Sex & Relationship
Merindukan Figur Ayah

30 Dec 2014


Saya besar tanpa kasih sayang seorang ayah. Semenjak bercerai, saat saya balita, ibu tak pernah menikah lagi. Ketika besar dan mulai tertarik dengan lawan jenis, saya merasa lebih tertarik dengan pria yang sepantasnya menjadi ayah saya. Saat ini saya dekat dengan dosen saya yang sudah duda dan punya 3 anak. Saya merasa mendapat perlindungan dan kasih sayang ayah yang saya rindukan. Namun, statusnya sebagai dosen dan berusia 25 tahun lebih tua membuat saya bingung. Di satu sisi saya merasa nyaman bersamanya, di sisi lain saya merasa tak pantas berpacaran dengannya.

Bella- Jakarta

Menurut psikolog Irma Makarim, pada umumnya seseorang akan jatuh cinta atau tertarik pada pasangannya karena berbagai alasan tertentu. Sesuai dengan apa yang dibutuhkan, maka sesorang akan tertarik pada berbagai  kualitas  pribadi pasangannya, sikap tanggung jawab, usia, kematangan serta kemapanan pekerjaan dan keuangan.
Bagi Anda yang tumbuh dan berkembang tanpa kehadiran seorang ayah, kadang ada kecenderungan untuk tertarik pada sesorang yang bisa mengisi kekosongan ini. Tidak heran bila Anda tertarik pada figur pria yang bisa menjadi ayah Anda. Tetapi ada beberapa hal yang penting Anda perhatikan dalam hubungan ini.
Ada kejanggalan disini, mengingat statusnya sebagai dosen Anda. Sepatutnya beliau mengetahui adanya aturan atau batasan dalam hubungan dosen dengan muridnya. Pada dasarnya tidak dibenarkan bagi seorang dosen untuk berkencan dengan muridnya. Bila ini terjadi, berarti beliau sudah melanggar etika. Ini bukan sikap melindungi tetapi lebih memanfaatkan keluguan Anda.     
Selain itu, adanya perbedaan usia yang sangat mencolok juga perlu diperhatikan. Setiap orang tentu mempunyai aktivitas, hobi, dan gairah hidup serta proritas sesuai dengan usia masing masing.. Anda tentunya juga ingin bergaul, berkomunikasi, berbagi pengalaman dan jalan bersama dengan teman sebaya, yang juga punya kehidupan mirip dengan Anda.  Demikian juga dengan ia yang mungkin menginginkan gaya hidup yang lebih serius dan matang dan berkomunikasi dengan lingkungan yang sesuai usia.
Adanya perbedaan usia yang begitu mencolok mungkin bisa menjadi kendala. Bisakah Anda menyesuaikan diri dengan teman teman pasangan Anda yang jauh lebih tua dan sebaliknya beliau menyesuaikan dengan pergaulan Anda ? Atau, mungkinkah Anda berdua memberikan kebebasan bagi masing masing pihak untuk menjalani kehidupan sesuai dengan kebutuhannya. Bagaimanapun, Anda perlu menyadari bahwa tujuan Anda adalah  membina hubungan kasih, dan disini tentunya Anda membutuhkan  pasangan hidup yang seimbang, bukan pengganti figur ayah.

Sedangkan menurut psikolog Monty Satiadarma, cinta tumbuh tidak mengenal batas usia, tetapi hubungan kasih sayang antar pasangan tidak semata-mata dilandasi gejolak kebutuhan sesaat. Kerinduan akan sosok ayah membuat Anda mencari figur yang jauh lebih dewasa untuk mendapatkan rasa aman. Namun, pola hubungan antar pasangan tidak serta merta dilandasi aspek emosi semata, melainkan juga perlu dipertimbangkan atas dasar logika rasional.
Perbedaan usia yang cukup lebar disertai keberadaan anak-anak nya yang hampir seusia Anda akan membuka peluang kompetisi di dalam keluarga. Pertama, anak-anaknya boleh jadi melihat diri Anda sebagai kompetitior dalam memperoleh kasih sayang dari ayahnya. Kedua, anak-anaknya bisa jadi meragukan Anda yang sebaya mampu mengambil alih peran sebagai ibu untuk mereka. Ketiga, Anda harus dapat membedakan kebutuhan terayomi dengan kebutuhan berbagi dalam hubungan pasangan.
Amat boleh jadi rasa tertarik Anda dengannya lebih cenderung dilandasi oleh perasaan terayomi, terlindungi oleh seseorang yang jauh lebih tua dan dewasa. Padahal kehidupan pasangan selayaknya juga dilandasi oleh keinginan berbagi atas dasar kesetaraan. Jika sekiranya hal ini bisa terlaksana, bersyukurlah.  Akan tetapi tidak mudah memperoleh rasa kesetaraan manakala ada kesenjangan usia yang relatif amat lebar.  Akhirnya kebijakan Anda sendirilah yang menjadi kuncinya; Anda harus bersikap dewasa, setara dengan dirinya, dalam mempertimbangkan keputusan Anda.(f)





 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?