Sex & Relationship
Pernikahan yang hambar

24 Jun 2012


Tentu menjadi problem besar bagi pasangan yang sudah lama menikah dan belum dikaruniai anak apalagi bila suami sangat ingin segera memiliki anak. Anda dan suami sudah mengusahakan pengobatan medis ke berbagai tempat dan mencoba bayi tabung, namun belum berhasil.
Bahkan mungkin Anda sampai mengadopsi anak agar hubungan Anda berdua kembali harmonis dengan kehadiran seorang anak. Namun, tetap saja tidak berhasil. Anda merasakan tekanan dalam kehidupan pernikahan, terasa hambar dan ada ketakutan akan berujung pada perceraian.


Menurut Konsultan Monty Satiadarma, Tidak ada salahnya Anda berharap, tetapi akan lebih baik jika Anda menerima realitas yang ada, meskipun  itu tidak sesuai dengan harapan Anda. Boleh jadi suami belum bisa menerima kenyataan atas hambatan kehamilan Anda, tetapi mudah-mudahan Anda bisa menerima keterbatasan Anda, termasuk keinginan suami yang  tak bisa Anda penuhi.

Namun, dari pengalaman Anda yang layak disyukuri adalah Anda mampu mengadopsi anak, memberikan dan berbagi kasih sayang kepada orang lain yang membutuhkan. "Pertimbangkanlah akan adanya kemungkinan bahwa alam memang menghendaki kondisi hidup Anda demikian. Bersyukurlah atas pertimbangan semesta alam yang sering kali memang lebih bijak daripada pertimbangan manusia," ungkap Monty.

Monty menambahkan bahwa tentu saja kita boleh terus berharap dan berdoa tak putus-putusnya, tapi bukankah kita lebih baik berdoa untuk memperoleh yang terbaik yang bisa kita laksanakan dalam menjalani kehidupan?  "Sering kali justru kita sudah beroleh yang terbaik bagi kita, namun tidak kita rasakan. Seolah, harapan kita yang terbaik, padahal belum tentu demikian," ujarnya.

Sedangkan menurut Konsultan Irma Makarim, salah satu usaha adalah mendapatkan pertolongan profesional. Perlu dipahami bahwa pengobatan untuk infertilitas dirasakan cukup berat oleh yang bersangkutan. Mereka  harus menjalani berbagai tindakan dan menerima banyak pengobatan dengan hormon.

"Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga emosional sehingga bisa cukup mengganggu kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi, bagi pasangan yang pikirannya terfokus untuk mempunyai anak, setiap kegagalan akan menimbulkan perasaan tidak berdaya, kemarahan, dan kekecewaan berat. Kondisi ini perlu disadari oleh kedua belah pihak. Karena, bila tidak berhati-hati, krisis yang berkepanjangan ini akan memengaruhi bahkan merusak hubungan Anda berdua," jelas Irma.

Dalam kondisi seperti ini,  hubungan di antara pasangan perlu diperkuat dengan meningkatkan komunikasi. Bicarakan semua kendala dengan tegar. Bicarakan juga segala kemungkinan yang ada untuk bersama-sama mencari jalan keluar. Mengadopsi anak adalah salah satu jalan keluar yang telah Anda berdua lakukan. Mungkin Anda bisa membantu menyadarkan suami untuk bisa menghargai kehadiran anak ini.

Perlu diwaspadai pula hubungan intim yang tidak lagi diwarnai cinta dan kehangatan. Ketika semua perhatian hanya tercurah pada keinginan untuk mempunyai anak, maka cinta kasih yang tak lagi bisa dirasakan bisa membuat hubungan perkawinan menjadi hambar.

"Ingatlah bahwa Anda berdua menikah karena saling mencintai dan ingin berbagi kehidupan. Jangan sampai keinginan untuk mempunyai anak sampai merusak cinta, hubungan, dan perkawinan Anda berdua," tutur Irma.


 



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?