Es batu baru benar-benar jadi bagian negeri ini pada tahun 1860, saat muncul iklan penemuan dan penjualan mesin es. Pengaruh dari iklan tersebut pada tahun 1870 adalah berdirinya Petojo Ijs di perempatan ‘pinggir di Ci Liwung’, kini ujung timur Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat.
Sebagai pemasok utama es batu, pabrik es Petojo menduduki tempat penting dalam kehidupan kota Betawi. Peta Topographisch Bureau 1903 misalnya, memasukkan Petojo Ijs dalam legenda bersama kantor gubernemen lain, seperti Kantor Pos dan Telegraf, Kantor Pekerjaan Umum, dan Departemen Angkatan Laut.
Petojo Ijs, pabrik es pertama di Betawi sekaligus di Indonesia, memang dibangun orang Belanda. Tapi, peluang bisnis es balok di Indonesia kemudian ditangkap kalangan Tionghoa. Salah satu pelopornya adalah Kwa Wan Hong, pengusaha kelahiran Semarang tahun 1861. Ayahnya yang lahir di Tiongkok pernah menjadi sekretaris wali kota.
Wan Hong mulanya menekuni usaha kayu, lalu beralih ke kapur. Pada tahun 1895, ia melakukan perluasan usaha dengan mendirikan pabrik es pertama, N.V. Ijs Fabriek Hoo Hien, di kota kelahirannya. Untuk mendukung pabrik esnya itu, Agustus 1910 ia juga membangun pabrik limun.
Wan Hong mengembangkan usaha dengan membangun 3 pabrik es di Semarang (1910), Tegal (1911), dan Pekalongan (1911). Karena besarnya minat pembeli, dia membangun dua pabrik lagi di Surabaya pada tahun 1924 dan 1926. Dua tahun kemudian, Wan Hong pindah dan menetap di Jakarta, membangun pabrik es di Jalan Prinsenlaan (Mangga Besar) dan Rawa Bening di Meester Cornelis, Jatinegara. Tahun 1930, dia mengakuisisi pabrik es Soen Sing Hien di Sumedang, Jawa Barat.
Kehadiran pabrik es tersebut merangsang masyarakat untuk membuka bisnis ecerannya. Puluhan orang tampil sebagai agen penyalur produk pabrik. Di tempat-tempat tertentu dan di sudut-sudut pasar orang membangun depot es berupa kotak besar ukuran 2x2x2 meter, berbahan papan yang bagian luarnya dilapisi lembaran seng. Di situ pasokan es balok dari pabrik disimpan sebelum disalurkan kepada pembeli. Hingga kini depot es tradisional masih digunakan di banyak daerah di Indonesia.




