Trending Topic
Merayakan Literasi

31 Oct 2015


Mengambil tema, ’17,000 Islands of Imagination’, Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) kembali digelar tanggal 28 Oktober – 1 November. Festival berskala internasional yang telah diadakan secara regular sejak tahun 2003 ini telah menjadi daya tarik bagi puluhan ribu pencinta literatur, dari 25 negara.  

Tahun ini, festival yang berlangsung 5 hari, menggelar lebih dari 85 acara, berupa panel diskusi, makan siang sastra, workshop penulisan dan seni, pembacaan puisi, launching buku, maupun tur sastra dan kuliner. 
Highlight pembicara yang hadir di UWRF kali ini, antara lain, pemenang Pulitzer Prize Michael Chabon, penulis buku I am Malala Christina Lamb, founders Lonely Planet Tony dan Maureen Wheeler, serta penulis novel asal Pakistan yang karyanya sudah diangkat ke layar lebar The Reluctant Fundamentalist Mohsin Hamid. Ada pula, novelis yang karyanya masuk nominasi sastra paling bergengsi Man Booker Prize untuk novel berjudul The Fishermen Chigozie Obioma, pemenang Miles Franklin Award 2015 Sofie Laguna, dan pemenang Stella Prize, Emily Bitto, dan banyak lagi lainnya.  

 Dari Indonesia, Eka Kurniawan, Seno Gumira Ajidarma, dan Ayu Utami, menjadi tamu yang cukup ditunggu. “UWRF menjadi platform untuk menyuarakan voice dari kalangan, ajang berbagi pengalaman serta passion untuk berbagi cerita kepada seluruh dunia,” tutur Janet DeNeefe, pendiri UWRF.

"Sembilan tahun lalu, saya ikut serta di festival ini membaca cerpen saya. Sekarang, saya memilih para penulis baru yang akan diundang ke sini," tutur Eka Kurniawan, yang didapuk menjadi kurator untuk Young Writers dari Indonesia, untuk diundang ke UWRF. Eka yang belum lama kembali tur buku di Amerika dan Eropa untuk karyanya yang diterjemahkan ke bahasa asing, juga mengatakan," Rasanya aneh, tiba-tiba saya harus membicarakan kembali buku yang saya tulis 13 tahun yang lalu. Tapi ini sebuah angin segar bahwa sekarang karya dari Indonesia makin terbuka ke pentas internasional. Orang sekarang sudah semakin ingin tahu tentang lteratur dari Indonesia," ujar Eka. 

Satu hal yang cukup disayangkan, baru kali ini UWRF berlangsung di bawah pengawasan ketat pihak keamanan. Hal ini terkait dengan adanya beberapa acara yang mengangkat tema kekejaman yang terjadi di tahun 1965. Berupa panel diskusi, pameran foto para wanita korban 1965 The Act of Living, pemutaran film Joshua Oppenheimer The Look of Silence, serta launching buku berjudul The Crocodile Hole dan Bali 1964-1999.

“Saya merasa sudah waktunya orang Indonesia mengharapkan terwujudnya rekonsiliasi dan pengakuan akan telah terjadinya pelanggaran HAM pada peristiwa yang disebut sebagai salah satu pembunuhan massal terburuk di abad 20. Tentu hal ini sangat mengecewakan. Dengan semangat kebebasan berekspresi yang muncul selama beberapa tahun belakangan ini, banyak buku-buku yang mengangkat tema 65 diterbitkan, diskusi-diskusi digelar. Pintu itu perlahan-lahan telah terbuka, tapi kenapa sekarang seperti ada kemunduran,” sesal Janet.

Tahun ini, femina -dalam hal ini komunitas Writers Club Femina- berpartisipasi menjadi pengisi panel, dalam Youth Program, bertema Writing on The Road, sebuah workshop travel writing untuk mereka yang berusia 17-25 tahun, yang berlangsung tanggal 29 Oktober di Jl. Raya Sanggingan, Ubud.

Meskipun terjadi pembatalan beberapa acara terkait topik 1965, hal ini tidak menyurutkan antusiasme mereka yang sudah menyempatkan hadir ke festival ini. “Di satu sisi, kami menggaungkan festival ini sebagai platform kebebasan berkreativitas, menulis, dan ekspresi seni. Namun, di sisi lain, ada banyak orang yang akan terpengaruh kalau sampai festival ini tidak bisa berjalan sama sekali. Pesta  literatur tetap berlangsung,” tutur Janet.

Ficky Yusrini



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?