
Rasa Jakarta di Mana-mana

7 Sep 2015

Disebutkan oleh Arie Sujito,  sosiolog dari Universitas Gajah Mada, Jakarta menjadi kiblat gaya hidup orang daerah (terutama anak muda) karena perkembangan pesat ekonomi dan teknologi informasi global yang melahirkan gejala. Di satu sisi terjadi diversifikasi, namun di sisi lain juga muncul tren untuk meniru (replikasi) gaya hidup.

Pesatnya Jakarta dalam pembangunan memang menciptakan gejala relasi pusat-daerah. Apalagi selama Orde Baru, secara politik ekonomi, Jakarta memang menjadi pusat proses pembangunan dan perputaran uang. “Jakarta akhirnya menjadi pusat rujukan, baik itu model dan orientasi pembangunan maupun gaya hidup,” tutur Arie.

Bila melihat ke belakang, ada peran besar Orde Baru dalam membuat Jakarta menjadi pusat segala-galanya di Indonesia. Peneliti dari Markplus Inc, Taufik, dalam bukunya Rising Middle Class in Indonesia (2012) menuliskan bahwa kebijakan ekonomi yang dilakukan Presiden Soeharto di bidang perbankan pada tahun ‘80-an (kebijakan untuk izin operasional berbagai bank swasta nasional) mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis. Pada tahun ‘80-an itu pula mulai diizinkan munculnya iklan di layar kaca setelah sebelumnya sempat dilarang oleh pemerintahan Soeharto.

Diterangkan oleh Taufik dalam bukunya, efek negatif dari berbagai perkembangan baru itu adalah pada akhir tahun ‘80-an  semua sumber  daya yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia seperti tersedot masuk Jakarta. Perputaran uang pun  makin terkonsentrasi di Jakarta. Hal itu mengakibatkan Indonesia yang merupakan kumpulan dari 17.000 pulau dengan penduduk ratusan juta tak ubahnya seperti Jakarta dan sisanya.
Meski kini sudah ada kebijakan otonomi daerah, ketika daerah memiliki wewenang untuk mengatur dirinya sendiri dan ada alokasi dana dari pusat ke daerah, toh, menurut Arie, rujukan masih tetap ke Jakarta. “Monopoli kuasa di bidang politik dan ekonomi ini juga merembes ke bidang-bidang lain, termasuk soal gaya hidup,” jelasnya.
   
Lalu, siapakah agen yang bertanggung jawab menyebarkan gaya hidup Jakarta ini ke berbagai penjuru Indonesia? Tak lain dan tak bukan adalah media massa.“Industri media memang tumbuh di kota besar dan media-media besar di Indonesia yang edar secara nasional semua berpusat di Jakarta. Akhirnya, apa pun yang muncul di media, akan menjadi rujukan perkembangan budaya, mode, dan life style di seluruh tanah air,” kata Anastasia, yang akrab disapa Anastasia Yuni Widyaningrum, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Soal peran media ini, Arie sependapat dengan Anas. Lebih jauh, Arie menyoroti tentang korporasi media televisi (dan secara umum media informasi) yang menjadi faktor yang ‘menghegemoni’ masyarakat. Selain itu, ada pula dampak internet, termasuk media sosial, yang juga begitu besar memengaruhi perubahan sosial di masyarakat.

“Tayangan-tayangan di televisi yang berisi gaya hidup atau kegiatan artifisial yang diproduksi atau bersumber dari Jakarta kemudian dipasarkan melalui media massa dan diserap oleh masyarakat daerah,” katanya. Memang, tidak semua bisa dipengaruhi oleh tayangan-tayangan itu, tapi menurut Arie, rata-rata iklan dan menu-menu acara media merepresentasikan kepentingan Jakarta, kemudian dipropagandakan secara besar-besaran agar dikonsumsi masyarakat luas.

Yang menjadi masalah, bila yang disajikan oleh media,  khususnya layar kaca, adalah hal-hal yang sangat permukaan.  Apalagi bila merujuk pada rating acara, program-program yang memiliki rating tinggi itu justru program acara yang oleh banyak pihak dinilai sangat artifisial. “Sinetron misalnya, yang merupakan program unggulan banyak stasiun televisi swasta. Saya yakin  Jakarta  merupakan tempat percampuran banyak budaya. Tetapi, yang diangkat oleh televisi kebanyakan adalah budaya Betawi. Jadi, tidak heran kan kalau istilah-istilah Betawi pun dikenal di pelosok Trenggalek, misalnya,” ujar Anas.

Program lain yang juga menjadi sorotan Anas adalah infotainment, yang merupakan program favorit banyak pihak: penonton, stasiun televisi, maupun pengiklan. “Apa yang kita dapatkan dari infotainment? Kebanyakan adalah berita-berita sirik, marah, selingkuh, dan pamer gaya hidup selebritas yang glamor, seperti rumah mewah, shopping, atau naik turun mobil mewah,” tambah Anas, sambil mengatakan bahwa orang daerah pun akhirnya menonton apa yang ada di ‘panggung’ itu, yaitu apa yang disajikan media massa.

Yoseptin Pratiwi




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?